Pabrik Bioetanol Toyota dan Pertamina di Lampung Siap Produksi 60.000 Kiloliter Tahunan

Pabrik Bioetanol Toyota dan Pertamina di Lampung Siap Produksi 60.000 Kiloliter Tahunan

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Pabrik Bioetanol Toyota dan Pertamina di Lampung Siap Produksi 60.000 Kiloliter Tahunan yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.


aiotrade, JAKARTA — Toyota Motor Corporation mengumumkan komitmen untuk menanamkan investasi sebesar Rp2,5 triliun di Indonesia dalam rangka pengembangan industri bioetanol. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang menargetkan penerapan mandatory blending E10 pada 2027. Fasilitas produksi bioetanol yang akan dibangun nantinya mampu memproduksi sebanyak 60.000 kiloliter per tahun.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu dengan CEO Toyota Motor Corporation untuk kawasan Asia Masahiko Maeda di Jepang pada Jumat (7/11/2025). Menurut Todotua, langkah Toyota selaras dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi serta transisi menuju ekonomi hijau melalui pengembangan biofuel. Hal ini semakin diperkuat dengan meningkatnya harga impor BBM.

"Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan mandatory blending bioethanol dalam bensin sebesar 10% [E10] yang akan mulai diterapkan pada tahun 2027," ujar Todotua dalam keterangannya, Senin (10/11/2025). "Kami melihat potensi besar kerja sama dengan Toyota untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bioetanol di kawasan."

Todotua menjelaskan bahwa kebutuhan bahan bakar dalam negeri yang mencapai lebih dari 40 juta kiloliter per tahun akan mendorong permintaan bioetanol hingga sekitar 4 juta kiloliter pada 2027. Oleh karena itu, pembangunan pabrik pendukung harus dimulai sejak sekarang agar Indonesia tidak kehilangan momentum.

Sebagai proyek percontohan, Toyota dan Pertamina New Renewable Energy (NRE) akan memulai kerja sama pengembangan pabrik bioetanol di Lampung. Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi 60.000 kiloliter per tahun, dengan target pembentukan perusahaan patungan (joint venture) pada awal 2026.

“Bahan bakunya juga tidak hanya dari perusahaan tapi juga melibatkan petani dan koperasi tani setempat sehingga juga dapat menggerakan perekonomian di daerah,” klaim Todotua.

Selain meningkatkan pasokan energi bersih, proyek ini diharapkan memperluas lapangan kerja serta memperkuat rantai pasok biomassa dalam negeri.

Toyota melalui asosiasi riset Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT) juga tengah mengembangkan teknologi bioetanol generasi kedua berbasis biomassa non-pangan, seperti limbah pertanian dan tanaman sorgum. Teknologi tersebut dinilai relevan dengan karakter agrikultur Indonesia yang memiliki beragam bahan baku potensial, seperti tebu, padi, singkong, kelapa sawit, dan aren.

Sementara itu, Maeda mengklaim bahwa Toyota telah berhasil memiliki teknologi mesin kendaraan yang efisien dan ramah lingkungan dengan penggunaan bahan bakar E20, bahkan dari riset yang dikembangkan bahan bakar hijau tersebut telah diujicobakan dalam mobil balap Super Formula.

“Mesin dengan bahan bakar E20 dan Hybrid EV merupakan teknologi yang matching untuk digunakan dalam industri mobility saat ini,” ujar Maeda.

Adapun negara seperti Brazil sedang mengkaji kebijakan E100, yang artinya 100% bahan bakar berasal dari bioetanol. Kebijakan serupa juga diambil oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, RRT, India, Perancis, Thailand dan Filipina yang sudah menerapkan kebijakan E10—E20.

Jepang merupakan salah satu mitra ekonomi utama Indonesia. Sejak berlakunya Indonesia–Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) pada 2008, nilai perdagangan kedua negara terus meningkat mencapai US$35,7 miliar. Sementara dalam lima tahun terakhir, investasi Jepang di Indonesia mencapai US$18,89 miliar, menjadikannya investor asing terbesar keempat dengan pertumbuhan rata-rata tahunan 12,4%.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar