
Inovasi Teknologi Kondensasi Ikan Asap Rendah Emisi di Kilang Pertamina Plaju
Kilang Pertamina Plaju, yang berlokasi di Palembang, telah menghadirkan inovasi teknologi baru yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas UMKM sekaligus menekan dampak lingkungan. Teknologi ini adalah alat kondensasi ikan asap rendah emisi, sebuah solusi yang mengadaptasi prinsip kerja kilang untuk digunakan dalam proses pengasapan ikan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Inovasi ini merupakan bagian dari Program Belida Musi Lestari, yang merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU III Plaju. Program ini mengintegrasikan konservasi, pemberdayaan ekonomi, serta penerapan teknologi hijau berbasis kompetensi inti perusahaan.
Prinsip Kerja Teknologi Kondensasi Ikan Asap
Teknologi yang digunakan mengadopsi prinsip kerja Crude Distillation Unit (CDU), yaitu unit utama di kilang yang memanfaatkan proses pemanasan dan pengembunan (kondensasi) untuk memisahkan fraksi minyak mentah berdasarkan titik didihnya. Prinsip ini kemudian dimodifikasi untuk proses pengasapan ikan.
Asap hasil pembakaran bahan bakar alami seperti kayu atau tempurung kelapa dialirkan melalui pipa spiral berpendingin air. Hal ini menyebabkan suhu asap diturunkan dan uapnya terkondensasi menjadi asap cair atau liquid smoke. Dengan sistem ini, asap tidak lagi terbuang ke udara bebas, melainkan dikelola menjadi produk turunan yang bernilai guna.
Manfaat Teknologi Kondensasi Ikan Asap
Implementasi alat ini terbukti meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara signifikan. Waktu produksi yang sebelumnya mencapai 10 jam kini dapat dipangkas menjadi 7 jam per siklus. Penggunaan bahan bakar kayu juga berkurang dari 30 kilogram menjadi 19,125 kilogram per produksi, sementara kapasitas produksi meningkat dari 20 kilogram menjadi 35 kilogram ikan per siklus.
Suhu pengasapan juga menjadi lebih stabil dan terkontrol di angka 60 derajat Celsius, sehingga menghasilkan tingkat kematangan ikan yang lebih merata dan kualitas produk yang lebih baik. Selain itu, emisi karbon dari proses pengasapan berhasil ditekan dari 2,72 ton CO₂e menjadi 1,73 ton CO₂e per siklus produksi.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Output proses pengasapan yang sebelumnya berupa asap menyebar kini berubah menjadi asap cair yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut. Hal ini membuat proses produksi lebih ramah lingkungan dan berkontribusi pada upaya pengendalian perubahan iklim. Optimalisasi panas melalui sistem perangkap asap ini memastikan tidak ada asap terbuang, mempercepat proses pengasapan, dan menjaga kualitas udara di sekitar lokasi produksi.
"Inovasi ini merupakan contoh nyata bagaimana kompetensi inti kilang di bidang distilasi dan kondensasi dapat ditransformasikan menjadi solusi lingkungan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujar Siti Fauzia, Area Manager Communication, Relations & CSR RU III PT Kilang Pertamina Internasional.
Penerapan di UMKM Jasmine Suger
Alat Kondensasi Ikan Asap Rendah Emisi ini telah diserahkan kepada UMKM Jasmine Suger di wilayah Sungai Gerong. UMKM tersebut memperoleh pasokan bahan baku ikan segar dari kelompok pembudidaya ikan setempat, seperti patin, nila, dan gurame, yang kemudian diolah menjadi ikan asap ramah lingkungan dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp75.000 per kemasan.
Dengan pola tersebut, terbentuk ekosistem ekonomi terintegrasi mulai dari budidaya ikan, pengolahan berbasis teknologi bersih, hingga pemasaran produk bernilai tambah. Hal ini sekaligus memperkuat kohesivitas sosial antara UMKM dan masyarakat sekitar.
Apresiasi dan Prospek Masa Depan
Apresiasi datang dari Ir. Septi Fitri, M.M., yang saat diwawancarai pada 25 Agustus 2025 masih menjabat sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuasin. "Saya mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Pertamina, khususnya melalui program CSR berupa pengembangan alat destilasi ikan asap. Inovasi ini merupakan terobosan baru dan pertama di Sumsel."
Keberadaan teknologi ini turut membawa dampak sosial yang lebih luas. Masyarakat di sekitar lokasi produksi tidak lagi terganggu oleh polusi udara yang ditimbulkan dari proses pengasapan tradisional. Pelaku UMKM juga merasakan peningkatan kenyamanan kerja, kapasitas produksi, dan daya saing produk.
Inovasi ini juga menjadi yang pertama di Sumatera Selatan, serta berkontribusi dalam meningkatkan kapabilitas individu dan kelompok UMKM untuk menerapkan praktik produksi yang lebih modern dan berkelanjutan.
Melalui inovasi berbasis kompetensi inti ini, Kilang Pertamina Plaju memperkuat komitmennya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Program ini juga mencerminkan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasional Pertamina dengan menghadirkan solusi yang menyeimbangkan kinerja bisnis, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Komentar
Kirim Komentar