
Komitmen OJK dan BI dalam Membangun Ekosistem Keuangan Digital yang Inovatif dan Aman
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat ekosistem keuangan digital di Indonesia. Tujuan utamanya adalah menjadikan sistem tersebut lebih inovatif, inklusif, aman, dan berintegritas. Hal ini menjadi penting mengingat tingginya adopsi teknologi dan layanan keuangan digital oleh masyarakat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio Bank Indonesia, Juda Agung, dalam acara "OJK Mengajar" di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Jumat (7/11). Acara ini memiliki tema “Inovasi Digital di Sektor Keuangan Indonesia: Mendorong Inovasi dan Mitigasi Risiko.”
Juda Agung menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan digitalisasi tercepat di dunia. Faktor-faktor yang mendorong hal ini antara lain:
- Karakter masyarakat yang sudah sangat akrab dengan teknologi (digital-native).
- Tingginya kepemilikan perangkat seluler, di mana jumlah handphone bahkan melebihi jumlah penduduk.
- Luasnya pemanfaatan internet, dengan rata-rata waktu menatap layar (screen time) mencapai 7 jam per hari.
Perkembangan ini telah mempercepat transformasi di sektor jasa keuangan, mencakup layanan pembayaran digital, perbankan digital, pembiayaan berbasis teknologi, investasi digital, hingga aset keuangan baru.
Manfaat Inklusi dan Efisiensi
Transformasi digital membawa manfaat besar, khususnya dalam hal kemudahan akses. Masyarakat, termasuk pelaku UMKM, masyarakat di wilayah terpencil, dan generasi muda, kini lebih mudah mengakses layanan keuangan yang sebelumnya sulit dijangkau secara konvensional.
Selain itu, efisiensi dan inovasi juga meningkat melalui pemanfaatan teknologi. Hal ini mendorong produk serta layanan keuangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, meskipun pertumbuhan digital sangat pesat, Juda Agung mengingatkan akan risiko yang menyertainya, seperti:
- Kejahatan siber.
- Penipuan digital (fraud).
- Phishing.
- Ancaman serangan siber yang kompleks.
Untuk mengatasi risiko tersebut, OJK dan BI mengambil langkah-langkah penguatan seperti mitigasi risiko, yaitu memperkuat standar keamanan sistem, pengaturan, dan pengawasan.
Selanjutnya, pemanfaatan teknologi dengan mengembangkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning untuk mendeteksi dan mencegah kejahatan keuangan digital.
Kemudian, kolaborasi nasional, yakni mendirikan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) sebagai pusat kolaborasi antara regulator dan industri jasa keuangan (perbankan, e-money, e-commerce) untuk mempercepat penanganan penipuan digital dan pemblokiran dana.
Sinergi Antar-Otoritas untuk Stabilitas Sistem Keuangan
Juda Agung juga menekankan pentingnya sinergi antar-otoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah risiko digital yang meningkat. OJK bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memastikan sistem keuangan tetap stabil.
Acara "OJK Mengajar" ini merupakan rangkaian peringatan HUT ke-14 OJK. Melalui kegiatan ini, OJK berharap generasi muda dapat menjadi agen literasi keuangan digital yang cerdas, beretika, dan berdaya saing di tengah cepatnya inovasi teknologi keuangan.
Komentar
Kirim Komentar