
Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) terus mengalami tekanan di pasar modal. Pada akhir perdagangan Senin (15/12), harga saham WIFI turun 2,21% atau 80 poin menjadi Rp 3.540 per saham. Meskipun mengalami penurunan secara bulanan, sepanjang tahun ini saham WIFI masih mampu melonjak hingga 763,41%.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dari data yang tersedia, secara month to date, saham WIFI telah mengalami penurunan sebesar 5,09%. Namun demikian, kenaikan yang terjadi sepanjang tahun berjalan menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan.
Direktur Solusi Sinergi Digital, Shannedy Ong, menjelaskan bahwa penurunan harga saham saat ini bukanlah indikasi dari penurunan kinerja bisnis perusahaan. Ia menilai bahwa penurunan tersebut lebih merupakan respons pasar terhadap perubahan struktur modal yang digunakan untuk mendukung ekspansi perusahaan.
“Koreksi ini bersifat sementara dan disebabkan oleh perubahan struktur modal yang sangat agresif,” ujar Shannedy, Jumat (12/12/2025).
Beban bunga yang meningkat juga menjadi faktor utama dalam penurunan laba bersih perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2025, beban bunga WIFI melonjak sebesar 179,22% secara YoY dari Rp 73,27 miliar menjadi Rp 204,59 miliar.
Pada kuartal III-2025, biaya keuangan WIFI mencapai Rp 117,35 miliar, naik 160,4% secara kuartalan dibandingkan posisi kuartal III-2025 yang hanya Rp 45,07 miliar. Penyebabnya adalah peningkatan utang obligasi dari Rp 600 miliar menjadi Rp 2,5 triliun. Dana tersebut digunakan untuk pendanaan ekspansi perusahaan.
Shannedy menjelaskan bahwa peningkatan beban bunga memang berdampak pada laba bersih jangka pendek. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan biaya pertumbuhan atau cost of growth, bukan kerugian.
Pada kuartal III-2025, laba bersih WIFI mencapai Rp 102,41 miliar, turun 29,4% secara QnQ dari Rp 145,13 miliar di kuartal II-2025. Namun secara akumulasi, laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk WIFI mencapai Rp 260,09 miliar di periode Januari–September 2025. Angka ini meningkat 71,03% YoY dari Rp 152,07 miliar.
Menurut Shannedy, reaksi pasar terhadap tekanan laba sesaat ini wajar. Ia yakin bahwa investasi yang dilakukan saat ini akan menjadi fondasi untuk meningkatkan pendapatan di kuartal mendatang.
“Pasar belum sepenuhnya menghargai valuasi dari kemitraan dengan NTT East karena dampaknya ke bottom line membutuhkan waktu inkubasi sekitar enam sampai 12 bulan,” ujarnya.
Analisis dari Equity Research Analyst BCA Sekuritas, Selvi Ocktaviani, menyatakan bahwa segmen telekomunikasi akan menjadi kontributor utama pertumbuhan dan laba bersih WIFI ke depannya.
Lebih lanjut, BCA Sekuritas merekomendasikan beli saham WIFI dengan target harga Rp 4.000. Target ini mencerminkan valuasi 10,2 kali. Jika menggunakan harga penutupan Selasa (15/12) di Rp 3.540, maka ada potensial upside sebesar 12,99%.
Komentar
Kirim Komentar