Teknologi Tepat Guna, Mahasiswa UTB Ubah Sampah Haurwangi Jadi Produk Berharga

Teknologi Tepat Guna, Mahasiswa UTB Ubah Sampah Haurwangi Jadi Produk Berharga

Dunia gadget kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Teknologi Tepat Guna, Mahasiswa UTB Ubah Sampah Haurwangi Jadi Produk Berharga yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.
Teknologi Tepat Guna, Mahasiswa UTB Ubah Sampah Haurwangi Jadi Produk Berharga

Inisiatif Mahasiswa Universitas Teknologi Bandung untuk Meningkatkan Kesejahteraan Desa Haurwangi

Upaya kolektif untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing masyarakat desa terus berjalan. Kali ini, inisiatif datang dari civitas akademika Universitas Teknologi Bandung (UTB) yang turun langsung mendampingi warga Desa Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa BEM Berdampak (PKM–BEM Berdampak) tahun anggaran 2025, para mahasiswa mengubah paradigma pengelolaan sampah menjadi sebuah inovasi bernilai ekonomi.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Program yang didukung oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPTM) Kemdiktisaintek ini melibatkan 20 mahasiswa UTB. Mereka didampingi oleh tiga dosen, yakni Sri Erina Damayanti, S.T., M.Kom, Dr. Rina Indrayani, S.E., M.M., dan Mochamad Saidiman, S.T., M.T.. Kegiatan ini difokuskan untuk membantu masyarakat menguasai teknologi pengolahan sampah, manajemen bisnis dasar, hingga strategi branding dan pemasaran digital. Metode yang digunakan meliputi pelatihan intensif, workshop, dan praktik langsung di lapangan.

Rektor Universitas Teknologi Bandung, Dr. Muchammad Naseer, S.Kom., M.T., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata tridarma perguruan tinggi. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, terutama dalam adaptasi teknologi. "Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul di ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di masyarakat," tutur Dr. Naseer melalui keterangan tertulis pada Kamis 13 November 2025.

Ia menekankan, inovasi yang dihadirkan harus selaras dengan kebijakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, yakni inovasi berkelanjutan berbasis teknologi. "Desa membutuhkan sentuhan teknologi yang membumi, mudah diterapkan, dan relevan dengan kondisi sosial ekonomi setempat," ujarnya.

Dari Teori Menjadi Keterampilan Praktis

Ketua BEM UTB, Celvin Weraldy, menjelaskan bahwa dalam program ini, mahasiswa memposisikan diri sebagai fasilitator. Mereka menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktis warga di lapangan. Pelatihan yang diberikan mencakup keterampilan teknis, seperti penggunaan mesin press sampah dan mesin peleleh plastik, hingga keterampilan manajerial seperti pencatatan keuangan harian dan pemanfaatan media sosial untuk promosi produk.

"Kami ingin masyarakat tidak hanya mendapat teori, tetapi langsung menguasai keterampilan praktis yang bisa digunakan untuk usaha mereka. Itulah semangat PKM–BEM Berdampak," ujar Celvin. Dalam pelaksanaannya, UTB menggandeng dua kelompok masyarakat sebagai mitra, yaitu Pengolah sampah non Organik CV. Fachri Putra Desa Haurwangi dan Kelompok Pengelola Sampah Masyarakat. Kedua mitra tersebut tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga menerima hibah alat berupa mesin press plastik dan mesin peleleh plastik.

Berkat pendampingan dan alat teknologi inovasi tersebut, warga berhasil mengolah limbah plastik menjadi beragam produk bernilai ekonomi. Produk-produk tersebut antara lain pot tanaman, paving block daur ulang, serta aneka kerajinan dan suvenir.

Apresiasi Penuh dari Pemerintah Desa

Upaya mahasiswa UTB ini mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah setempat. Kepala Desa Haurwangi, Sapyanudin, S.H., M.M., mengaku sangat merasakan dampak positif dari program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan sangat relevan, khususnya dalam menjawab isu pengolahan sampah yang selama ini menjadi persoalan bersama.

"Kami merasakan manfaat nyata dari kegiatan ini. Warga kami mendapatkan ilmu baru yang langsung bisa dipraktikkan," ucap Sapyanudin. Ia menegaskan, kerja sama antara pemerintah desa dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat agar desa dapat berkembang lebih cepat. Sapyanudin juga menyoroti pentingnya akses terhadap pengetahuan digital dan teknologi bagi masyarakat pedesaan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Melalui kegiatan di Desa Haurwangi, UTB berharap dapat menciptakan model pemberdayaan desa yang efektif dan dapat direplikasi di wilayah lain, sekaligus memperkuat ekosistem pengabdian masyarakat yang berkelanjutan.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar