Prodi Agroteknologi Unipa Kembangkan Serabut Kelapa Jadi Media Tanam Berdaya Ekonomi

Prodi Agroteknologi Unipa Kembangkan Serabut Kelapa Jadi Media Tanam Berdaya Ekonomi

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Prodi Agroteknologi Unipa Kembangkan Serabut Kelapa Jadi Media Tanam Berdaya Ekonomi yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.
Prodi Agroteknologi Unipa Kembangkan Serabut Kelapa Jadi Media Tanam Berdaya Ekonomi

Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Universitas Nusa Nipa Maumere

Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere melalui Program Studi Agroteknologi terus mengembangkan inovasi pertanian berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengolah serabut kelapa menjadi produk bernilai tinggi seperti cocopeat dan cocofiber.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dosen Prodi Agroteknologi, Mario Malado, menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari kondisi di Kabupaten Sikka yang memiliki perkebunan kelapa cukup luas. Namun, pemanfaatan limbah serabut kelapa masih minim. Selama ini, petani kelapa di Sikka umumnya menjual buah kelapa utuh atau dalam bentuk biji setelah mengupas kulitnya. Sementara serabut kelapa sering dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan.

Melihat peluang tersebut, Prodi Agroteknologi berinisiatif membuat inovasi pengolahan limbah pertanian agar memiliki nilai ekonomi bagi petani. Momentum ini semakin kuat ketika kampus menerima hibah peralatan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi berupa mesin pengurai serabut kelapa.

“Dengan alat ini, kami bersama mahasiswa mulai mencoba mengolah serabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber. Sejauh pengamatan kami, di Kabupaten Sikka belum ada yang mengolah limbah ini,” ujar Mario.

Mario menjelaskan bahwa satu buah serabut kelapa yang masuk ke mesin pengurai akan terpisah menjadi tiga komponen: * Serabut panjang (cocofiber) * Serabut pendek yang lebih halus * Serbuk halus (cocopeat)

Cocopeat dinilai sangat cocok digunakan di wilayah tropis seperti Sikka yang kerap mengalami kekurangan air. Mario menyebut cocopeat memiliki kelebihan besar dalam kemampuan menyimpan air.

“Dalam satu kilogram cocopeat, ia bisa menahan hingga 16 liter air. Selain itu, cocopeat mengandung unsur hara seperti fosfor dan kalium yang baik untuk tanaman,” jelasnya.

Namun ia menegaskan bahwa cocopeat memiliki kadar nitrogen rendah sehingga biasanya dicampur dengan bahan lain ketika digunakan untuk budidaya, terutama di greenhouse.

Hingga saat ini, produksi cocopeat dan cocofiber oleh Prodi Agroteknologi masih dalam tahap berjalan. Mesin pengurai sabut kelapa yang dimiliki mampu mengolah sekitar 100 kilogram serabut kelapa dalam waktu kurang dari satu menit. Dari satu karung serabut kelapa, mereka dapat menghasilkan 8 hingga 9 kilogram bahan dengan waktu olah sekitar satu jam.

Mengenai pasokan bahan baku, prodi lebih memilih membeli serabut kelapa dari petani agar tercipta hubungan saling menguntungkan. Meski produksi sudah berlangsung, pemasaran belum sepenuhnya dijalankan. Mario menegaskan bahwa produk tidak bisa dijual begitu saja karena masih memerlukan tahapan lanjutan hingga menjadi media tanam siap pakai.

Karena itu, prodi membutuhkan kerja sama dengan pihak luar, baik pemerintah maupun mitra industri. “Kami bisa menyesuaikan standar sesuai permintaan. Yang penting ada pihak yang bersedia bekerja sama.”

Mario berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat mendukung inovasi ini. Bentuk dukungan bisa berupa pembelian produk untuk kebutuhan pertanian, sehingga menjadi contoh nyata bagi petani di Kabupaten Sikka. Selain itu, kerja sama dengan pihak luar sangat memungkinkan jika ada kebutuhan bahan setengah jadi seperti cocopeat dan cocofiber dalam jumlah besar.

Mario menekankan bahwa mahasiswa Agroteknologi tidak hanya belajar teori, tetapi diwajibkan terjun ke lapangan untuk praktik dan menghasilkan produk nyata. Kampus menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti laboratorium, lahan praktik seluas kurang lebih dua hektar, serta peralatan pengolahan serabut kelapa.

“Tujuannya agar ketika lulus, mahasiswa bukan hanya punya ilmu, tetapi juga pengalaman praktis dan keterampilan,” katanya.

Menutup wawancara, Mario mendorong generasi muda untuk memilih Prodi Agroteknologi UNIPA. “Dosen-dosennya asik, fasilitas lengkap, ada laboratorium, kebun praktik, dan alat-alat pendukung produksi. Selain belajar budidaya, mahasiswa juga belajar teknologi yang relevan dengan kebutuhan pertanian modern.”


Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar