Kronologi Penipuan Investasi Kripto Timothy Ronald, Kerugian Korban Capai Miliaran Rupiah

Media sosial sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Kronologi Penipuan Investasi Kripto Timothy Ronald, Kerugian Korban Capai Miliaran Rupiah. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.
Kronologi Penipuan Investasi Kripto Timothy Ronald, Kerugian Korban Capai Miliaran Rupiah

Kasus Penipuan Investasi Kripto yang Menyeret Nama Influencer Keuangan

Kasus dugaan penipuan investasi kripto yang menyeret nama influencer keuangan Timothy Ronald kini menjadi sorotan publik. Perkara ini mencuat setelah sejumlah korban mengaku mengalami kerugian besar usai mengikuti rekomendasi investasi kripto yang disampaikan melalui grup edukasi dan komunitas daring.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Isu dugaan penipuan Timothy Ronald tersebut semakin ramai diperbincangkan setelah seorang influencer bernama Adam Deni secara terbuka menyatakan dirinya turut menjadi korban dan siap membawa kasus ini ke ranah hukum.

Perhatian publik semakin besar lantaran Timothy Ronald dikenal luas sebagai figur yang aktif membagikan konten edukasi finansial dan kripto di media sosial. Dengan citra sebagai mentor dan edukator, rekomendasi yang ia sampaikan dianggap memiliki pengaruh kuat terhadap keputusan investasi para pengikutnya. Namun, di balik citra tersebut, sejumlah pihak kini menilai ada praktik yang diduga menyesatkan dan merugikan secara finansial.

Awal Mula Dugaan Penipuan

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban berinisial Y mulai bergabung dalam sebuah grup Discord bertema edukasi kripto sekitar Desember 2023. Grup tersebut dikenal sebagai akademi kripto yang dikelola oleh beberapa figur, termasuk Timothy Ronald dan rekan-rekannya. Di dalam grup itu, para anggota mendapatkan materi edukasi sekaligus rekomendasi aset kripto yang diklaim memiliki potensi keuntungan tinggi.

Pada Januari 2024, korban mengaku menerima sinyal untuk membeli sebuah aset kripto berinisial M. Aset tersebut diproyeksikan memberikan keuntungan sebesar 300 hingga 500 persen. Tergiur janji tersebut, korban kemudian menginvestasikan dana dalam jumlah besar, yang nilainya disebut mencapai miliaran rupiah. Namun, harapan keuntungan besar itu tidak terwujud. Nilai aset kripto yang dibeli justru anjlok drastis hingga sekitar 90 persen dari nilai awal.

Hingga memasuki tahun 2026, korban mengaku tidak pernah memperoleh keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan mengalami kerugian besar. Merasa dirugikan, korban akhirnya melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Dalam proses pemeriksaan pada 13 Januari 2026, penyidik telah memeriksa pelapor beserta dua orang saksi yang disebut mengetahui secara langsung peristiwa tersebut. Sejumlah barang bukti juga telah diserahkan untuk dianalisis lebih lanjut.

Peran Timothy Ronald dan Kalimasada

Dalam laporan yang diajukan, pelapor tidak secara eksplisit menyebut satu nama sebagai terlapor. Namun, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), disebutkan beberapa pihak yang diduga terkait, termasuk inisial T yang merujuk pada Timothy Ronald dan inisial K yang merujuk pada Kalimasada. Adam Deni menjelaskan, bahwa Timothy Ronald dan Kalimasada dikenal sebagai figur utama dalam akademi kripto tersebut. Kalimasada disebut kerap diposisikan sebagai "profesor", sementara Timothy Ronald dijuluki sebagai figur sentral atau mentor utama. Keduanya dianggap memiliki peran penting dalam memberikan rekomendasi aset kepada para anggota. Hingga kini, status para terlapor masih dalam tahap penyelidikan (lidik).

Pihak kepolisian menyatakan masih mengumpulkan alat bukti, menganalisis keterangan saksi, serta mempertimbangkan kebutuhan menghadirkan saksi ahli sebelum melakukan pemanggilan terhadap pihak terlapor.

Pengakuan Adam Deni dan Dugaan Intimidasi

Adam Deni mengungkap, bahwa dirinya mengalami kerugian sekitar Rp150 juta. Ia mengaku awalnya berinvestasi melalui perantara rekan yang mengikuti rekomendasi aset kripto dari komunitas tersebut. Ketika nilai aset mulai turun, para investor justru dilarang melakukan cut loss atau menarik dana. Menurut Adam, larangan tersebut disertai dengan tekanan dan ancaman, baik secara langsung maupun melalui siaran langsung dan media sosial. Ia menilai praktik tersebut tidak etis dan menjadi salah satu alasan mengapa banyak korban enggan melapor ke kepolisian.

Lebih jauh, Adam mengklaim adanya dugaan penggunaan buzzer untuk menyerang mental para korban yang mulai bersuara. Serangan tersebut disebut bertujuan membungkam korban agar tidak membawa kasus ini ke jalur hukum.

Langkah Kepolisian dan Rencana Laporan Tambahan

Polda Metro Jaya menegaskan, bahwa hingga saat ini baru menerima satu laporan resmi dari korban berinisial Y. Meski demikian, kepolisian memastikan siap menerima laporan tambahan dari korban lain dan akan memprosesnya sesuai prosedur hukum yang berlaku. Adam menyatakan tengah mengumpulkan bukti tambahan, khususnya terkait dugaan pengancaman dan intimidasi terhadap para investor. Ia berencana segera membuat laporan resmi ke kepolisian dan mendorong korban lain untuk ikut melapor secara bersama-sama.

Nilai kerugian para korban yang berada dalam pendampingannya disebut mencapai miliaran rupiah, dengan estimasi minimal Rp4-5 miliar. Kasus ini pun diperkirakan akan terus berkembang seiring bertambahnya laporan dan hasil pendalaman penyidik.

Hingga kini, Timothy Ronald belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan tersebut. Pihak kepolisian menegaskan akan tetap bekerja secara profesional, objektif, dan transparan untuk mengungkap fakta sebenarnya dalam kasus dugaan penipuan investasi kripto ini.


Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan info viral ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar