York: Kota Hantu yang Selalu Berisik

York: Kota Hantu yang Selalu Berisik

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada York: Kota Hantu yang Selalu Berisik yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Perjalanan Teduh dari Manchester


Perjalanan menuju York dimulai dalam suasana yang ambigu—bukan cerah, bukan pula sepenuhnya gelap. Mobil melaju pelan dari Manchester melalui jalur darat, ditemani langit mendung dan hujan yang turun sesekali, tanpa petir, tanpa drama. Cuaca khas Inggris ini seperti sengaja menurunkan tempo, memaksa perjalanan dilakukan dengan sabar.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Di balik kaca mobil yang basah, ladang, pepohonan, dan rumah bata tua berganti tanpa suara. York tidak memanggil dengan janji wisata yang gemerlap. Ia menunggu, seperti kota tua yang tahu dirinya akan selalu didatangi.

Kota yang Memihak Pejalan Kaki

Sesampainya di York, mobil kami parkir dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Di sinilah watak kota langsung terasa. Seperti banyak kota di Britania Raya, York memanjakan pejalan kaki. Trotoar lebar, penyeberangan manusiawi, pusat kota yang tidak memaksa orang berlindung di balik setir.

York tidak dibaca dari balik kaca mobil. Ia harus dijalani dengan kaki, agar jarak berubah menjadi pengalaman, bukan sekadar angka di peta.

Jejak Romawi: Eboracum yang Tidak Pernah Pergi

York memang lahir tua. Pada abad pertama Masehi, Romawi mendirikan kota bernama Eboracum sebagai basis militer penting di Britania utara. Jejaknya masih terasa hingga hari ini---tembok kota, pola jalan, fondasi bangunan. Beberapa kaisar Romawi bahkan wafat di sini.

Aura masa lalu terasa kuat bukan karena direkayasa, melainkan karena tidak pernah disingkirkan.

Viking dan Jorvik: Kota yang Pernah Ditaklukkan

Selepas Romawi, York kembali jatuh ke tangan Viking pada abad ke-9 dan dinamai Jorvik. Kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan pelayaran. Jejak Viking hidup dalam nama jalan, tata kota, dan cerita rakyat.

York berkali-kali ditaklukkan, tetapi tidak pernah kehilangan jati diri. Ia menyerap siapa pun yang datang, lalu menjadikannya bagian dari ingatan kota.

Kastil, Gereja Tua, dan Batu yang Menyimpan Ingatan

Langkah kaki membawa kami ke kastil dan gereja-gereja tua yang menjulang tenang. Batu-batunya gelap, tebal, dan berlapis usia. Bangunan-bangunan ini tidak berusaha tampil modern---ia dibiarkan tua, dan justru di situlah wibawanya.

Hujan membuat suasana semakin pas. Kota seperti meminta pengunjung mendengarkan, bukan sekadar memotret.

Toko Ghost dan Horor yang Elegan

Sepanjang jalan, toko-toko berjejer rapi, termasuk toko bertema Ghost yang ramai pengunjung. Konon, York kerap dijadikan lokasi syuting film horor. Namun horor di York bukan horor murahan. Ia tidak berteriak. Ia hadir sebagai suasana---lorong sempit, lengkung gotik, cahaya redup, dan tembok batu yang terlalu lama menyimpan cerita.

York tidak menakuti. Ia mengendap di pikiran.

Kota Hantu yang Justru Tak Pernah Sunyi

Di sinilah paradoks York bekerja. Dijuluki kota hantu, York justru tak pernah sunyi. Pejalan kaki berlalu-lalang, kafe hangat oleh percakapan, toko-toko bernapas oleh cerita.

Yang "berhantu" mungkin bukan kotanya, melainkan ingatan kolektif yang dibiarkan tinggal, bukan dihapus.

Cermin Kota Tua Indonesia

Berjalan di York membuat saya teringat pada kota-kota tua di Indonesia---Kota Tua Jakarta, Kota Lama Semarang, hingga benteng-benteng VOC dari Maluku sampai Jawa. Kita tidak kekurangan cerita seram. Stasiun Tanjung Priok lama, misalnya, memiliki lorong panjang, sunyi, dan sejarah yang jauh lebih kuat daripada sekadar cerita hantu.

Namun ironi muncul di tempat yang tidak terduga. Yang sering terasa paling menakutkan justru bukan bangunannya, melainkan perjalanan menuju ke sana. Akses pejalan kaki yang sulit, rasa tidak aman, premanisme, gelandangan, dan ketakutan sosial membuat orang waswas bahkan sebelum sampai lokasi. Horor kita berhenti di jalan raya.

Di York, orang berjalan kaki tanpa rasa takut, bahkan di lorong tertua dan cuaca paling redup. Kota memberi rasa aman, sehingga sejarah bisa bekerja. Di banyak kota tua Indonesia, ketakutan bersifat sosial, bukan historis. Akibatnya, cerita tidak pernah sampai ke bangunan---ia berhenti di trotoar.

Ketika Distraksi Mengalahkan Inovasi

Film hantu Indonesia sesungguhnya punya modal luar biasa. Bukan hanya sosok, tetapi ruang. Kota tua, benteng kolonial, stasiun lama, lorong sejarah---semuanya menyimpan cerita yang jauh lebih mencekam daripada efek suara keras. Yang kurang bukan makhluk halus, melainkan keberanian menata ruang dan bercerita jujur.

Di sinilah York memberi pelajaran penting. Kota ini tidak sibuk menciptakan sensasi. Ia memastikan ruang aman, membiarkan sejarah berbicara, lalu membiarkan imajinasi bekerja. Sebaliknya, kita sering ramai tetapi tidak bergerak. Kota tua penuh acara, media sosial penuh konten, namun inovasi tersendat. Kita tenggelam dalam distraksi yang tak bernilai, bukan melompat ke inovasi yang bermakna.

Penutup: Dari York ke Kita---Optimisme yang Bekerja

Perjalanan ini akhirnya bertaut dengan gagasan dalam buku saya, Optimism is Power: Dari Kegaduhan Menuju Inovasi, Hindari Tenggelam dalam Distraksi. Optimisme bukan sekadar harapan atau slogan. Ia adalah energi penggerak---keberanian untuk berhenti gaduh, menata ruang, menghadirkan rasa aman, dan memberi tempat bagi kreativitas untuk tumbuh.

York, kota hantu yang tak pernah sunyi, memberi sindiran halus namun tajam: bahwa masa depan tidak dibangun dari keramaian semu, melainkan dari fokus, keberanian, dan konsistensi. Mungkin sudah saatnya kita belajar dari kota tua yang tenang ini---bahwa optimisme adalah keberanian meninggalkan distraksi, agar inovasi punya ruang untuk hidup.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar