
aiotrade
— Perusahaan teknologi besar kini menghadapi fase baru dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Alih-alih menanggung sendiri biaya pembangunan pusat data yang bisa mencapai puluhan miliar dolar AS, perusahaan-perusahaan ini memilih untuk membagi risiko finansial kepada investor dan penyedia infrastruktur pihak ketiga. Hal ini menjadi strategi global untuk menjaga fleksibilitas bisnis di tengah ketidakpastian permintaan jangka panjang teknologi AI.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pusat data menjadi tulang punggung pengembangan AI, tetapi juga merupakan aset berumur panjang dengan biaya sangat besar. Dalam situasi di mana arah permintaan AI masih sulit diprediksi, perusahaan seperti Microsoft, Meta, dan Google memilih model pendanaan yang memungkinkan ekspansi cepat tanpa terjebak pada komitmen puluhan tahun yang bisa membebani neraca keuangan mereka.
Menurut laporan The New York Times, Microsoft telah menandatangani serangkaian kesepakatan bernilai puluhan miliar dolar AS untuk menyewa daya komputasi bagi pengembangan AI. Sementara itu, Meta berhasil mengamankan hampir 30 miliar dolar AS, setara sekitar Rp 499,5 triliun dengan kurs Rp 16.650 per dolar AS, untuk membangun pusat data raksasa di Louisiana tanpa mencatatnya sebagai utang. Google juga memilih untuk menyewa kapasitas komputasi dari perusahaan yang lebih kecil dan menjual kembali sebagian daya tersebut kepada OpenAI.
Pola ini memiliki tujuan yang sama, yaitu mengurangi eksposur risiko finansial. "Risiko itu seperti pasta gigi di dalam tube. Ketika ditekan di satu sisi, tekanan akan berpindah ke sisi lain. Risiko selalu ada; persoalannya hanya di mana beban tersebut ditempatkan," kata Shivaram Rajgopal, profesor akuntansi di Columbia Business School. Menurutnya, dalam skema ini, risiko bergeser dari perusahaan teknologi besar ke investor dan penyedia pembiayaan.
Model Meta di Louisiana menjadi contoh paling menonjol. Perusahaan membentuk entitas tujuan khusus bernama Beignet Investor LLC dan bekerja sama dengan Blue Owl Capital untuk membiayai proyek pusat data Hyperion. Meta bertanggung jawab atas pembangunan fasilitas tersebut, sementara Blue Owl menanggung sekitar 80 persen pembiayaan. Meta kemudian menyewa kembali pusat data itu melalui kontrak empat tahunan sehingga biaya dikategorikan sebagai pengeluaran operasional, bukan utang.
"Alih alih meminjam sendiri, Meta pada dasarnya menyewa risiko," ujar Solomon Feig, pemberi kredit swasta di Pinnacle Private Credit. Penilaian senada disampaikan Andrew Rocco, analis Zacks Investment Research, yang melihat pola ini sebagai strategi sistematis. "Inti strategi Meta adalah membangun sebanyak mungkin dengan dana pihak lain," katanya.
Namun, struktur ini menyimpan konsekuensi. Jika permintaan AI melambat, nilai pusat data dapat terdepresiasi dan beban risiko berpindah ke investor. Rajgopal mengingatkan bahwa penggunaan kendaraan pembiayaan khusus dan kredit swasta mengulang pola pembiayaan di luar neraca yang marak menjelang gelembung dot-com pada awal 2000-an. "Saya sempat berpikir praktik pembiayaan di luar neraca sudah terselesaikan. Kenyataannya, pola yang sama kembali terulang," ujarnya.
Strategi serupa juga terlihat pada pendekatan Microsoft, meski ditempuh melalui skema yang berbeda. Perusahaan tersebut memilih kontrak jangka pendek dengan penyedia pusat data generasi baru. Tahun ini, Microsoft menandatangani kesepakatan senilai 17 miliar dolar AS dengan Nebius, 23 miliar dolar AS dengan Nscale, serta 10 miliar dolar AS dengan Iren, selain perjanjian bernilai miliaran dolar lainnya. "Pendekatan infrastruktur global kami dibangun atas fleksibilitas, berdasarkan sinyal permintaan jangka pendek dan panjang dari pelanggan," kata eksekutif Microsoft, Alistair Speirs.
Fleksibilitas tersebut dinilai krusial dalam menghadapi perubahan pasar. "Anda tidak ingin berada dalam posisi terbalik," ujar CEO Microsoft Satya Nadella pada April lalu. Dalam konteks ini, Microsoft juga membuka akses OpenAI ke penyedia komputasi lain seperti Oracle, sebagai bagian dari penataan ulang pasokan global.
Di sisi lain, penyedia seperti CoreWeave menanggung risiko besar dengan mengambil utang berbunga tinggi untuk membangun kapasitas pusat data, sebagian besar terkait kontrak dengan OpenAI. Para analis menilai, risiko boom AI kini tersebar lebih luas. "Ini langkah yang sangat cerdik. Hanya segelintir perusahaan yang mampu melakukannya," kata Alex Platt, analis D.A. Davidson. Bagi peta ekonomi global, pergeseran ini menandai perubahan mendasar: ekspansi AI terus melaju, tetapi risikonya tidak lagi sepenuhnya berada di pundak raksasa teknologi.
Komentar
Kirim Komentar