
Harga emas mengalami kenaikan signifikan dalam setahun terakhir, mencapai lebih dari 70%. Hal ini menyebabkan sejumlah industri perhiasan memilih untuk menurunkan kemurnian emas dalam produknya agar harga tetap terjangkau bagi konsumen. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita menjelaskan bahwa kenaikan harga emas telah berdampak pada biaya produksi yang semakin tinggi.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Menurut Reni, pelaku industri perhiasan memutuskan untuk menggunakan kadar emas yang lebih rendah sebagai bahan baku. Tujuannya adalah agar konsumen tetap bisa membeli perhiasan emas sebagai alat investasi. “Kami melihat adanya kebutuhan untuk menyesuaikan kadar emas agar harga tetap kompetitif,” ujar Reni di kantornya, Rabu (31/12).
Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kepastian ketersediaan emas melalui bank bullion. Dengan langkah ini, diharapkan industri perhiasan dapat tetap tumbuh secara positif, terutama di pasar ekspor.
Tren Harga Emas Terkini
Berdasarkan data Laku Emas, harga beli emas telah naik sebesar 70,28% dalam 12 bulan terakhir, menjadi Rp 2,37 juta per gram pada bulan ini. Sementara itu, harga jual emas naik sebesar 66,2% menjadi Rp 2,25 juta per gram.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa emas perhiasan masih menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi pada November 2025. Inflasi pada periode tersebut secara bulanan mencapai 0,17%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menjelaskan bahwa emas masuk ke dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya kembali menjadi penyumbang utama inflasi dengan inflasi sebesar 1,21% dan andil inflasi sebesar 0,09% pada November 2025,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/12).
Emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang terbesar dalam kelompok tersebut. Selain itu, logam mulia juga telah mengalami inflasi selama 27 bulan berturut-turut. Pada November 2025, BPS mencatat emas perhiasan mengalami inflasi sebesar 3,99%. “Ini dengan andil inflasi 0,08% dan lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Pudji.
Dampak Kenaikan Harga Emas
Kenaikan harga emas tidak hanya memengaruhi industri perhiasan, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi secara keseluruhan. Konsumen yang sebelumnya membeli emas sebagai alat investasi kini harus mempertimbangkan alternatif lain karena harga yang semakin mahal.
Beberapa pihak juga mulai mencari solusi untuk mengurangi tekanan harga emas, seperti penggunaan emas dengan kadar lebih rendah atau diversifikasi investasi. Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait terus memantau perkembangan harga emas guna memastikan stabilitas ekonomi.
Dalam beberapa waktu ke depan, diperkirakan harga emas akan terus mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor, termasuk permintaan pasar, kondisi geopolitik, dan kebijakan moneter. Perusahaan-perusahaan perhiasan dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan situasi ini agar tetap dapat bersaing di pasar global.
Komentar
Kirim Komentar