Uji Coba Biodiesel B50 Dimulai, Manfaatnya untuk Energi Nasional?

Uji Coba Biodiesel B50 Dimulai, Manfaatnya untuk Energi Nasional?

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Uji Coba Biodiesel B50 Dimulai, Manfaatnya untuk Energi Nasional? yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Penguatan Kemandirian Energi Nasional melalui Uji Coba B50

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI telah memulai serangkaian uji coba campuran biodiesel 50 persen (B50) sebagai tahap lanjutan dari program B40 yang telah berjalan sejak awal 2025. Program ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor solar, yang rencananya akan dimulai pada 2028 atau lebih cepat.

“Sesuai arahan Menteri ESDM, kami mulai melakukan uji B50 karena dengan program ini Indonesia bisa berhenti melakukan impor solar,” kata Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi dalam rapat bersama Komisi VII DPR, Selasa (11/11/2025).

Proses Pengujian B50

Pengujian B50 saat ini dilakukan di Lemigas bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas). Uji mencakup berbagai aspek seperti karakteristik bahan bakar, uji chasis dinamometer, filter clogging test rig, serta uji presipitasi dan stabilitas penyimpanan.

Dari hasil sementara, penggunaan B50 menunjukkan umur filter mesin yang sedikit lebih pendek dibandingkan B40. Jika biasanya filter diganti setiap tiga bulan, maka pada B50 masa pakainya berkurang menjadi sekitar dua bulan. Penurunan ini berkisar antara 10 hingga 20 persen.

Selain itu, daya mesin yang dihasilkan dari penggunaan B50 juga sedikit lebih rendah dengan selisih performa sekitar 10–20 persen dibandingkan B40.

Penelitian Kombinasi Bahan Bakar Nabati dan Solar

Eniya menjelaskan bahwa dalam pengujian tersebut, EBTKE mencoba berbagai kombinasi antara bahan bakar nabati dan solar untuk menentukan komposisi paling optimal. Salah satunya melibatkan campuran antara Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan kadar bervariasi hingga 50 persen bahan nabati.

Hasil awal menunjukkan perbedaan karakteristik dari segi stabilitas dan efisiensi pembakaran yang akan ditindaklanjuti melalui uji jalan dalam kondisi nyata.

Tahapan Uji Lapangan dan Persiapan Infrastruktur

Menurut Eniya, tahapan uji lapangan akan berlangsung selama enam bulan ke depan untuk memastikan kesiapan teknis dan operasional B50 sebelum diterapkan secara nasional. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan kajian pendukung terkait keberlanjutan pendanaan, ketersediaan pasokan Crude Palm Oil (CPO), serta kesiapan infrastruktur distribusi biodiesel.

“Dalam enam bulan ke depan kami akan fokus pada uji pemanfaatan di kondisi nyata, termasuk kesiapan infrastruktur dan keberlanjutan pasokan,” ujarnya.

Standar Teknis dan Kualitas B50

Hasil dari serangkaian uji ini akan menjadi dasar penyusunan spesifikasi teknis dan standar nasional untuk B50, termasuk peningkatan kualitas FAME agar lebih stabil saat dicampurkan ke bahan bakar solar.

“Standar teknis yang lebih baik akan memastikan B50 tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga andal untuk digunakan secara massal,” tutup Eniya.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar