Goethe-Institut dan ASTRAtech Bawa Bahasa Jerman ke Pendidikan Vokasi

Goethe-Institut dan ASTRAtech Bawa Bahasa Jerman ke Pendidikan Vokasi

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Goethe-Institut dan ASTRAtech Bawa Bahasa Jerman ke Pendidikan Vokasi yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kolaborasi Strategis antara Goethe-Institut dan ASTRAtech

Goethe-Institut, lembaga kebudayaan Jerman, mengumumkan kolaborasi strategis dengan ASTRAtech (Politeknik Astra) untuk mengintegrasikan kelas bahasa Jerman ke dalam kurikulum pendidikan vokasi. Kerja sama ini bertujuan memperkuat kemitraan institusional yang berkelanjutan serta mendorong pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan pada pembukaan acara KarriereKompass di Ciputra Artpreneur Gallery, Jakarta, Jumat (7/11). Acara ini menjadi momen penting dalam menjalin hubungan kerja sama antara kedua institusi.

Ruang Lingkup Kerja Sama

Kolaborasi ini mencakup beberapa bidang, termasuk pengembangan program pendidikan vokasi, pertukaran mahasiswa dan dosen, pelatihan teknis dan sertifikasi kompetensi, serta riset dan pengembangan industri. Integrasinya bahasa Jerman dalam pendidikan vokasi dinilai sebagai langkah strategis untuk menyiapkan tenaga terampil Indonesia agar dapat bersaing di pasar kerja global.

Di satu sisi, Jerman sedang menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar melalui ketersediaan sumber daya manusia, tetapi masih menghadapi tantangan seperti pengakuan kualifikasi, kemampuan bahasa, dan adaptasi budaya.

Peran Goethe-Institut dalam Pendidikan Vokasi

Direktur Goethe-Institut untuk Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas pendidikan vokasi di Indonesia.

“Kerja sama antara Goethe-Institut dan ASTRAtech merupakan langkah strategis dalam memperkuat pendidikan vokasi melalui penguasaan bahasa Jerman. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya kompetensi mahasiswa, tetapi juga membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas di bidang pelatihan tenaga terampil antara Indonesia dan Jerman,” ujar Constanze.

Dia berharap semakin banyak mahasiswa vokasi Indonesia yang siap memanfaatkan peluang karier di Jerman, sekaligus membawa keahlian dan semangat profesionalismenya.

Program German Language Immersion Class (GLIC)

Direktur ASTRAtech, Henri Paul, menambahkan bahwa kemitraan ini akan diwujudkan melalui peluncuran German Language Immersion Class (GLIC), program intensif yang memadukan pembelajaran bahasa, budaya, dan kesiapan kerja di Jerman.

“GLIC menargetkan capaian kompetensi hingga level B1 bahkan B2 sebagai langkah konkret menyiapkan mahasiswa ASTRAtech untuk studi lanjutan maupun karier profesional di Jerman,” jelas Henri.

Henry juga menegaskan, kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat ASTRAtech Dual System, yang menekankan sinergi antara pendidikan dan industri, serta memperluas jejaring kemitraan dengan ekosistem pendidikan dan industri di Jerman.

Tujuan KarriereKompass

Sementara itu, KarriereKompass bertujuan memberikan informasi lengkap bagi masyarakat yang tertarik untuk bekerja atau melanjutkan studi di Jerman. Fokus utama kegiatan ini menyajikan informasi mengenai persyaratan kerja dan studi, proses pengakuan kualifikasi profesional dari Indonesia, serta gambaran nyata tentang kehidupan dan budaya kerja di Jerman. Acara ini berperan sebagai pusat informasi bagi calon tenaga kerja dan pelajar yang ingin mempersiapkan diri secara matang sebelum memutuskan untuk bermigrasi.

Constanze menegaskan bahwa migrasi ke luar negeri bukanlah hal yang mudah. Selain kemampuan bahasa dan pemahaman budaya, calon pekerja juga perlu memiliki kualifikasi profesional yang diakui secara internasional. Karena itu, KarriereKompass menghadirkan berbagai mitra—mulai dari lembaga visa, GIZ, hingga perguruan tinggi di Jerman—untuk memberikan informasi menyeluruh agar peserta dapat mengambil keputusan yang tepat dan bermakna.

Penyelenggaraan Acara KarriereKompass

Kegiatan serupa sebelumnya telah digelar di Jakarta pada 2023 dan di Bandung pada Juni 2025. “Tahun ini, jumlah pendaftar mencapai sekitar 1.300 orang, menunjukkan peningkatan minat yang signifikan dibandingkan dengan acara sebelumnya,” pungkas Contanze.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar