
Elon Musk Mendekati Status Triliuner
Elon Musk, CEO Tesla, baru saja mendapatkan langkah penting menuju sejarah. Pada Kamis waktu AS, ia memenangkan voting pemegang saham yang diadakan dalam rapat tahunan perusahaan. Hasil ini membuka peluang bagi Musk untuk menjadi manusia pertama dengan kekayaan mencapai USD 1 triliun.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Paket kompensasi fantastis yang diberikan kepada Musk sempat menjadi bahan perdebatan panjang. Banyak pihak, termasuk investor kecil, manajer dana pensiun besar, hingga Vatikan, mengkritik apakah seseorang layak menerima nilai sebesar itu. Namun, akhirnya lebih dari 75 persen pemegang saham yang hadir dalam rapat tersebut memberikan dukungan.
“Pemegang saham kita hebat,” ujar Musk setelah hasil voting diumumkan. “Tetap pegang saham Tesla kalian.”
Kemenangan ini menunjukkan bahwa kepercayaan sebagian besar investor terhadap Musk masih tinggi, meskipun Tesla belakangan ini mengalami penurunan penjualan, pangsa pasar, dan laba. Di Eropa, laporan terbaru menunjukkan bahwa penjualan Tesla kembali anjlok, termasuk penurunan drastis sebesar 50 persen di Jerman bulan lalu.
Beberapa pengamat berpendapat bahwa kontroversi Musk di ranah politik dan penyebaran teori konspirasi ikut memengaruhi kepercayaan konsumen. Meski begitu, bagi sebagian investor Tesla, Musk tetap dianggap memiliki “keajaiban”. Mereka mengingat bagaimana Tesla pernah nyaris bangkrut enam tahun lalu, sebelum Musk berhasil mengubahnya menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Meski telah menang dalam voting, jalan menuju status triliuner tidak otomatis. Musk harus memenuhi target besar yang ditentukan oleh dewan direksi, seperti meningkatkan valuasi Tesla hampai hampir enam kali lipat, memproduksi 20 juta mobil listrik dalam 10 tahun, serta menghadirkan 1 juta robot humanoid yang ia sebut sebagai “robot army”.
Jika sebagian target tersebut tercapai, Musk bisa mulai menerima pembagian saham bertahap dan kekayaannya berpotensi melampaui John D. Rockefeller, yang diperkirakan pernah mencapai USD 630 miliar dalam nilai saat ini. Forbes memperkirakan kekayaan Musk saat ini sekitar USD 493 miliar.
Beberapa investor besar seperti CalPERS dan dana kekayaan Norwegia menolak paket kompensasi tersebut, namun mayoritas pemegang saham tetap memberi lampu hijau. Dua lembaga pengawas perusahaan, ISS dan Glass Lewis, juga mengecam keras struktur kompensasi itu, membuat Musk menyebut mereka sebagai “teroris korporasi”.
Para pendukung Musk percaya bahwa paket ini justru penting untuk “mengunci” fokusnya di Tesla, terutama saat perusahaan bergerak ke fase baru yang lebih menekankan pada AI, mobil tanpa setir, software, dan robotika. Di mata Musk, ini bukan soal uang. Ia menyebut ingin memperbesar porsi kepemilikan sahamnya di Tesla menjadi hampir 30 persen agar ia punya kontrol lebih kuat atas arah perusahaan.
Ia mengaku tidak yakin ada orang lain yang bisa memegang kendali masa depan “robot army” Tesla dengan aman.
Dalam rapat yang sama, pemegang saham juga menyetujui Tesla boleh berinvestasi di xAI, salah satu perusahaan Musk lain. Sementara itu, proposal untuk mempermudah pemegang saham menggugat Tesla ditolak.
Saham Tesla sempat bergerak naik di perdagangan after-hours setelah pengumuman hasil voting, namun kembali stabil di sekitar USD 445,44.
Komentar
Kirim Komentar