Wamenpora: Hanya 122 Dokter Olahraga di Indonesia

Wamenpora: Hanya 122 Dokter Olahraga di Indonesia

Dunia olahraga tengah memanas hari ini. Terkait Wamenpora: Hanya 122 Dokter Olahraga di Indonesia, para suporter tentu sudah menanti kepastian beritanya. Simak informasi terbarunya.


Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat, mengungkapkan kekhawatiran terkait jumlah dokter spesialis olahraga yang masih sangat terbatas di Indonesia. Menurutnya, pembangunan olahraga tidak akan bisa berjalan maksimal tanpa dukungan tenaga medis yang memadai, khususnya dalam menjaga performa atlet dan mencegah cedera.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Taufik menegaskan bahwa sebagai negara besar, Indonesia membutuhkan ekosistem olahraga yang kuat. Namun, ketersediaan tenaga medis olahraga masih jauh dari ideal. Ia menyebutkan, "Baru ada berapa orang tadi? 122. Sebesar Indonesia 122," ujarnya saat berbicara kepada wartawan di Indonesia Sport Summit, Jakarta Pusat, Minggu (7/12).

Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), per tanggal 24 April 2024, jumlah spesialis kedokteran olahraga (Sp.KO) hanya sebanyak 102 orang. Jumlah ini dinilai sangat tidak sebanding dengan kebutuhan nasional, terutama di daerah-daerah yang menjadi sumber banyak kasus cedera.

Untuk memperkuat tenaga kesehatan olahraga, Taufik menyarankan kolaborasi lintas sektor hingga pemerintah daerah agar peningkatan kapasitas dapat dilakukan secara merata. Ia juga menekankan pentingnya pencegahan cedera sebelum terjadi.

"Kita juga ingin menjaga, sebelum terjadinya cedera, kita akan rehab dulu. Maksudnya menjaga jangan sampai kejadian itu," kata Taufik.

Selain itu, ia meminta dukungan Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kapasitas pendidikan kedokteran, khususnya dalam spesialisasi kedokteran olahraga.

Taufik juga menyampaikan bahwa belum adanya fasilitas sport science yang memadai di Indonesia menjadi salah satu tantangan. Padahal, arahan Presiden RI meminta pembangunan fasilitas olahraga besar dan berkualitas untuk mendukung peningkatan prestasi.

"Sekarang kita belum punya yang namanya Sport Science. Kita belum punyanya," ujarnya.

Ia menekankan perlunya koordinasi lanjutan antara Kemenpora dan Kemenkes agar penguatan fasilitas dan SDM olahraga bisa berjalan terpadu.

Pernyataan Taufik Hidayat sejalan dengan pandangan Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, tentang pentingnya membangun fondasi industri olahraga nasional yang kuat. Menurut Erick, kebijakan yang ramah industri menjadi kunci penting.

Erick menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk terlibat lebih luas dalam industri olahraga dunia, yang saat ini bernilai US$ 521 miliar atau sekitar Rp 8.000 triliun. Namun, sekitar 40% dari nilai tersebut masih dikuasai AS.

"Kalau pembuat kebijakannya tidak ramah dengan industri, market, publik, kebijakannya kontradiktif, ini tidak bisa," ujar Erick saat memberikan keynote speech di Indonesia Sport Summit 2025 di Indonesia Arena, pada hari sebelumnya, Sabtu (6/12).

Menurut Erick, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan anggaran kementerian untuk mendorong tumbuhnya industri olahraga. Dukungan swasta mutlak dibutuhkan agar industri bisa berkembang pesat dan memberikan manfaat bagi ekosistem olahraga nasional.

Industri yang sehat, katanya, akan memunculkan lebih banyak kompetisi, event, dan peluang bagi atlet untuk meraih prestasi. "Itu bagian membangun atlet kita punya prestasi," ujarnya.

Tantangan dan Solusi untuk Pembangunan Olahraga Nasional

Beberapa tantangan utama dalam pembangunan olahraga nasional meliputi:

  • Kurangnya tenaga medis olahraga: Jumlah spesialis olahraga masih jauh dari kebutuhan nasional.
  • Fasilitas yang tidak memadai: Masih belum adanya fasilitas sport science yang memadai.
  • Koordinasi antar sektor: Perlu adanya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat SDM olahraga.

Solusi yang disarankan antara lain:

  • Peningkatan kapasitas pendidikan kedokteran: Khususnya dalam spesialisasi olahraga.
  • Kolaborasi antara Kemenpora dan Kemenkes: Untuk memastikan penguatan fasilitas dan SDM olahraga berjalan terpadu.
  • Dukungan dari sektor swasta: Agar industri olahraga bisa berkembang pesat dan memberikan manfaat bagi ekosistem olahraga nasional.

Visi Masa Depan Olahraga Indonesia

Erick Thohir menekankan pentingnya kebijakan yang ramah industri untuk membangun fondasi olahraga nasional yang kuat. Ia menilai bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk terlibat lebih luas dalam industri olahraga global. Namun, hal ini memerlukan dukungan yang nyata dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta.

Dengan visi yang jelas dan langkah-langkah konkret, Indonesia dapat menciptakan lingkungan olahraga yang sehat dan berkelanjutan. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan prestasi atlet, tetapi juga memperkuat ekosistem olahraga secara keseluruhan.

Kesimpulan: Jangan lewatkan aksi atlet/tim kebanggaan Anda. Nantikan terus update pertandingan selanjutnya hanya di portal kami.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar