Komdigi: SATRIA-2 Jadi Proyek Strategis Nasional

Komdigi: SATRIA-2 Jadi Proyek Strategis Nasional

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Komdigi: SATRIA-2 Jadi Proyek Strategis Nasional yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Proyek Satelit Republik Indonesia Generasi Kedua Masuk Proyek Strategis Nasional

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Digital, Fadhilah Mathar, menyatakan bahwa proyek Satelit Republik Indonesia generasi kedua atau SATRIA-2 telah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional. Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 di Sektor Teknologi untuk Proyek Satelit Multifungsi.

Fadhilah menegaskan bahwa Indonesia masih membutuhkan kapasitas satelit untuk menjangkau kawasan tertinggal. “Sudah masuk proyek strategis nasional, tetapi penamaan itu intinya kita masih memerlukan kapasitas satelit,” ujarnya kepada awak media di Stasiun Bumi Satelit SATRIA-1, Cikarang, Jawa Barat, Rabu, 10 Desember 2025.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan proyek satelit membutuhkan analisis yang mendalam, termasuk permintaan atau kebutuhan saat ini. Menurutnya, data jumlah kebutuhan ini harus akurat dan valid agar sesuai dengan kondisi masyarakat. “Yang paling kami hati-hati adalah demand analysis, kebutuhan riil atas perlunya kapasitas satelit,” jelasnya.

Selain itu, Fadhilah menyampaikan bahwa saat ini ada 30.017 lokasi di seluruh Indonesia yang terintegrasi layanan SATRIA-1 per 7 Desember 2025. Dari jumlah tersebut, kategori kebutuhan untuk pendidikan mendominasi dengan total 69,24 persen, kantor pemerintahan 19,48 persen, pelayanan kesehatan 5,63 persen, pusat kegiatan masyarakat 1,48 persen, tempat ibadah 1,31 persen, pertahanan dan keamanan 1,66 persen, dan lokasi wisata 0,48 persen.

SATRIA 1 merupakan proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang menyediakan satelit berkapasitas 150 Gbps untuk memperkuat konektivitas digital, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T), serta lokasi prioritas layanan publik.

Dengan total investasi sekitar Rp 6,42 triliun dan skema Build–Operate– Transfer (BOT), proyek ini dilaksanakan oleh PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) sebagai Badan Usaha Pelaksana (BUP), dengan Kementerian Komunikasi dan Digital selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) yang didelegasikan kepada Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi.

Fadhilah menambahkan, pemerintah saat ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi berpenghasilan tinggi melalui tiga program, yaitu digitalisasi bisnis, digitalisasi masyarakat, dan digitalisasi pemerintahan. “Tiga prioritas strategis dan tiga enabler utama untuk digital perlu dikembangkan,” ujarnya.

Pentingnya Analisis Kebutuhan dalam Pengembangan Satelit

Pengembangan proyek satelit seperti SATRIA-2 tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang pemahaman mendalam terhadap kebutuhan masyarakat. Fadhilah menekankan pentingnya analisis permintaan atau kebutuhan yang akurat dan valid. Hal ini bertujuan agar kapasitas satelit yang dibangun dapat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam analisis ini antara lain:

  • Kebutuhan pendidikan: Sebagian besar lokasi yang terintegrasi layanan SATRIA-1 digunakan untuk kebutuhan pendidikan, menunjukkan betapa pentingnya akses internet bagi siswa dan guru di daerah terpencil.
  • Kebutuhan pemerintahan: Kebutuhan akan layanan pemerintahan juga sangat signifikan, terutama untuk mengoptimalkan efisiensi dan transparansi pelayanan publik.
  • Kebutuhan kesehatan: Layanan kesehatan yang terhubung melalui satelit bisa menjadi solusi untuk memberikan akses layanan medis di daerah yang minim fasilitas kesehatan.

Peran SATRIA-1 dalam Memperkuat Konektivitas Digital

SATRIA-1 memiliki peran penting dalam memperkuat konektivitas digital di Indonesia. Dengan kapasitas 150 Gbps, satelit ini mampu memberikan layanan internet yang stabil dan cepat, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel bawah tanah.

Proyek ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur digital yang merata dan inklusif. Dengan skema BOT, proyek ini tidak hanya membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan, tetapi juga memberikan peluang bagi swasta untuk berkontribusi dalam memajukan sektor telekomunikasi.

Strategi Pemerintah dalam Meningkatkan Ekonomi Berpenghasilan Tinggi

Selain fokus pada pengembangan infrastruktur digital, pemerintah juga tengah mendorong pertumbuhan ekonomi berpenghasilan tinggi melalui tiga program utama:

  • Digitalisasi bisnis: Membantu UMKM dan perusahaan besar dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing melalui pemanfaatan teknologi digital.
  • Digitalisasi masyarakat: Mengedepankan partisipasi aktif masyarakat dalam transformasi digital, termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.
  • Digitalisasi pemerintahan: Meningkatkan kualitas pelayanan pemerintah melalui sistem digital yang lebih efektif dan transparan.

Dengan tiga program ini, pemerintah berharap dapat menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar