Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan dari Pelepah Jambe
Upaya mengurangi limbah plastik dan polyfoam kembali menemukan harapan baru melalui inovasi yang dihasilkan dari kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pelaku industri kecil. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Trisakti menghadirkan sebuah produk kemasan ramah lingkungan bernama “Kempling” (Kemasan Pelepah Jambe Peka Lingkungan). Produk ini dibuat dari bahan dasar pelepah jambe atau pinang yang memiliki kekuatan dan daya urai alami yang tinggi.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Inovasi ini diinisiasi oleh Dr. Ariani Rachman, seorang pakar desain produk dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Ia menjelaskan bahwa pelepah jambe memiliki potensi besar untuk menjadi pengganti bahan kemasan plastik dan kertas yang sulit terurai. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh perajin lokal.
“Para perajin masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya pengetahuan dalam memilih bahan baku yang tepat, belum memahami penggunaan mesin hot press, serta sistem kerja dan lingkungan produksi yang belum ergonomis,” ujar Dr. Ariani dalam keterangan resminya.
Melalui kegiatan PKM ini, tim Trisakti memberikan pendampingan menyeluruh bagi mitra perajin di Desa Gintung, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, salah satunya adalah Mocla Coir, usaha kecil yang dikelola oleh Achmad Yunus. Pendampingan dilakukan dalam berbagai aspek, mulai dari pelatihan teknis penggunaan mesin hot press, penataan ruang kerja yang efisien dan bersih, hingga strategi pemasaran berbasis digital.

Prof. Wegig Murwonugroho, pakar desain produk dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, menjelaskan bahwa mahasiswa turut berperan aktif dalam mendukung proyek ini.
“Mahasiswa membantu merancang desain kemasan, membuat materi promosi visual, serta mengelola media sosial bisnis untuk memperluas jangkauan pasar produk mitra,” paparnya.
Pakar mesin dari Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti, Dr. Sentot, menambahkan bahwa tim juga mengembangkan inovasi mesin hot press yang mampu menghasilkan kemasan berbentuk lebih presisi dengan kualitas yang konsisten.
“Kini mitra telah memiliki alat produksi sendiri, yang meningkatkan kemandirian dan kapasitas usaha mereka. Lingkungan kerja yang dulu sempit dan berdebu kini berubah menjadi lebih tertata, bersih, dan nyaman,” jelas Dr. Sentot.
Sementara itu, lanjut Dr. Ariani, peningkatan teknis dan efisiensi produksi, serta pendekatan pemasaran digital juga menjadi salah satu tonggak penting dalam program ini. Melalui platform seperti Instagram bisnis, produk “Kempling” kini dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan menarik perhatian konsumen yang peduli lingkungan.
“Pendekatan digital ini menunjukkan bahwa perajin lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai keberlanjutan,” tambah Dr. Ariani.
Dari sisi pelaku usaha, Achmad Yunus mengakui bahwa kehadiran tim Trisakti membawa dampak positif secara nyata bagi perkembangan usahanya.
“Kami mendapatkan banyak manfaat, mulai dari peningkatan keterampilan teknis, efisiensi kerja, hingga meningkatnya nilai jual produk. Hasilnya adalah ‘Kempling’—kemasan berbahan pelepah jambe yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi,” ungkapnya.
Menurut Dr. Ariani, program PKM “Kempling” ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara dunia akademik dan industri kecil dapat menghasilkan inovasi berkelanjutan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Menutup kegiatan, Dr. Ariani menyampaikan apresiasi atas dukungan Hibah PKM Batch 3 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.
“Program ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin dan dukungan pemerintah mampu mendorong inovasi yang tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga ekologis,” pungkasnya.
Komentar
Kirim Komentar