Ekonomi Kreatif di Balik Penjara

Ekonomi Kreatif di Balik Penjara

Industri teknologi kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Ekonomi Kreatif di Balik Penjara yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Momen Viral yang Menggugah Kesadaran

Sebuah video yang tiba-tiba viral menunjukkan Nikita Mirzani tampil dalam live jualan dari dalam penjara. Bukan sekadar hiburan biasa, momen ini menjadi sebuah kejutan sosial yang memicu banyak pertanyaan. Di tengah banjir konten yang tidak berarah dan kerumunan orang yang meminta gift serta saweran seperti pengemis digital, muncul satu pertanyaan penting. Apakah ini menjadi tanda awal bahwa ada potensi ekonomi digital yang selama ini belum tersentuh dan bahkan belum kita pikirkan?

Momen tersebut seperti alarm yang berbunyi keras. Jika seseorang yang sedang menjalani hukuman bisa memanfaatkan ruang digital untuk berjualan, membuat konten, dan menghasilkan pendapatan, mengapa begitu banyak orang di luar sana yang hidup bebas justru menghabiskan waktu dengan konten yang tidak produktif? Dunia digital menawarkan ruang yang luas, tetapi tidak semua orang tahu cara memanfaatkannya dengan bijak.

Jumlah Narapidana yang Menjadi Peluang

Saat ini, jumlah narapidana di Indonesia mencapai sekitar 275 ribu jiwa per Mei 2025. Angka sebesar itu selama ini hanya dilihat sebagai beban negara, padahal ia bisa menjadi peluang besar bila diarahkan ke jalur yang benar. Jika sebagian dari mereka diberikan pembinaan ekonomi kreatif dan literasi digital, ekosistem yang terbentuk bisa sangat kuat. Mereka berpotensi menjadi pelaku live commerce, pembuat konten kreatif, penjual produk UMKM, hingga afiliator dengan jaringan pasar yang stabil.

Bayangkan manfaatnya. Narapidana yang kehilangan pekerjaan dapat tetap menghidupi keluarga dengan memanfaatkan live commerce dan pembuatan konten. Para pelaku UMKM bisa ikut bergerak karena produk mereka dijualkan langsung dari balik jeruji. Begitu bebas, para mantan narapidana tidak lagi memulai dari nol. Mereka sudah memiliki skill digital, memahami cara kerja algoritma, memiliki portofolio, dan bahkan memiliki audiens yang terbentuk dari masa mereka di dalam lapas. Modal awal seperti ini bisa membantu mereka melewati tembok stigma sosial dan hambatan administratif.

Potensi Ekonomi Digital yang Masih Terabaikan

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi kreatif tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal. Terkadang inovasi justru muncul dari tempat yang tak terduga. Dunia digital membuktikan bahwa batas fisik tidak selalu menjadi hambatan. Namun, inilah saatnya muncul sebuah pertanyaan besar yang akan menjadi bahan perdebatan di masa depan. Jika tubuh terkurung, apakah aktivitas digital yang memungkinkan seseorang "bergerak bebas" dianggap melanggar aturan atau justru masuk dalam kategori pembinaan yang produktif?

Dari sisi keamanan, tentu harus ada batasan. Tidak semua aktivitas digital boleh dilakukan oleh narapidana, terutama jika berpotensi disalahgunakan. Tetapi dari sisi pembinaan, peluang ini luar biasa besar. Selama ini banyak narapidana dibebani rutinitas monoton tanpa kegiatan produktif. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun tanpa keterampilan baru, tanpa pasar, tanpa kesempatan untuk menata ulang hidup. Dunia digital memberi mereka pintu masuk menuju masa depan yang lebih baik.

Pembinaan Digital sebagai Solusi Jangka Panjang

Selain itu, pembinaan digital juga dapat mengurangi beban negara. Kemandirian ekonomi para narapidana membuat keluarga mereka lebih sejahtera dan mengurangi kemungkinan mereka kembali melakukan pelanggaran hukum setelah bebas. Effect-nya akan terlihat dalam jangka panjang, terutama pada angka residivisme yang diharapkan turun.

Fenomena Nikita Mirzani live dari penjara adalah simbol bahwa ekonomi kreatif dapat hadir dari mana saja. Potensi ini terlalu besar untuk dibiarkan hilang begitu saja. Dengan populasi narapidana yang mencapai ratusan ribu, Indonesia sebenarnya sedang menyimpan peluang ekonomi digital yang luas. Bukan peluang untuk mengeksploitasi siapa pun, tetapi peluang untuk memberi kehidupan baru, keterampilan baru, dan jalan pulang bagi mereka.

Pertanyaannya kini berubah. Maukah kita melihat penjara bukan semata ruang hukuman, melainkan ruang produksi, ruang belajar, dan ruang lahirnya talenta ekonomi kreatif baru? Jika jawabannya ya, maka apa yang dilakukan Nikita hari ini bukan sekadar fenomena viral. Ia bisa menjadi penanda awal transformasi ekonomi digital Indonesia yang lebih inklusif dan manusiawi.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar