Penggunaan Listrik ChatGPT 50 Kali Lebih Besar dari Google Search

Penggunaan Listrik ChatGPT 50 Kali Lebih Besar dari Google Search

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Penggunaan Listrik ChatGPT 50 Kali Lebih Besar dari Google Search yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Penggunaan Energi yang Tinggi dalam Pemanfaatan AI

Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan, mengungkapkan bahwa penggunaan energi untuk mencari informasi melalui platform AI seperti ChatGPT jauh lebih besar dibandingkan dengan penggunaan laman pencarian seperti Google Search. Menurutnya, penggunaan energi dari platform AI bisa mencapai 10 hingga 50 kali lipat lebih tinggi dibandingkan Google.

“Jika Anda menggunakan ChatGPT, Deepseek, Grok, atau Gemini, konsumsi energinya bisa 10 sampai 50 kali lipat dibandingkan memakai Google untuk pencarian informasi,” ujar Gita Wirjawan. Ia juga menyebutkan bahwa penggunaan platform AI untuk mengedit video seperti Sora milik OpenAI membutuhkan energi yang jauh lebih besar.

“Kami menggunakan platform Sora. Konsumsi energi untuk menghasilkan gambar yang canggih bisa mencapai 10 ribu hingga 50 ribu kali,” tambahnya. Hal ini menunjukkan betapa besar kebutuhan energi yang diperlukan dalam penggunaan teknologi AI yang semakin kompleks dan canggih.

Konsumsi Listrik yang Mengkhawatirkan

Penggunaan energi yang besar ini menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dari pengembangan teknologi AI. CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa setiap kueri ChatGPT rata-rata mengonsumsi energi setara dengan menyalakan lampu 60 watt selama beberapa menit. Saat ini, ChatGPT memiliki lebih dari 800 juta pengguna aktif setiap minggu, dengan permintaan energi yang terus meningkat.

Konsumsi listrik Sora 2 bahkan lebih tinggi lagi. MIT Technology Review mencatat bahwa untuk membuat klip video berdurasi lima detik, sistem AI memerlukan listrik setara dengan menyalakan oven microwave selama lebih dari satu jam. Jika durasi video meningkat, kebutuhan energinya bisa meningkat hingga empat kali lipat.

Perbandingan dengan Tambang Bitcoin

Menurut peneliti kripto Alex de Vries-Gao, pada pertengahan 2025, AI seperti ChatGPT berada di jalur yang tepat untuk melampaui konsumsi listrik penambangan Bitcoin. Ia memperkirakan bahwa sistem AI saat ini menyumbang sekitar 20% dari total daya pusat data global, dan angka ini bisa berlipat ganda pada akhir tahun.

Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa pusat data mengonsumsi hingga 1,5% dari listrik global pada tahun lalu, dengan pertumbuhan konsumsi empat kali lebih cepat dibandingkan total permintaan energi dunia. IEA memperkirakan kebutuhan energi pusat data akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030, dengan pemrosesan AI sebagai pendorong utamanya.

Penelitian MIT Technology Review memperkuat prediksi tersebut. Penggunaan daya AI diperkirakan dapat melampaui seluruh listrik yang saat ini digunakan oleh pusat data Amerika Serikat pada 2028, setara untuk memberi daya 22% rumah tangga AS setiap tahun.

Dampak Lingkungan dari Teknologi AI

Selain konsumsi listrik, penggunaan air untuk pendinginan server juga menjadi perhatian. Pusat data mengandalkan air ultra-murni untuk menjaga suhu optimal dan mencegah kotoran mikro pada cip. Peneliti dari MIT Technology Review memperkirakan pelatihan model GPT-3, fondasi ChatGPT dan Sora 2, dapat menghabiskan sekitar 700 ribu liter air tawar di fasilitas Microsoft di AS. Permintaan global akan air tawar untuk keperluan AI diperkirakan mencapai empat hingga enam miliar meter kubik per tahun pada 2027.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah produksi perangkat keras. Studi pada 2023 menemukan bahwa pembuatan chip memerlukan air ultra-murni dalam jumlah besar, proses kimia intensif energi, serta mineral langka seperti kobalt dan tantalum. Produksi GPU kelas atas juga menghasilkan jejak karbon jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar perangkat elektronik konsumen seperti ponsel dan laptop.

Dengan demikian, pengembangan teknologi AI tidak hanya berdampak pada konsumsi energi, tetapi juga pada penggunaan sumber daya alam dan lingkungan secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan pentingnya adanya inovasi dan kebijakan yang ramah lingkungan dalam pengembangan teknologi masa depan.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar