Setelah Blue Energy dan Nikuba, Kini Hadir Bobibos, BBM Ajaib Karya Anak Negeri

Setelah Blue Energy dan Nikuba, Kini Hadir Bobibos, BBM Ajaib Karya Anak Negeri

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Setelah Blue Energy dan Nikuba, Kini Hadir Bobibos, BBM Ajaib Karya Anak Negeri yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.


Di tengah kisah-kisah bahan bakar alternatif yang pernah menjadi sorotan, kini muncul Bobibos sebagai inovasi baru yang menawarkan energi hijau dan murah. Dulu, Blue Energy dan Nikuba sempat menimbulkan harapan besar, tetapi akhirnya berakhir dengan kontroversi dan pertanyaan. Kini, Bobibos kembali memberikan harapan baru bagi masyarakat Indonesia.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Masa Lalu Blue Energy

Blue Energy dulu menjadi isu politik nasional di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Teknologi ini disebut mampu mengubah air menjadi bahan bakar, sehingga bisa menghasilkan energi murah meriah. Namun, banyak yang skeptis terhadap klaim tersebut. Beberapa inovator seperti Joko Suprapto dan Dr Ghulam Sarwar dari Pakistan disebut hanya "tukang klaim" atau hoax.

Di tingkat global, istilah Blue Energy lebih sering merujuk pada osmotic power, yaitu energi yang dihasilkan dari perbedaan konsentrasi garam antara air tawar dan air laut. Teknologi ini dikembangkan melalui metode seperti Pressure Retarded Osmosis (PRO) dan Reverse Electrodialysis (RED), yang memanfaatkan membran khusus untuk mengubah tekanan osmotik menjadi listrik.

Proyek-proyek seperti pilot plant Statkraft di Norwegia dan instalasi REDstack di Belanda menunjukkan potensi energi osmotik yang besar. Namun, biaya dan infrastruktur yang rumit membuat teknologi ini belum bisa digunakan secara luas.

Nikuba dari Cirebon

Nikuba dari Cirebon juga mengulang pola serupa. Alat pengolah air menjadi gas hidrogen diklaim mampu menggerakkan kendaraan dan menghemat BBM. Euforia sempat menguat, tetapi kemudian digerus kritik ihwal dasar sains, keamanan pemakaian, dan transparansi uji coba yang dinilai tak sepadan dengan klaim besar yang disebarkan.

Bobibos: Bahan Bakar Nabati Baru

Bobibos hadir sebagai solusi baru yang menempatkan diri sebagai bahan bakar nabati. Founder Bobibos, M. Iklas Thamrin, menawarkan narasi baru tentang energi hijau yang lahir dari proses biokimia dan ekstraksi tanaman.

“Kami percaya pada kualitas, harga ekonomis, rendah emisi, aman bagi kendaraan, dan Bobibos memiliki semua itu. Karena itu kami yakin Bobibos bisa bersaing di pasar,” ujar Iklas kepada aiotrade, Ahad (9/11/2025).

Ia menegaskan keyakinannya itu di tengah keraguan sebagian publik terhadap klaim bahan bakar alternatif yang kerap datang tanpa data terbuka.

Proses Pengembangan Bobibos

Bobibos lahir dari proses biokimia melalui lima tahap ekstraksi tanaman yang dirancang dengan mesin sendiri, sehingga menghasilkan bahan bakar nabati berkinerja tinggi. Menurut dia, bahan bakar ini dikembangkan dengan visi menghadirkan energi rendah emisi, berkualitas, dan terjangkau agar dapat menjadi identitas energi baru terbarukan Indonesia.

Konsep energi hijau ini diharapkan mampu mendukung target dekarbonisasi nasional dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Di atas kertas, narasi ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia keluar dari jebakan impor energi, tetapi di lapangan tetap menuntut pembuktian yang ketat.

Tahapan Riset dan Visi Ekonomis

Pengembangan Bobibos diklaim melalui tiga tahap riset yang mencakup teknologi, aspek komersialisasi, dan keterterimaan politik. Timnya menekankan pentingnya memilih tanaman bahan baku yang tepat, menjaga harga pokok produksi tetap rendah, serta membuka komunikasi dengan regulator agar produk ini sah secara hukum.

“Visi kami adalah ekonomis. Buat apa kualitas bagus tapi HPP mahal, pasti tidak akan diterima pasar,” kata Iklas. Ia menempatkan harga sebagai kunci agar bahan bakar nabati ini tidak bernasib sama seperti berbagai inovasi energi yang berhenti di panggung seremoni.

Skema Bisnis dan Distribusi

Dalam skema bisnisnya, Bobibos menargetkan pembangunan pabrik percontohan dengan kapasitas produksi awal 1,5 juta liter per bulan di wilayah Jawa. Produksi itu diharapkan meluas ke seluruh provinsi agar harga jual bisa satu harga dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya dinikmati di kota besar.

Iklas menyebut pihaknya juga menyiapkan konsep distribusi melalui SPBU dan BosMini, yakni pom bensin ukuran mini yang dapat menjangkau pelosok daerah. Ia menjelaskan, bahan bakar nabati ini telah melalui berbagai pengujian teknis di lapangan bersama lembaga uji seperti Lemigas dan dinyatakan aman untuk kendaraan baru maupun lama.

Harapan Masyarakat

Bobibos didesain menjadi “energi rakyat” dengan harga terjangkau, emisi rendah, serta kualitas yang setara dengan bahan bakar fosil. Bagi masyarakat yang pernah menyaksikan Blue Energy dan Nikuba berakhir dengan kekecewaan, janji ini wajar jika disambut dengan antusias sekaligus rasa ingin tahu yang lebih tajam.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar