
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Era Digital dan Dampaknya pada Kemampuan Kognitif
Di era digital, kemudahan akses informasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), chatbot, dan media sosial memberikan akses instan terhadap berbagai jenis informasi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan teknologi ini bisa memiliki dampak negatif pada kemampuan kognitif manusia, khususnya generasi muda.
Fenomena yang dikenal sebagai 'brain rot' atau 'otak keropos' kini menjadi peringatan serius bagi banyak orang. Penelitian yang dilakukan oleh Shiri Melumad, profesor di Wharton School, University of Pennsylvania, mengungkapkan bahwa penggunaan AI dalam mencari informasi dapat mengurangi kedalaman pemikiran seseorang. Dalam eksperimen yang melibatkan 250 peserta, beberapa di antaranya menggunakan pencarian Google tradisional, sementara yang lain hanya mengandalkan ringkasan hasil AI.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang bergantung pada AI cenderung memberikan saran yang lebih umum dan kurang mendalam. Contohnya, mereka hanya menyebutkan "makan sehat, minum air cukup, tidur cukup," sedangkan peserta yang melakukan pencarian manual memberikan nasihat yang lebih lengkap, termasuk aspek kesehatan fisik, mental, dan emosional.
Eksperimen ini sejalan dengan studi lain yang mengevaluasi dampak AI pada otak. Sebuah penelitian di Massachusetts Institute of Technology (MIT) melibatkan 54 mahasiswa yang menulis esai menggunakan ChatGPT, Google, atau tanpa teknologi. Hasilnya menunjukkan bahwa pengguna ChatGPT memiliki aktivitas otak paling rendah, dengan 83 persen tidak mampu mengingat satu kalimat dari esai yang mereka tulis. Sebaliknya, peserta yang menggunakan pencarian manual di Google atau menulis tanpa teknologi dapat mengingat lebih banyak bagian dari tulisan mereka.
"Jika Anda tidak ingat apa yang ditulis, apakah Anda benar-benar peduli tentang issue yang Anda tulis?" tanya Nataliya Kosmyna, peneliti MIT. Temuan ini memicu kekhawatiran tentang dampak AI pada kemampuan menyimpan dan memahami informasi, terutama di bidang yang menuntut retensi tinggi.
Selain AI, media sosial juga dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif. Studi terbaru yang diterbitkan jurnal JAMA oleh University of California, San Francisco, menganalisis lebih dari 6.500 anak usia 9–13 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial seperti TikTok dan Instagram menunjukkan skor lebih rendah pada tes membaca, memori, dan kosakata dibandingkan mereka yang menggunakan media sosial lebih sedikit atau tidak sama sekali.
Dr. Jason Nagata, pemimpin studi, menjelaskan bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk scrolling mengurangi waktu untuk aktivitas yang lebih menstimulasi otak, seperti membaca atau tidur.
Meski demikian, penggunaan AI dan media sosial tidak sepenuhnya negatif jika diterapkan dengan bijak. Penelitian MIT menunjukkan bahwa mahasiswa yang menulis terlebih dahulu dengan kemampuan otak sendiri kemudian dibantu ChatGPT, menunjukkan aktivitas otak tertinggi. Strategi ini mirip dengan cara belajar matematika: memahami rumus dengan tangan sendiri sebelum menggunakan kalkulator.
Shiri Melumad menekankan pentingnya pendekatan aktif saat menggunakan AI, misalnya hanya memanfaatkan chatbot untuk menjawab pertanyaan kecil, sementara proses belajar mendalam tetap dilakukan melalui membaca buku atau sumber kredibel lainnya.
Para ahli juga menyarankan orang tua menetapkan zona bebas layar di rumah, seperti kamar tidur dan meja makan, agar anak fokus pada belajar, tidur, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Dengan kesadaran dan pengaturan penggunaan teknologi yang tepat, AI dan media sosial bisa menjadi alat bantu pembelajaran yang efektif, bukan sumber 'brain rot' yang melemahkan aktivitas otak.
Solusi untuk Mengoptimalkan Penggunaan Teknologi
Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk memaksimalkan manfaat teknologi sambil mengurangi risiko dampak negatif:
- Membatasi waktu penggunaan media sosial: Menetapkan batas waktu harian untuk menghindari kecanduan dan meningkatkan kualitas waktu yang digunakan.
- Menggabungkan AI dengan pembelajaran mandiri: Menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar mandiri.
- Menciptakan lingkungan bebas layar: Membuat area di rumah yang tidak boleh digunakan untuk menonton atau bermain media sosial.
- Meningkatkan kesadaran akan dampak teknologi: Memberikan edukasi kepada anak-anak dan remaja tentang cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, bukan ancaman terhadap kemampuan kognitif.
Komentar
Kirim Komentar