Langkah baru Indointernet (EDGE) menghadapi persaingan pusat data

Langkah baru Indointernet (EDGE) menghadapi persaingan pusat data

Dunia gadget kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Langkah baru Indointernet (EDGE) menghadapi persaingan pusat data yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

PT Indointernet Tbk (EDGE), sebuah perusahaan pusat data, melalui anak usahanya, EDGE DC, berhasil mendapatkan pinjaman besar sebesar US$ 325 juta atau sekitar Rp 5,5 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Pinjaman ini akan digunakan untuk membangun infrastruktur digital baru di Jakarta, melakukan refinancing terhadap fasilitas yang sudah ada, serta menyelesaikan konstruksi pusat data EDGE2. Langkah ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional dengan memperkuat ekosistem teknologi, menarik investasi asing, menciptakan lapangan kerja, dan menyediakan infrastruktur kelas dunia bagi pelaku usaha lokal.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

CEO EDGE DC, Stephanus Oscar, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk mendukung transformasi digital Indonesia dan berperan aktif dalam memperkuat fondasi ekonomi digital nasional. “Hal itu dilakukan melalui layanan pusat data yang andal dan berstandar global,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (11/12).

Pusat Data Nasional Beroperasi Juni, Berikut Kecanggihan dan Fungsinya

Pada saat yang sama, IHSG ditutup menguat, namun saham sektor teknologi seperti DCII dan EDGE justru mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang kompleks, meskipun proyek-proyek infrastruktur digital tetap menjadi fokus utama perusahaan.

EDGE DC kini telah melakukan rebranding menjadi Digital Edge Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat integrasi perusahaan ke dalam platform Digital Edge di Asia Pasifik, sekaligus menjaga keunggulan lokal. Menurut Stephanus, identitas baru ini juga menegaskan posisi Digital Edge Indonesia sebagai pemain kunci dalam infrastruktur digital dengan kapabilitas yang selaras dengan standar global—baik dari sisi teknik, operasional, maupun layanan.

Sejak berdiri pada tahun 2018, EDGE DC telah membangun reputasi berkat kecepatan, keandalan, dan efisiensi operasional. Kini, Digital Edge Indonesia melayani berbagai sektor, mulai dari cloud, jasa keuangan, hyperscale, enterprise, hingga jaringan.

Dengan dua fasilitas utamanya, EDGE1 dan EDGE2, perusahaan memiliki kapasitas gabungan sebesar 29 MW dan menjadi operator pusat data terbesar yang beroperasi di pusat kota Jakarta. Ekspansi ini sekaligus mendukung percepatan adopsi cloud serta transformasi digital di Indonesia.

Penambahan Modal pada Anak Usaha

CEO Digital Edge, John Freeman, menyatakan bahwa rebranding ini memperkuat identitas regional perusahaan dan memastikan kesiapan untuk berkembang dengan standar operasional bertaraf global seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. “Indonesia memiliki salah satu ekonomi digital paling dinamis di Asia,” ujar John Freeman dalam keterangannya, Kamis (11/12).

Di sisi lain, PT Indointernet Tbk juga meningkatkan modal pada dua anak usahanya, yakni PT Digital Gayana Ekagrata (DGE) dan PT Ekagrata Data Gemilang. Penambahan modal tersebut dialokasikan untuk kebutuhan belanja modal dengan total nilai mencapai Rp 422 miliar. “Transaksi ini dilakukan untuk mendukung kegiatan dan rencana usaha pengembangan DGE,” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Kamis (11/12).

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar