Tanda Makanan Kukusan Tidak Layak Dimakan Lagi

Tanda Makanan Kukusan Tidak Layak Dimakan Lagi

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Tanda Makanan Kukusan Tidak Layak Dimakan Lagi, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.


Makanan yang diolah dengan cara dikukus, seperti ubi, singkong, dan kentang, kini semakin diminati oleh generasi Z. Metode pengolahan ini dinilai lebih sehat karena mengandung lemak yang rendah dan mampu menjaga nutrisi dalam bahan makanan lebih baik dibandingkan dengan cara digoreng. Namun, meskipun lebih sehat, makanan kukusan juga memiliki risiko kerusakan jika tidak disimpan dengan benar.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, menjelaskan bahwa makanan yang digoreng cenderung tahan lama karena minyak berfungsi sebagai pengawet alami dan mengurangi kadar udara. Sementara itu, makanan kukus memiliki kadar udara yang lebih tinggi, sehingga lebih rentan terhadap pertumbuhan bakteri, jamur, atau ragi.

Penting untuk mengenali tanda-tanda makanan kukusan tidak boleh dimakan lagi. Menurut dr Ardian, tanda-tanda pada umbi-umbian yang dikukus biasanya muncul dalam waktu 1–3 hari pada suhu ruang, atau bisa lebih lama jika disimpan di lemari es.

Tanda-Tanda Makanan Kukusan Tidak Boleh Dimakan Lagi

Berikut adalah beberapa tanda-tanda yang perlu diperhatikan:

  • Perubahan Warna
    Kulit atau daging umbi tampak menghitam, kecokelatan, atau muncul bercak hijau maupun hitam. Contohnya, ubi atau kentang yang awalnya berwarna oranye atau kuning berubah menjadi gelap dan lembek.

  • Aroma Tidak Sedap
    Tercium bau asam, busuk, atau mirip alkohol yang bukan merupakan aroma alami bahan segar. Kondisi ini biasanya terjadi akibat proses fermentasi oleh bakteri.

  • Perubahan Tekstur
    Umbi terasa sangat lembek, berlendir, atau mengeluarkan banyak udara. Misalnya, jagung kukus yang seharusnya kenyal berubah menjadi lembap dan ditumbuhi jamur, sedangkan singkong atau kentang bisa berubah menjadi seperti bubur.

  • Muncul Jamur atau Gelembung
    Ada bercak putih, hijau, atau terlihat gelembung gas di permukaan yang menandakan aktivitas mikroba.

  • Rasa Tidak Normal
    Apabila sempat mencoba (meski tidak disarankan bila sudah mencurigakan), rasanya menjadi asam atau pahit.

Cara Menyimpan Makanan yang Dikukus

Untuk menjaga makanan tetap aman dikonsumsi dan mempertahankan nilai gizinya, berikut cara menyimpan makanan yang dikukus:

  • Makan Segera Setelah Matang
    Ubi, singkong, kentang, atau jagung sebaiknya dikonsumsi sesaat setelah dimasak agar cita rasa dan nutrisinya tetap maksimal.

  • Dinginkan dengan Cepat dan Simpan di Kulkas
    Jangan biarkan makanan berada pada suhu ruang lebih dari dua jam. Setelah itu, segera simpan di lemari es dan konsumsi dalam keadaan dingin atau hangatkan satu kali sebelum dimakan.

  • Hindari Memanaskan Berkali-kali
    Proses pemanasan dan pendinginan berulang dapat mengurangi kualitas gizi serta meningkatkan potensi kontaminasi.

Tanda-tanda makanan kukusan tak boleh dimakan lagi perlu diperhatikan agar kita terhindar dari risiko kesehatan. Ketika makanan menunjukkan perubahan warna, berbau tidak sedap, bertekstur lembek atau berlendir, hingga ditumbuhi jamur, itu menandakan proses pembusukan telah terjadi. Mengabaikan tanda-tanda tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terpapar bakteri berbahaya yang memicu keracunan makanan.

Kesimpulan: Semoga informasi ini berguna bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar