
Sejumlah sektor ekonomi kini mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang signifikan, salah satunya adalah sektor energi terbarukan atau renewable energy (EBT). Dalam beberapa waktu terakhir, sektor ini dianggap memiliki potensi besar dalam mendukung realisasi investasi di berbagai bidang. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa minat investor terhadap EBT semakin meningkat seiring dengan arah kebijakan transisi energi nasional.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
“Salah satu sektor yang kami lihat potensinya sangat besar dan appetite-nya dari investor juga sangat tinggi adalah energi baru terbarukan atau renewable energy,” ujar Rosan dalam konferensi pers realisasi investasi 2025 pada akhir pekan lalu.
Rosan, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, menjelaskan bahwa peluang di sektor EBT masih terbuka lebar. Indonesia memiliki potensi EBT mencapai 3.700 gigawatt, tetapi kapasitas terpasangnya hanya sekitar 15,1 gigawatt atau kurang dari 1%. Selain itu, sektor ini memiliki nilai tambah yang tinggi terhadap perekonomian nasional.
Selain itu, proyeksi porsi EBT dalam bauran energi nasional akan mencapai 76% dalam RUPTL PLN 2025-2034. Potensi EBT Indonesia tersebar di berbagai sumber seperti tenaga surya, hidro, dan panas bumi (geothermal). Pemerintah sendiri menetapkan target investasi sebesar Rp 2.175 triliun pada tahun ini, yang akan berkontribusi cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu sebesar 28-29%.
Perusahaan Sektor EBT yang Menjadi Sorotan
Banyak perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia kini tengah fokus mengembangkan bisnis di sektor energi bersih. Salah satu emiten yang tercatat memiliki bisnis EBT adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang merupakan perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangesto. BREN saat ini fokus memperkuat portofolio bisnis di sektor geothermal dan wind farm.
Perseroan menargetkan total kapasitas pembangkit mencapai 2.300 MW pada 2032, dengan sejumlah proyek strategis yang akan rampung bertahap hingga 2026. Saat ini, BREN mengoperasikan tiga aset panas bumi utama, yaitu Wayang Windu, Salak, dan Darajat, dengan total kapasitas 710 MW. Saham BREN pada perdagangan pekan lalu ditutup di level Rp 9.700 dengan kapitalisasi mencapai Rp 1.297 triliun.
Selanjutnya, ada emiten pelat merah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang unggul di sektor energi panas bumi. Kekuatan PGEO bertambah setelah menjalin kerja sama strategis dengan Danantara dalam proyek yang masuk kategori investasi prioritas nasional, membuka ruang ekspansi jangka menengah.
Dalam keterbukaan informasi terbaru, manajemen PGEO menyampaikan komitmen memperluas pemanfaatan energi bersih dengan mengembangkan green data center berbasis energi panas bumi. Langkah ini diperkuat melalui kolaborasi strategis dengan Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Perusahaan Lain yang Bergerak di Sektor EBT
Emiten sektor emas PT Archi Indonesia Tbk (ARCHI) melakukan diversifikasi bisnis ke sektor EBT. Perseroan merambah energi panas bumi melalui pembentukan perusahaan patungan PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama Ormat Geothermal Indonesia. Proyek panas bumi di Bitung, Sulawesi Utara, menargetkan kapasitas 40 MW dan telah mengantongi izin panas bumi. Langkah ini membuka sumber pendapatan baru di luar bisnis emas dan perak.
Kemudian, emiten Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), mengembangkan portofolio EBT dari hulu ke hilir. Selain panas bumi dengan potensi awal 440 MW, DSSA juga membangun pabrik sel dan panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Industri Kendal.
Dari grup Adaro, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kini memusatkan perhatian pada bisnis mineral dan energi terbarukan setelah memisahkan bisnis batu baranya ke PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Pengembangan EBT dijalankan melalui PT Alamtri Renewables Indonesia, dengan proyek PLTS di Kalimantan Tengah serta PLTA di kawasan industri Kalimantan Utara.
Komentar
Kirim Komentar