Menanti Kesepakatan Tarif, Rupiah Proyeksikan Kenaikan Senin (19/1)

Menanti Kesepakatan Tarif, Rupiah Proyeksikan Kenaikan Senin (19/1)

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Menanti Kesepakatan Tarif, Rupiah Proyeksikan Kenaikan Senin (19/1) menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada hari Jumat (16/1/2026). Berdasarkan data dari pasar spot, rupiah menguat sebesar 0,05% secara harian menjadi Rp 16.887 per dolar AS. Sebelumnya, pada hari Kamis (15/1/2026), berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah sebesar 0,05% menjadi Rp 16.880 per dolar AS.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menyatakan bahwa saat ini rupiah berada dalam level kritis antara Rp 16.860 hingga Rp 16.890 per dolar AS. Ia menilai tekanan depresiasi masih cukup kuat terhadap rupiah.

“Secara teknikal, rupiah sedang menguji level psikologis Rp 16.900 per dolar AS,” ujarnya kepada aiotrade, Jumat (16/1/2026).

Sutopo menyoroti tiga variabel yang bisa memengaruhi pergerakan rupiah pada Senin (19/1/2026). Pertama adalah finalisasi legal drafting Perjanjian Tarif RI-AS yang akan berlangsung pada 12 hingga 19 Januari. Senin depan menjadi batas akhir jadwal pertemuan teknis di Washington D.C terkait kesepakatan tarif perdagangan antara Indonesia dan AS.

“Jika ada berita positif mengenai kemajuan draf ini, terutama akses mineral kritis ke pasar AS, rupiah bisa mendapatkan tenaga tambahan dari sisi fundamental perdagangan,” katanya.

Yang kedua adalah antisipasi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pasar mulai melakukan pricing terhadap keputusan suku bunga BI yang akan diumumkan pada Rabu, 21 Januari 2026.

Banyak spekulasi muncul mengenai kemungkinan pengurangan suku bunga (BI Rate) dari level 4,75% pada kuartal I-2026 untuk mendorong pertumbuhan produk domestic bruto (PDB). Namun, jika pasar berekspektasi BI terlalu agresif memangkas bunga saat dolar masih kuat, rupiah berisiko melemah karena yield differential yang menyempit.

Selanjutnya, kehadiran Indonesia di World Economic Forum (WEF) Davos Swiss. Presiden Prabowo dan tim ekonomi, termasuk pengelola investasi Danantara, akan mulai aktif di Davos pada 19 Januari. Narasi yang dibawa mengenai transisi energi dan hilirisasi nikel diharapkan mampu menarik minat investor asing (capital inflow) ke pasar obligasi dan saham, yang secara tidak langsung mendukung stabilitas nilai tukar.

Selain itu, Sutopo melihat situasi geopolitik Timur Tengah. Investor perlu memantau terus eskalasi di Iran. Jika ketegangan meningkat, investor global akan memburu aset aman seperti Dolar AS dan Emas, yang secara otomatis akan menekan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah. Selain itu, Indeks Dolar (DXY) yang bertahan di atas level 99 akan sangat membatasi ruang penguatan rupiah.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat dolar AS masih menguat didukung data ekonomi AS yang solid dan retorika hawkish dari para pejabat The Fed. Ia menyatakan tidak ada data penting baik dari dalam maupun luar negeri hingga Senin.

“Investor perlu mencermati perkembangan situasi geopolitik seputar Venezuela setelah perubahan pada voting yang gagal membatasi wewenang Trump terhadap Venezuela oleh Senat AS,” ucap Lukman.

Lukman memperkirakan rupiah pada Senin (19/1/2026) bergerak dikisaran Rp 16.850 – Rp 16.950 per dolar AS. Sementara Sutopo memproyeksikan rupiah pada Senin (19/1/2026) direntang Rp 16.850 sampai Rp 16.920 per dolar AS.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Menanti Kesepakatan Tarif, Rupiah Proyeksikan Kenaikan Senin (19/1) ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar