Kisah GKR Hayu: Digitalisasi Wayang dan Gamelan Berkembang

Kisah GKR Hayu: Digitalisasi Wayang dan Gamelan Berkembang

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Kisah GKR Hayu: Digitalisasi Wayang dan Gamelan Berkembang yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Membangun Jembatan Budaya Melalui Teknologi

Keraton Yogyakarta kini semakin aktif dalam memanfaatkan teknologi digital untuk melestarikan dan menyebarluaskan budaya Jawa. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, yang merupakan salah satu tokoh penting di Keraton Yogyakarta, menunjukkan komitmennya dalam menggunakan media sosial sebagai alat untuk menginformasikan dan memperkenalkan kekayaan budaya keraton kepada masyarakat luas.

Menurut GKR Hayu, eksklusivitas dan jarak antara Keraton Yogyakarta dengan publik sangat disayangkan. Ia menjelaskan bahwa jika informasi resmi tidak tersedia di media sosial, maka akan diisi oleh disinformasi.

“Jadi eksklusifitas dan jarak antara keraton ini kan sangat sayang, karena kalau di mana di situ kekurangan informasi, kalau kita nggak isi yang official (di media sosial), akan diisi oleh disinformasi,” ujarnya dalam forum She-Connects 2025 Seri Yogyakarta, Kamis (6/11).

Untuk mendukung inisiatif ini, GKR Hayu mendirikan Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi teknologi dan informasi Keraton Yogyakarta. Awalnya, ekspektasi dari divisi ini hanya terbatas pada layanan IT untuk keraton. Namun, setelah menikah pada tahun 2013, ia menyadari banyak pengetahuan keraton yang tidak tersampaikan ke publik.

“Eksklusivitas ini justru menciptakan jarak,” katanya. Hal ini menjadi motivasi baginya untuk membuka akses informasi, termasuk dokumentasi budaya dan komunikasi digital resmi tentang keraton kepada publik melalui akun media sosial @kratonjogja.

Akun centang biru ini memiliki 479 ribu pengikut. Melalui akun ini, publik dapat melihat berbagai kegiatan, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang dijaga oleh keraton. Mulai dari dokumentasi upacara adat, pertunjukan seni seperti gamelan dan wayang wong, hingga arsitektur dan keseharian para abdi dalem.

Digitalisasi Wayang Wong

Salah satu proyek digitalisasi lain yang dilakukan adalah perekaman dan penayangan pementasan wayang wong di kanal YouTube Keraton Yogyakarta. Dokumentasi dilakukan secara menyeluruh agar nilai budaya tetap terjaga.

“Banyak orang mengira teknologi itu musuh budaya. Tapi tidak. Justru teknologi bisa menyesuaikan dengan budaya,” ujarnya.

Dalam proses digitalisasi wayang, tim keraton tidak hanya memotret ukuran fisik wayang sebagaimana dilakukan di luar negeri. Di Yale University, wayang hanya diukur dari size. Tapi bagi kita, wayang Wong itu ditentukan oleh gerak dan stance-nya.

“Karena itu, pengambilan gambar dilakukan dengan melibatkan dalang dan seniman keraton agar setiap gerak, riasan, dan kostum terdokumentasi sesuai maknanya. Wayang Wong tidak bisa sekadar dipamerkan di manekin, karena ia adalah kesatuan antara dandanan, riasan, dan cara menarinya,” jelasnya.

Musik Tradisional di Platform Digital

Selain itu, gending-gending Jawa Keraton Yogyakarta kini juga tersedia di platform musik digital seperti Spotify dan iTunes. Masyarakat global bisa mengenal dan menikmati kekayaan musikal tradisi Jawa, yang selama ini hanya terbatas pada kalangan tertentu.

GKR Hayu mencontohkan bagaimana pihaknya belajar dari cara lembaga kerajaan lain di dunia menampilkan identitas budaya mereka di ruang digital. “Kalau kita lihat British Royal Family, yang mereka tampilkan bukan kebudayaan, tapi keluarga kerajaan. Kita beda. Yang kita tampilkan adalah budaya yang hidup di keraton, pengetahuan, seni, dan tradisi,” kata dia.

Teknologi Bukan Ancaman Budaya

GKR Hayu kerap menegaskan teknologi bukanlah ancaman bagi kebudayaan. Ia menolak pandangan modernisasi identik dengan westernisasi. “Pesan dari Ngarsa Dalem (Sri Sultan) yang selalu kami pegang adalah: modernisasi itu bukan berarti westernisasi. Kita punya nilai-nilai sendiri yang harus dilestarikan,” ujarnya.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar