
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Bayangkan Skenario Ini
Bayangkan skenario ini: Anda memiliki seorang anak berusia 8 atau 10 tahun. Suatu pagi, Anda memberikan kunci sepeda motor 1000cc kepadanya dan mempersilakan si anak jalan-jalan keliling kampung bahkan ke jalan raya? Terdengar gila? Tentunya sih...
Sebagai orang tua yang waras, kita tidak akan pernah melakukan itu, karena apa? ya karena kita sangat tahu ancaman bahaya anak-anak mengendarai motor di jalan raya. Kita tahu karena secara fisik, mereka belum kuat untuk menahan beban motor atau jaga keseimbangan. Daya refleks mereka belum matang juga mereka belum paham aturan lalu lintas. Secara psikis, anak-anak ini belum mampu mengatur kesabaran, kepanikan, juga kondisi darurat.
Namun, sadarkah kita? Di saat kita memberikan smartphone atau ponsel dengan akses website dan media sosial tanpa batas kepada anak di bawah usia 16 tahun, kita sedang melakukan hal yang persis sama dengan memberikan kunci motor tadi? Kok bisa?
Evolusi Teknologi dan Fisik Manusia
Awalnya, sepeda itu diciptakan untuk memudahkan pekerjaan para orang dewasa. Begitupun desain rangka dan cara mengoperasikannya itu hanya ditujukan kepada pengguna dewasa. Namun, teknologi berevolusi. Penemuan mesin motor mengubah sepeda menjadi sepeda motor. Tiba-tiba, kita bisa meluncur dengan kecepatan tinggi tanpa rasa lelah. Begitu pun daya bawa angkutnya pun menjadi lebih besar. Sampai sini pun motor masih tetap dibuat hanya untuk orang dewasa.
Seiring perkembangannya, desain sepeda motor berkembang terus dan masih ditujukan untuk orang dewasa. Ia dibuat untuk mereka yang memiliki tujuan jelas (transportasi/kerja/ bahkan hobby). Naik motor pun mulai harus mengenakan pelindung dan pengaman, seperti helm dan jaket. Bayangkan betapa pentingnya memberikan perlindungan bagi pengendara motor ini? Lalu bagaimana dengan anak-anak yang ingin mengendarai motor? Semua sepakat, dunia pun sepakat, bahwa motor hanya bisa digunakan oleh mereka yang dewasa, sudah berusia 17 tahun ke atas. Selain alasan fisik tadi, mengendarai motor butuh kesanggupan kendali emosi, dan yang terpenting untuk itu semua, pengendara wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) lewat ujian dan tes.
Teknologi Hardware dan Software
Motor adalah teknologi hardware, begitu pun dengan komputer juga hadrware. Seiring kemajuan jaman, masuklah kita ke era silikon, yakni chip. Kita memasuki era komputer dengan software, yakni perangkat yang lunak, atau perangkat yang tak ada fisiknya.
Software yang awalnya pun dirancang dan dibuat untuk memudahkan kerja orang dewasa, mulai berkembang untuk digunakan sebagai edukasi dan hiburan anak-anak. Sejak ini lah perkembangan teknologi software mulai menyentuh kalangan pengguna baru yakni kalangan anak-anak. Berkembang terus sampai masuk ke era hardware baru yakni handphone, dengan software-nya yang kenal dengan sebutan aplikasi (applications/apps.).
Sejak inilah teknologi lunak aplikasi di ponsel berkembang sangat pesat, hingga para orang tua, ahli, guru, bahkan pemerintah pun, sudah sulit sekali mengikuti perkembangannya yang sangat pesat, hingga masuk ke era media sosial.
Bayangkan Sejak Komputer dan Ponsel Itu Ada Internetnya
Bayangkan sejak komputer dan ponsel itu ada internetnya, maka ibarat motor tadi, anak-anak kita sudah bisa dengan sangat mudah "jalan-jalan secara virtual" bahkan berkelana ke segala pelosok dunia dan pelosok tema. Mulai dari tema anak-anak, permainan, pendidikan, pengetahuan, mereka bisa berkenalan dengan siapa pun hingga menjalani pergaulan dengan segala macam kalangan. Mulai mencemaskan?
Media sosial adalah media yang digunakan untuk hubungan dan interaksi sosial, dirancang oleh ribuan insinyur di Silicon Valley dengan satu tujuan: aktif di dalamnya, mengikat perhatian, dan jangan pindah-pindah. Algoritma ini masuk secara perlahan ke otak anak-anak kita. Bekerja tak henti membanjiri otak anak-anak kita dengan dopamin (hormon kesenangan sesaat). Kesenangan sesaat ini perlahan menjadi kebiasaan lantas adiksi. Beda anak, beda orang dewasa. Bagi orang dewasa yang secara mental dan psikologis sudah sanggup dan terbiasa dengan hormon yang gonta-ganti ini. Tapi apakah anak-anak siap?
Otak Manusia dan Prefrontal Cortex
Di sisi lain, otak manusia memiliki bagian yang bernama Prefrontal Cortex. Letaknya di dahi depan. Fungsinya adalah sebagai "Sistem Pengereman". Bagian inilah yang bertugas mengontrol adanya sensasi, impuls, menimbang risiko, dan memahami konsekuensi jangka panjang.
Nah! Fakta biologis yang menakutkan adalah: Prefrontal Cortex ini baru matang sempurna di usia sekitar 25 tahun. Jadi, apa yang terjadi saat anak usia 13 tahun masuk ke media sosial? Mereka bagaikan mengendarai kendaraan dengan mesin dopamin yang sangat kencang, tetapi fungsi remnya masih kendor.
Mereka tidak kecanduan karena mereka nakal. Mereka kecanduan karena mereka kalah tenaga dengan algoritma. Secara biologis, mereka belum punya perangkat keras di otak untuk mengerem laju algoritma yang agresif.
Bahaya Kecelakaan di "Jalan Raya" Digital
Jika anak jatuh sedikit saja di "jalan raya digital", luka lecetnya tidak terlihat di lutut, tapi di jiwa, di mentalnya. Yang mengerikan, karena lukanya ini tidak menyakiti fisik atau terlihat darah, maka si korban tidak mudah menyadari jika sebetulnya ia sedang kena "celaka".
"Jalan raya" media sosial dipenuhi oleh pengendara lain yang ugal-ugalan: standar kecantikan yang tidak realistis, cyberbullying, predator seksual, hingga konten kekerasan. Orang dewasa mungkin bisa menyalip atau menghindar (block/report) karena mentalnya sudah siap. Tapi anak-anak? Mereka seringkali menjadi korban penyerempetan bahkan tabrakan beruntun mental.
Dampaknya nyata. Angka kecemasan (anxiety), depresi, dan gangguan mental pada remaja meroket seiring dengan penetrasi ponsel. Data menunjukkan jika tren mental pada anak ini mulai tumbuh sejak tahun 2010 - yakni tahun di mana Instagram pertama kali diluncurkan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah korban kecelakaan lalu lintas digital.
Apa Solusinya?
Kita melarang anak mengendarai motor bukan karena kita jahat atau ingin mengekang kebebasan mereka. Kita melarangnya karena kita sayang nyawa mereka. Kita menunggu sampai kaki mereka sampai, sampai refleks mereka siap, dan sampai mereka pantas serta lulus punya "SIM".
Sudah saatnya kita menerapkan logika kendaraan bermotor, sama pada perangkat teknologi ini, internet, ponsel, dan media sosial.
Biarkan anak-anak tumbuh dengan "sepeda" mereka dulu---bermain fisik, berinteraksi tatap muka, bersalaman, dan merasa bosan (karena bosan itu memicu kreativitas). Kalau pun mendesak, berikan mereka ponsel fitur (dumb phone) atau bahkan ajarkan menggunakan telpon bersama (telpon umum) jika hanya untuk komunikasi.
Simpan dulu kunci "motor sport" itu. Tunggu hingga usia mereka 16 tahun atau lebih. Tunggu sampai rem di otak mereka mulai pakem. Karena di jalan raya kehidupan, tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan mental anak-anak kita. Intinya bukan melarang tapi... Tunggu anak siap.
Komentar
Kirim Komentar