
aiotrade
— Orbit rendah Bumi kini semakin padat, dan hal ini memaksa Tiongkok untuk meningkatkan perlindungan terhadap Stasiun Luar Angkasa Tiangong dari ancaman puing antariksa. Meningkatnya jumlah peluncuran satelit serta aktivitas misi yang dilakukan oleh negara maupun swasta di luar angkasa telah membuat risiko tabrakan bukan lagi sekadar hipotesis, melainkan tantangan nyata bagi keselamatan penerbangan berawak.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Insiden sebulan lalu menjadi perhatian utama setelah serpihan kecil puing antariksa merusak jendela kapsul berawak Shenzhou-20. Akibat kerusakan tersebut, wahana tersebut dinilai tidak aman untuk membawa awak kembali ke Bumi, sehingga tiga astronot terpaksa tinggal di Tiangong selama sembilan hari lebih lama dari jadwal awal sambil menunggu solusi alternatif untuk kepulangan mereka.
Respons terhadap insiden tersebut diwujudkan melalui aktivitas luar wahana yang dilakukan dua taikonaut, Zhang Lu dan Wu Fei. Keduanya bekerja selama sekitar delapan jam di luar stasiun untuk memasang panel pelindung antipuing di bagian luar Tiangong, sekaligus melakukan inspeksi struktur dan beberapa perawatan teknis.
Dalam pernyataan resmi China Manned Space Engineering Office (CMSEO), disebutkan bahwa pekerjaan tersebut tidak hanya berfokus pada pemasangan pelindung baru. Para taikonaut juga memeriksa dan mendokumentasikan kerusakan pada jendela kapsul Shenzhou-20 yang masih terpasang di stasiun. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai apakah kapsul yang rusak tersebut memungkinkan diperbaiki melalui aktivitas luar wahana pada misi selanjutnya.
Langkah teknis ini melengkapi respons darurat sebelumnya, ketika otoritas antariksa Tiongkok meluncurkan misi tak berawak guna mengirimkan wahana pengganti ke Tiangong dalam waktu kurang dari dua pekan setelah kerusakan terdeteksi. Keputusan tersebut diambil setelah Shenzhou-20, yang semula dijadwalkan membawa awak kembali ke Bumi pada awal November, dinyatakan tidak layak terbang akibat retakan pada jendelanya.
CMSEO menegaskan bahwa retakan tersebut disebabkan oleh hantaman puing antariksa berkecepatan tinggi. “Kerusakan pada jendela wahana menunjukkan bahwa bahkan fragmen kecil dapat menimbulkan risiko serius bagi keselamatan misi berawak,” demikian pernyataan lembaga tersebut.
Ancaman puing antariksa kini menjadi isu global. Fragmen kecil di orbit dapat melaju hingga sekitar 15 kilometer per detik, jauh melampaui kecepatan peluru di Bumi. Dengan lebih dari 25.000 objek besar yang terlacak serta ratusan juta fragmen kecil yang tidak dapat dipantau, setiap benturan berpotensi memicu kerusakan serius pada stasiun luar angkasa dan satelit.
Beberapa analis menilai insiden di Tiangong mencerminkan semakin rapuhnya lingkungan orbit rendah Bumi akibat akumulasi puing antariksa. Lauren Kahn, analis riset dari Georgetown University, mengatakan kepada Scientific American, “Ini hanya soal waktu sebelum insiden seperti ini terjadi,” merujuk pada meningkatnya jumlah objek berbahaya di orbit yang dipicu oleh aktivitas manusia di luar angkasa.
Selama beberapa dekade, badan antariksa dunia mengandalkan perisai Whipple sebagai perlindungan standar terhadap puing. Namun, perisai tersebut dikenal berat dan berisiko menghasilkan puing sekunder saat terjadi benturan. Karena itu, pemasangan panel pelindung baru di Tiangong dipandang sebagai upaya mencari pendekatan yang lebih adaptif terhadap ancaman modern di orbit.
Bagi Tiongkok, penguatan Tiangong bukan sekadar respons teknis atas satu insiden, melainkan sinyal bahwa keselamatan astronot dan keberlanjutan operasi luar angkasa kini ditempatkan sebagai prioritas strategis. Di tengah orbit yang semakin padat, isu puing antariksa pun kian menuntut perhatian kolektif komunitas global.
Komentar
Kirim Komentar