
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Potensi Pengaruh Kebijakan Amerika Serikat terhadap Energi Terbarukan Global
Sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti risiko yang muncul akibat invasi Amerika Serikat ke Venezuela, khususnya terkait upaya penguasaan cadangan minyak mentah. Menurut analisis mereka, tindakan tersebut berpotensi menghambat investasi energi terbarukan secara global dan memperpanjang ketergantungan negara-negara berkembang terhadap bahan bakar fosil.
Yogi Setya Permana, peneliti Tata Kelola Iklim di Pusat Riset Politik BRIN, menjelaskan bahwa harga minyak yang rendah sering kali menjadi jebakan kebijakan. Meskipun dalam jangka pendek harga minyak yang murah terlihat menguntungkan secara fiskal, dalam jangka panjang hal ini meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga dan risiko geopolitik.
“Di satu sisi, negara maju menekan negara berkembang untuk segera meninggalkan energi fosil demi mencapai target iklim. Di sisi lain, energi fosil tetap diperlakukan sebagai aset strategis yang diamankan melalui manuver geopolitik,” ujarnya dalam pernyataan pers di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Cadangan Minyak Venezuela dan Dampaknya terhadap Harga Minyak Global
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, yaitu lebih dari 300 miliar barel. Yogi menilai bahwa jika cadangan tersebut dikuasai dan dilepas ke pasar global, harga minyak mentah bisa semakin melandai, sehingga minat investasi pada energi terbarukan juga akan tertahan.
“Dalam kondisi seperti ini, transisi energi di negara berkembang akan melambat, sementara ketergantungan pada bahan bakar fosil justru semakin panjang,” katanya.
Yogi menekankan bahwa negara berkembang pada akhirnya menanggung beban paling besar dari situasi ini, meskipun kontribusi historisnya terhadap emisi global relatif kecil. Ia merujuk pada konsep loss and damage, yang menegaskan bahwa dampak perubahan iklim sering kali melampaui kapasitas adaptasi suatu negara.
Dinamika Politik dan Keberlanjutan Transisi Energi
Menurut Yogi, transisi energi tidak pernah berlangsung di ruang yang netral, melainkan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dan kepentingan global. Hal ini menjadi perhatian utama dalam konteks kebijakan internasional yang sedang berlangsung saat ini.
Dalam konteks itu, Yogi menyoroti kebijakan Presiden AS Donald Trump yang pada 7 Januari lalu memerintahkan penarikan diri Amerika Serikat dari 66 organisasi internasional. Di antaranya termasuk lembaga-lembaga kunci kerja sama iklim global seperti UNFCCC dan IPCC. Langkah tersebut, menurut Yogi, semakin memperlihatkan menjauhnya Amerika Serikat dari negosiasi dan aksi iklim internasional.
“Ini menjadi situasi problematis ketika aktor besar menjauh dari institusi multilateral kunci, justru saat perundingan iklim global seperti COP ke-30 dideklarasikan sebagai COP of Truth,” kata Yogi.
Tantangan bagi Negara Berkembang
Pentingnya menjaga keseimbangan antara kebijakan iklim dan kepentingan ekonomi menjadi tantangan besar bagi negara berkembang. Yogi menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara besar dapat memengaruhi arah dan kecepatan transisi energi di seluruh dunia.
Negara-negara berkembang, yang biasanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, harus menghadapi tekanan untuk beralih ke energi terbarukan, namun juga harus mempertahankan stabilitas ekonomi dan ketersediaan energi. Situasi ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika global dalam menghadapi perubahan iklim.
Kesimpulan
Kesadaran akan risiko yang muncul dari tindakan geopolitik besar-besaran seperti invasi Amerika Serikat ke Venezuela menjadi penting untuk memastikan bahwa transisi energi dilakukan dengan adil dan berkelanjutan. Dengan demikian, semua negara—baik maju maupun berkembang—dapat berkontribusi pada upaya global untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Komentar
Kirim Komentar