Sejarah Baru Kesehatan Indonesia: Pionir CT Scan Photon Counting di Asia

Sejarah Baru Kesehatan Indonesia: Pionir CT Scan Photon Counting di Asia

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Sejarah Baru Kesehatan Indonesia: Pionir CT Scan Photon Counting di Asia yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.
Sejarah Baru Kesehatan Indonesia: Pionir CT Scan Photon Counting di Asia

Teknologi CT Scan Photon Counting Resmi Beroperasi di Indonesia

Indonesia baru saja mencatatkan sejarah dalam dunia kesehatan. Untuk pertama kalinya di Asia, teknologi CT Scan Photon Counting resmi beroperasi di RS Pantai Indah Kapuk (RS PIK), Jakarta Utara. Inovasi ini disebut akan merevolusi cara dokter mendiagnosis penyakit lebih cepat, lebih akurat, dan jauh lebih aman bagi pasien.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Peresmian alat canggih ini dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus, bersama jajaran direksi RS PIK dan Siemens Healthineers, perusahaan asal Jerman yang mengembangkan teknologi tersebut. Benjamin Paulus menyebut kehadiran photon counting CT sebagai simbol kemajuan kesehatan nasional.

"Ini bukan hanya tentang alat, tapi tentang bagaimana Indonesia kini sejajar dengan negara maju dalam teknologi kedokteran," ujarnya pada Kamis, 6 November 2025 di RS PIK Jakarta.

Presiden Direktur Siemens Healthineers Indonesia, Alfred, menilai implementasi Naeotom Alpha.Pro di RS PIK merupakan langkah penting dalam pengembangan layanan kesehatan presisi di Indonesia. "Penerapan teknologi ini diharapkan dapat mempercepat dan meningkatkan kualitas proses diagnostik di rumah sakit," katanya.

Keunggulan Teknologi Photon Counting CT

Teknologi ini menawarkan resolusi gambar dua kali lebih tajam dari CT scan konvensional dan paparan radiasi hingga 40 persen lebih rendah. Hal ini membuatnya aman untuk anak-anak dan pasien kanker yang membutuhkan pemeriksaan rutin.

Beda dari CT Scan Biasa
Photon counting CT menangkap langsung setiap partikel sinar-X dan mengubahnya menjadi sinyal digital. Hasilnya? Gambar jauh lebih detail, bahkan bisa membedakan jenis jaringan tubuh. Menurut dr. Dini Kusumawardhani, radiolog senior RS PIK, Photon counting CT adalah game changer. Ia bisa deteksi kanker, penyakit jantung, sampai kelainan saraf lebih dini dan presisi.

Teknologi ini memungkinkan dokter mendeteksi klasifikasi jantung, plak arteri, hingga resiko stroke sebelum gejala muncul. Di bidang onkologi, ia juga membantu memantau respons terapi kanker dengan lebih akurat. Pasien kini bisa menikmati pemindaian super cepat hanya dalam beberapa detik tanpa menurunkan kualitas hasil.

Pusat Pelatihan Pertama di Asia

Direktur RS PIK, dr. Michael Tan, menyebut teknologi ini bukan sekadar pencitraan, tapi investasi besar bagi masa depan layanan kesehatan. "Dulu banyak yang berobat ke luar negeri buat CT scan beresolusi tinggi. Sekarang, semua bisa dilakukan di Indonesia dengan kualitas global," ujarnya.

Teknologi ini mampu meningkatkan ketepatan diagnosis dengan menampilkan hasil pencitraan yang lebih detail serta dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT scan konvensional. "Dengan teknologi ini, satu kali pemindaian dapat menghasilkan gambar dengan ketajaman tinggi dan tingkat paparan radiasi yang lebih rendah, sehingga aman bagi pasien bayi dan anak-anak," ujar Direktur Utama RS PIK, Silvanus Chakra Puspita.

RS PIK bahkan akan bekerjasama dengan Kemenkes dan Siemens Healthineers membentuk pusat pelatihan photon counting pertama di Asia. Kemenkes mendukung penuh langkah RS PIK dan tengah menyiapkan regulasi nasional agar teknologi ini bisa diadopsi lebih luas. Meski harga satu unit mencapai Rp70 miliar, pemerintah berharap inovasi ini segera hadir di berbagai rumah sakit di Indonesia.

"Langkah ini membuktikan Indonesia tidak tertinggal dalam inovasi medis global, kita justru jadi pelopor di Asia," tutup Benjamin Paulus.


Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar