
Peran Koperasi Desa dalam Perekonomian Nasional
Menteri Koperasi dan UKM (Menkop) Ferry Juliantono menekankan kembali pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat modernisasi koperasi di tingkat desa. Menurutnya, koperasi desa—khususnya Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih—harus menjadi lokomotif penggerak ekonomi masyarakat desa agar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional semakin terasa.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam acara Raker Faculty Member BINUS University bertema “Menyatukan Langkah Menuju BINUS 2035” di Tangerang, Jumat (14/11), Menkop Ferry menekankan bahwa percepatan digitalisasi dan penguatan kapasitas manajemen koperasi hanya dapat terwujud melalui sinergi erat antara pemerintah dan perguruan tinggi.
Perputaran Uang di Desa Harus Menguat
Ferry menjelaskan bahwa Kopdes memiliki potensi besar untuk memperluas perputaran uang di tingkat desa. Dengan transaksi ekonomi yang semakin aktif dan pemanfaatan teknologi yang tepat, desa dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Jika ekonomi desa bergerak cepat, secara agregat akan berkontribusi pada meningkatnya ekonomi nasional. Presiden menarget pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen, dan desa punya peran penting di sana,” kata Ferry.
Ia menilai bahwa teknologi menjadi kebutuhan mendesak. Tidak hanya untuk meningkatkan transaksi, tetapi juga untuk memperbaiki proses produksi dan penyimpanan hasil pertanian maupun perikanan yang selama ini masih bersifat konvensional.
BINUS Didorong Turun Tangan Modernisasi Koperasi
Menkop Ferry mengajak BINUS University untuk terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi Kopdes/Kel Merah Putih. Menurutnya, kompetensi riset dan teknologi yang dimiliki perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam transformasi koperasi desa menjadi lebih modern.
“Keinginan untuk modern itu perlu sentuhan perguruan tinggi. BINUS memiliki kapasitas besar untuk mendorong koperasi menjadi lebih maju,” ujarnya.
Ia optimistis bahwa kolaborasi ini akan memunculkan lompatan signifikan, baik dalam teknologi penyimpanan, pengeringan, hingga manajemen operasional koperasi.
Contoh Masalah di Desa: Pengeringan Padi hingga Minimnya Cold Storage
Dalam pemaparannya, Ferry menyoroti berbagai kendala yang masih dialami masyarakat desa.
-
Pengeringan Padi yang Masih Manual
Di banyak desa, petani masih mengandalkan panas matahari untuk menjemur padi di pinggir jalan. Metode ini tidak hanya memakan waktu lebih lama, tetapi juga memengaruhi kualitas gabah sehingga harganya turun saat dijual. -
Minimnya Fasilitas Cold Storage
Buah, sayur, dan hasil laut sering kali mengalami penurunan kualitas akibat kurangnya fasilitas penyimpanan berteknologi kontrol atmosfer. Kondisi ini membuat petani dan nelayan tidak memperoleh harga optimal di pasar.
Melihat persoalan tersebut, Ferry berharap BINUS dapat mengembangkan solusi teknologi seperti alat dryer modern, kontrol atmosfer storage, dan berbagai inovasi pascapanen lain dalam waktu 1–2 tahun mendatang.
“Desa butuh sentuhan teknologi. Mudah-mudahan BINUS bisa memproduksi alat-alat dryer dan storage modern dalam waktu dekat,” ujarnya.
Pendampingan Mahasiswa dan Dosen Jadi Langkah Strategis
Selain teknologi, penguatan tata kelola Kopdes/Kel Merah Putih juga membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Karena itu, Kemenkop membuka peluang seluas-luasnya bagi BINUS University untuk mengirim mahasiswa maupun pengajar guna mendampingi operasional koperasi di desa.
“Kami terbuka bila BINUS ingin menurunkan mahasiswa atau tenaga pengajar ke koperasi. Dengan pendampingan langsung, modernisasi desa akan semakin cepat,” kata Ferry.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu membentuk ekosistem koperasi modern yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga kuat dalam manajemen, pemasaran, serta literasi digital.
Menuju Koperasi Desa yang Lebih Maju dan Mandiri
Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi diyakini akan menjadi formula efektif untuk mempercepat transformasi Kopdes/Kel Merah Putih. Dengan dukungan inovasi teknologi, pendampingan SDM, dan tata kelola yang lebih profesional, koperasi desa berpotensi menjadi pilar utama penggerak ekonomi nasional.
Modernisasi desa bukan lagi sekadar visi, melainkan langkah nyata menuju percepatan kesejahteraan masyarakat dan pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Komentar
Kirim Komentar