
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pola Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia
Data yang dirilis oleh MapBiomas Indonesia Fire menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Kalimantan dan Sumatra, tetapi juga berkaitan erat dengan aktivitas manusia. Analisis ini dilakukan berdasarkan jenis tutupan lahan serta kedekatannya dengan area yang mengalami perubahan bentang alam akibat tindakan manusia.
Sesilia Maharani Putri, Koordinator Teknis MapBiomas Fire Indonesia, menjelaskan bahwa temuan ini membuktikan hubungan kuat antara kebakaran dan perubahan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Menurutnya, area-area di Kalimantan dan Sumatra sering kali bersinggungan dengan lokasi yang mengalami pembukaan lahan, seperti perkebunan sawit, kebun kayu, maupun pertanian lainnya.
Data MapBiomas menunjukkan bahwa sekitar 51% dari kebakaran di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa terjadi di wilayah yang dekat dengan aktivitas manusia. Hal ini mencakup kebakaran di lahan sawit, kebun kayu, atau area pertanian.
Jenis Tutupan Lahan dan Risiko Kebakaran
Berdasarkan klasifikasi tutupan lahan, kebakaran di Indonesia paling sering terjadi pada kelas tumbuhan non-hutan. Kategori ini mencakup area gambut yang tidak bervegetasi, savana, hutan rawa, serta semak belukar. Sesilia menjelaskan bahwa daerah-daerah ini secara alami lebih rentan terhadap kebakaran.
Di sisi lain, wilayah Bali–Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku memiliki pola kebakaran yang berbeda. Sebagian besar kebakaran di wilayah ini terjadi di kelas tutupan alami, yaitu sekitar 91%. Hal ini menunjukkan bahwa kebakaran di wilayah tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor alami daripada aktivitas manusia.
Kebakaran Lahan Gambut di Wilayah Kalimantan dan Sumatra
Analisis tambahan dilakukan dengan memisahkan kebakaran berdasarkan jenis tanah, yakni lahan gambut dan tanah mineral. Secara nasional, sekitar 40% dari kebakaran di Indonesia terjadi di lahan gambut, atau setara dengan sekitar 3,8 juta hektare dari total luasan yang terbakar.
Namun, ketika dilihat secara regional, Kalimantan dan Sumatra menunjukkan pola yang berbeda. Di kedua pulau ini, mayoritas kebakaran terjadi di kawasan gambut, dan luasnya lebih besar dibandingkan kebakaran di tanah mineral.
Sebaran spasial dari MapBiomas Fire juga menunjukkan bahwa konsentrasi kebakaran gambut sangat tinggi di Kalimantan dan Sumatra. Sementara itu, wilayah seperti Jawa, Bali–Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua lebih didominasi oleh kebakaran di tanah mineral.
Penyebab dan Dampak Kebakaran
Kebakaran di lahan gambut cenderung lebih sulit dipadamkan dan memiliki dampak lingkungan yang lebih parah. Karena itu, penting untuk meningkatkan pemantauan dan pengelolaan lahan gambut, terutama di wilayah yang rentan terhadap kebakaran.
Selain itu, kebakaran yang terjadi di area yang dekat dengan aktivitas manusia menunjukkan bahwa perlu adanya kesadaran dan regulasi yang lebih ketat dalam penggunaan lahan. Langkah-langkah pencegahan dan mitigasi harus diterapkan agar dapat mengurangi risiko kebakaran di masa depan.
Dengan data dan analisis yang diberikan oleh MapBiomas Fire Indonesia, diharapkan masyarakat dan pemerintah dapat lebih memahami pola kebakaran dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi lingkungan dan sumber daya alam.
Komentar
Kirim Komentar