Temu Nasional Literasi Digital 2025: Komdigi Jaga Kelompok Rentan

Temu Nasional Literasi Digital 2025: Komdigi Jaga Kelompok Rentan

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Temu Nasional Literasi Digital 2025: Komdigi Jaga Kelompok Rentan yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.
Temu Nasional Literasi Digital 2025: Komdigi Jaga Kelompok Rentan

Perkembangan Teknologi Digital yang Membawa Peluang dan Tantangan

Perkembangan teknologi digital yang melaju sangat cepat membawa peluang sekaligus tantangan serius bagi masyarakat. Di tengah derasnya inovasi, risiko penyalahgunaan teknologi mulai dari disinformasi hingga penipuan digital—menjadi ancaman nyata, terutama bagi kelompok rentan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Isu tersebut mengemuka dalam Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 yang digelar selama dua hari, Selasa–Rabu (16–17 Desember 2025) di Jakarta. Kegiatan ini menjadi ajang berbagi gagasan dan pengalaman lintas sektor untuk merumuskan arah dan strategi literasi digital ke depan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Boni Pudjianto, menegaskan bahwa forum ini penting sebagai ruang konsolidasi menghadapi percepatan teknologi yang kerap melampaui kesiapan sosial masyarakat.

Perlindungan Kelompok Rentan Jadi Prioritas Utama

Menurut Boni, salah satu fokus utama Temu Nasional Pegiat Literasi Digital adalah merumuskan strategi perlindungan bagi kelompok rentan agar tidak terpapar dampak negatif ruang digital. “Pertemuan ini akan menghasilkan arah dan strategi ke depan untuk bagaimana kita melindungi kelompok rentan ini sebagai prioritas utama, seperti anak-anak, remaja, lansia, penyandang disabilitas, bahkan mereka yang tingkat literasinya masih rendah, agar tidak terpapar dampak negatif seperti scam yang bisa memengaruhi kehidupan mereka,” ujarnya.

Ia menekankan, literasi digital tidak hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga soal perlindungan dan kesadaran risiko di ruang digital.

AI dan Ancaman Disinformasi

Boni juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mampu menghasilkan berbagai jenis konten. Namun, tantangan utama bukan pada teknologinya, melainkan pada penyalahgunaannya. “Bukan kontennya yang bermasalah, tapi ketika AI menghasilkan misinformasi, disinformasi, bahkan hoaks. Ini yang perlu kita tekan bersama, karena kemajuan teknologi jangan sampai justru menimbulkan efek negatif di masyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan perlunya kerja kolektif untuk menangkal dampak buruk tersebut, agar teknologi benar-benar memberi manfaat sosial.

Forum Lintas Komunitas dan Sektor

Temu Nasional Pegiat Literasi Digital dihadiri oleh berbagai komunitas dari beragam latar belakang, mulai dari kelompok masyarakat sipil (civil society), komunitas literasi, korporasi teknologi global dan lokal, hingga komunitas independen yang memiliki kepedulian sama terhadap isu kecerdasan digital.

Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada diskusi bersama global technology company, local technology company, serta komunitas berbagi praktik baik. Sementara hari kedua lebih menitikberatkan pada penguatan peran komunitas sebagai ujung tombak literasi digital di masyarakat.

Dorong Dampak Ekonomi Digital

Selain aspek perlindungan, Boni menegaskan bahwa teknologi digital juga harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi masyarakat. “Teknologi harus memberikan dampak ekonomi, khususnya bagi UMKM, koperasi, dan startup. Kuncinya adalah kreativitas dan inovasi, serta berbagi pengalaman agar bisa tumbuh bersama,” katanya.

Melalui forum ini, para pegiat literasi digital diharapkan dapat saling menguatkan, berbagi pengalaman profesional, dan membangun ekosistem digital yang sehat dan berdaya saing.

Cerita Lapangan dari Relawan Bencana

Dalam forum tersebut, sejumlah pegiat literasi digital juga berbagi pengalaman langsung terjun membantu penanganan bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Mereka menceritakan betapa sulitnya komunikasi di wilayah terdampak pada hari-hari awal bencana. “Teman-teman relawan berbagi cerita bagaimana sulitnya komunikasi, bahkan beberapa hari baru bisa terhubung. Kami memfasilitasi apa yang dibutuhkan, termasuk penggalangan donasi untuk local orbit Starlink, penyediaan receiver satelit, hingga upaya menghidupkan kembali BTS,” ungkap Boni.

Kisah-kisah lapangan tersebut menjadi refleksi penting bahwa literasi dan infrastruktur digital memiliki peran krusial, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam situasi krisis dan kebencanaan.


Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar