Membeli Waktu, Bukan Barang: Arti Baru Self Reward di Usia Dewasa

Membeli Waktu, Bukan Barang: Arti Baru Self Reward di Usia Dewasa

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Membeli Waktu, Bukan Barang: Arti Baru Self Reward di Usia Dewasa yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perubahan Definisi Self Reward

Ada masa ketika memberi hadiah untuk diri sendiri berarti menekan tombol checkout di aplikasi belanja online atau memesan tiket pesawat ke destinasi impian. Rasanya seperti ada dorongan untuk menebus semua lelah dengan sesuatu yang bisa dipegang, dipakai, dan dipamerkan. Tapi entah sejak kapan, kebahagiaan itu mulai terasa berbeda. Suatu hari aku sadar, bukan barang yang kuinginkan, tapi waktu. Waktu untuk diam, waktu untuk tidur tanpa alarm, waktu untuk makan tanpa harus melirik notifikasi pesan masuk dari kerjaan, waktu untuk tidak melakukan apa pun tanpa merasa bersalah.

Di usia yang semakin dewasa, definisi self reward berubah bentuk dari membeli barang menjadi membeli waktu. Waktu, Mata Uang Baru yang Tidak Bisa Dicetak Ulang Dulu, aku sering berpikir bahwa bekerja keras tanpa henti adalah cara terbaik untuk menunjukkan cinta pada diri sendiri. Kalau sudah kerja keras, tentu aku pantas membeli sesuatu yang bagus. Pantas membeli sepatu baru, tas baru, atau makan malam mewah. Tapi seiring bertambahnya usia, semua barang itu mulai kehilangan efek kejutnya. Ada rasa bahagia, tentu, tapi singkat sekali. Begitu kotak dibuka, begitu barang dipakai, perasaan senang itu cepat hilang dan digantikan oleh dorongan lain, keinginan baru lagi, yang lebih bagus lagi. Sampai akhirnya aku lelah. Bukan lelah bekerja, tapi lelah mengejar bentuk kebahagiaan yang selalu berubah.

Menghargai Waktu

Maka aku mulai memperhatikan satu hal sederhana, waktu. Waktu yang dulu terasa seperti hal sepele, kini justru menjadi barang mewah yang tak bisa kubeli lagi meski punya uang. Semakin dewasa, semakin kusadari bahwa waktu yang tenang jauh lebih bernilai dibanding segala bentuk hadiah fisik yang bisa dibungkus dan diikat pita. Waktu itu tidak bisa dicetak ulang. Ia tidak seperti uang yang bisa ditabung atau digandakan. Sekali lewat, ia pergi tanpa menoleh. Dan di tengah kesibukan hidup, waktu sering kali jadi korban pertama dari ambisi dan rutinitas.

Aku ingat betul satu akhir pekan di mana tubuhku memaksa berhenti. Selama berhari-hari aku bekerja, memaksakan diri menyelesaikan semua hal seolah dunia akan berhenti kalau aku berhenti. Sampai suatu pagi, tubuhku benar-benar menolak diajak kompromi. Aku demam, batuk, pusing, dan tak mampu membuka laptop. Hari itu aku cuma tidur, minum air, dan diam. Tapi anehnya, justru di hari itulah aku merasa mendapatkan sesuatu yang lama hilang yakni ketenangan. Tidak ada notifikasi, tidak ada keharusan. Hanya diam, dan akhirnya aku sadar betapa berharganya momen itu.

Membuat Waktu Sebagai Hadiah

Sejak saat itu aku mulai mengubah caraku memandang self reward. Bukan lagi tentang membeli sesuatu yang bisa dipamerkan, tapi tentang memberi waktu untuk tubuh dan pikiranku bernapas. Tidur siang misalnya, dulu terasa seperti kemewahan yang tak punya tempat di jadwal harian. Sekarang, tidur siang tiga puluh menit saja bisa jadi kebahagiaan kecil yang luar biasa. Aku menutup laptop, meletakkan ponsel, dan mengizinkan diri tertidur tanpa alarm. Saat bangun, rasanya seperti lahir kembali. Bukan hanya tubuh yang segar, tapi pikiran juga lebih ringan, lebih jernih, dan anehnya, lebih siap menghadapi dunia.

Ada kalanya aku juga menghadiahi diri dengan weekend tanpa rencana. Tidak ke mall, tidak ikut acara, tidak membuka media sosial. Hanya duduk di rumah sambil menyeduh kopi, membaca buku, atau menonton film tanpa tergesa-gesa. Awalnya terasa aneh, dunia di luar sana sibuk berlarian, sementara aku hanya diam di rumah. Tapi perlahan aku belajar menikmati keheningan itu. Dalam diam, aku bisa mendengar suara hatiku sendiri, sesuatu yang selama ini tertutup oleh kebisingan aktivitas. Weekend tanpa jadwal kini jadi bentuk self reward paling jujur yang bisa kuberikan pada diri sendiri. Tidak glamor, tidak Instagrammable, tapi menenangkan.

Investasi dalam Ketenangan

Kadang aku juga berpikir, mungkin inilah ciri kedewasaan yang sesungguhnya. Ketika kita tidak lagi mencari kebahagiaan di luar diri, melainkan belajar menumbuhkannya dari hal-hal sederhana yang sudah kita punya. Aku mulai menghargai waktu makan siang yang bisa dinikmati tanpa buru-buru, atau kesempatan menatap langit sore tanpa harus memikirkan pekerjaan. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini jadi kemewahan yang tidak ternilai.

Self Reward Anti Boros, Bahagia dengan Waktu Sendiri Membeli waktu memang terdengar aneh, tapi sebenarnya sangat nyata. Membeli waktu bisa berarti membayar orang untuk membersihkan rumah agar kita punya kesempatan istirahat lebih lama. Bisa juga berarti menolak proyek tambahan yang tidak perlu agar malam bisa dihabiskan untuk tidur lebih cepat. Atau membayar layanan langganan agar pekerjaan lebih efisien dan kita tidak harus mengulang-ulang hal yang sama. Banyak yang menganggap itu pemborosan, tapi bagiku justru sebaliknya. Itu investasi untuk ketenangan, untuk kualitas hidup yang lebih baik.

Keindahan dalam Ketenangan

Menariknya, bentuk self reward seperti ini jarang terlihat di media sosial. Tidak ada yang memotret dirinya sedang tidur siang atau duduk di balkon tanpa riasan, hanya menikmati udara sore. Tidak ada yang menulis caption berbunyi, "Hari ini aku tidak melakukan apa pun, dan aku bangga." Padahal, di sanalah letak kebahagiaan yang paling murni, tidak butuh validasi, tidak butuh penonton. Self reward versi dewasa memang tidak terlalu bisa dipamerkan, karena yang dirasakan lebih penting daripada yang terlihat.

Aku juga mulai menyadari bahwa waktu kosong bukan tanda kemunduran, tapi proses pemulihan. Dunia hari ini terlalu sering memuja produktivitas, seolah orang yang tidak sibuk berarti malas. Padahal, istirahat adalah bagian dari produktivitas itu sendiri. Mesin pun butuh dimatikan sesekali agar tidak rusak. Begitu pula dengan manusia. Kalau terus-menerus dipaksa berjalan, pada akhirnya bukan hasil terbaik yang keluar, tapi burnout dan kehilangan arah. Maka, memberi jeda pada diri bukan tanda menyerah, tapi cara untuk bisa melangkah lebih jauh.

Mengatakan Tidak sebagai Bentuk Cinta pada Diri Sendiri

Di sisi lain, belajar membeli waktu juga berarti belajar mengatakan tidak. Ini mungkin bagian tersulit. Menolak ajakan, menolak proyek, menolak beban tambahan sering kali membuat kita merasa bersalah. Tapi lama-lama aku paham, setiap kali aku bilang 'iya' pada sesuatu yang tidak penting, aku sebenarnya sedang bilang 'tidak' pada diriku sendiri. Menolak bukan berarti egois. Justru sebaliknya, itu bentuk cinta pada diri sendiri agar tidak terjebak dalam kelelahan yang tidak perlu. Dari situ aku belajar bahwa self reward bukan sekadar memanjakan diri, tapi juga melindungi diri dari hal-hal yang bisa menguras waktu, energi, dan kedamaian.

Lucunya, semakin aku belajar menghargai waktu, semakin aku sadar bahwa kebahagiaan tidak butuh banyak hal. Dulu, aku bangga kalau punya banyak barang. Sekarang, aku bahagia kalau punya banyak waktu. Punya waktu untuk sarapan pelan-pelan, untuk menelpon orang tua tanpa multitasking, untuk membaca buku sebelum tidur. Mungkin di mata orang lain itu hal sepele, tapi buatku, itu bentuk kekayaan baru. Kekayaan yang tidak diukur dengan angka di rekening, tapi dengan ketenangan batin yang terasa saat hari berjalan tanpa tergesa.

Ketenangan sebagai Kemewahan Terbesar

Ketenangan, ternyata, adalah kemewahan tertinggi yang bisa dimiliki manusia. Dan ironisnya, banyak dari kita justru kehilangan ketenangan karena terlalu sibuk mengejar hal-hal yang dianggap bisa membuat tenang. Kita menukar waktu tidur dengan lembur, menukar waktu makan dengan rapat, menukar waktu bersama keluarga dengan layar laptop. Kita terlalu sering lupa bahwa semua pencapaian itu akhirnya akan kembali pada satu hal sederhana yakni rasa cukup. Karena kalau tidak tahu kapan harus berhenti, bahkan self reward pun bisa berubah jadi self sabotage.

Aku mulai belajar bahwa cara terbaik menghargai diri bukan dengan memberi hadiah mahal, tapi dengan memberi waktu untuk pulih. Mungkin terdengar membosankan, tapi justru di situ letak keindahannya. Hidup tidak harus selalu penuh sorotan. Tidak harus selalu bergerak cepat. Ada masa di mana kita perlu melambat agar bisa benar-benar menikmati perjalanan. Karena hidup bukan kompetisi maraton yang menuntut siapa paling cepat, tapi perjalanan panjang yang seharusnya memberi ruang untuk menikmati setiap langkahnya.

Memilih Diri Sendiri

Maka sekarang, setiap kali aku merasa lelah, aku tidak lagi tergoda membuka aplikasi belanja atau mencari destinasi pelarian. Aku hanya menutup layar, mematikan notifikasi, dan duduk diam. Kadang hanya lima belas menit, tapi cukup untuk mengingatkan diri bahwa aku masih punya kendali. Masih bisa memilih untuk berhenti. Dan di usia ini, kemampuan untuk berhenti tanpa rasa bersalah adalah bentuk kedewasaan yang sejati.

Semakin ke sini, aku percaya bahwa self reward terbaik adalah yang membuat kita lebih dekat pada diri sendiri, bukan yang menjauhkan. Yang membuat kita merasa cukup, bukan malah ingin lebih. Dan yang membuat kita tenang, bukan sibuk mencari perhatian. Membeli waktu berarti menghargai hidup apa adanya tanpa perlu membuktikan apa-apa.

Kini, setiap kali aku bangun di pagi hari dan masih punya waktu lima menit untuk menikmati keheningan sebelum dunia kembali berisik, aku tahu, itu hadiah terbaik yang bisa kumiliki hari ini. Tidak dibungkus pita, tidak datang dari toko, tapi datang dari keputusan sederhana untuk memilih diri sendiri di tengah segala kesibukan. Karena di usia dewasa, hadiah terbaik memang bukan lagi barang mahal, tapi waktu yang tenang dan pikiran yang damai, dua hal yang tidak bisa dibeli, tapi bisa diciptakan kalau kita mau berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri untuk bernapas.

Dan mungkin, justru di momen sederhana seperti itulah, kita akhirnya benar-benar belajar mencintai diri dengan cara yang paling tulus, bukan dengan membeli barang, tapi dengan membeli waktu untuk hidup perlahan, dengan penuh kesadaran dan rasa syukur yang utuh.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar