Kisah Asti Surya Menghadapi Diskriminasi Usia di Dunia Mode, Terbuka pada Perubahan

Kisah Asti Surya Menghadapi Diskriminasi Usia di Dunia Mode, Terbuka pada Perubahan

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Kisah Asti Surya Menghadapi Diskriminasi Usia di Dunia Mode, Terbuka pada Perubahan, berikut adalah fakta yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Fenomena Ageism di Dunia Fesyen dan Peran Generasi Muda

Ageism, atau diskriminasi berdasarkan usia, masih sering terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia fesyen. Banyak pelaku industri yang merasa dibatasi oleh label usia, terutama perempuan yang bekerja di bidang kreatif. Padahal, usia seharusnya tidak menjadi penghalang untuk berkarya, berinovasi, dan menciptakan karya yang segar serta relevan dengan tren saat ini.

Asti Surya, desainer sekaligus Creative Director ASTISURYA, mengakui bahwa ia sempat mengalami tekanan di tengah perubahan cepat di industri fesyen yang kini banyak diisi oleh generasi muda. Ia merasa tertinggal di tengah gempuran Gen Z yang lebih melek teknologi.

Perbedaan Gaya Kerja dan Cara Berpikir

Asti, yang merupakan bagian dari generasi milenial, mengatakan bahwa kehadiran Gen Z sangat terasa karena mereka sudah menguasai teknologi dan memiliki kepekaan tinggi terhadap tren visual. Menurutnya, Gen Z tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga mulai memegang peran penting di industri fesyen.

“Gen Z ini punya dunia yang produktif, mereka sudah mulai memegang peran juga. Hal ini yang kerap kali membuat aku membanding-bandingkan kemampuan diriku dengan generasi ini,” ujarnya.

Perkembangan Teknologi dan Tantangan Baru

Sebagai desainer, Asti menyadari bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara berkarya. Pemilik brand La Douche Vita ini melihat bagaimana generasi muda unggul dalam hal presentasi visual dan adaptasi terhadap platform baru.

“Menurutku Gen Z ini canggih-canggih. Mereka secara visual presentation lebih jago, sedangkan kita yang milenial ini adalah orang-orang yang sama teknologi baru belajar,” katanya.

Ia menambahkan, perubahan ini terasa begitu cepat. Dulu, desainer cukup menampilkan karya melalui foto atau katalog sederhana. Kini, formatnya semakin kompleks dengan adanya video, reels, hingga short content yang menuntut kemampuan baru.

“Misalnya, dulu itu teknologi lebih sederhana, tapi sekarang lebih kompleks. Lalu platform dan output-nya banyak. Tidak hanya foto, tapi ada video juga. Itu sesuatu yang baru ya,” ujarnya.

Belajar dari Generasi Muda

Menghadapi perbedaan tersebut sempat membuat Asti merasa stres dan tertekan. Ia mengaku pernah merasa tertinggal dari generasi yang lebih muda karena kemampuan adaptasi mereka yang cepat. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa kuncinya bukan bersaing, melainkan belajar dan berkolaborasi.

“Awalnya sempat stres mengikuti pertumbuhan yang pesat ini, tapi lama-kelamaan aku merasa harus belajar dari yang muda-muda ini agar tetap muda dan ikut perkembangan zaman,” tuturnya.

Baginya, setiap generasi memiliki kekuatan dan karakteristik berbeda. Ia percaya bahwa semangat belajar dan keterbukaan terhadap hal baru menjadi kunci agar bisa terus relevan di dunia yang bergerak cepat.

Menyeimbangkan Diri dan Tidak Terbatasi Usia

Asti menegaskan, cara terbaik menghadapi ageism adalah dengan menyeimbangkan kemampuan diri dengan perkembangan yang ada. Ia tidak ingin usia menjadi alasan untuk berhenti berkarya atau kehilangan semangat berinovasi.

“Cara aku mengatasi ageism ini dengan belajar untuk menyeimbangkan kemampuan dengan apa yang ada sekarang. Usia tidak membatasi aku untuk terus berkarya dan belajar,” tegasnya.

Baginya, kreativitas tidak mengenal usia. Justru pengalaman panjang menjadi modal penting dalam menciptakan karya yang matang dan bernilai. Ia berharap lebih banyak pelaku industri yang menghargai keberagaman usia karena setiap generasi memiliki kontribusi berbeda dalam membentuk arah fesyen Indonesia.

Menemukan Kekuatan di Tengah Perubahan

Bagi Asti, perjalanan menghadapi ageism justru membuka ruang baru untuk berkembang. Ia menemukan semangat baru dengan terus berinteraksi, berdiskusi, dan belajar dari generasi muda yang penuh energi dan ide segar.

Ia pun berpesan agar para kreator, terutama perempuan, tidak merasa kecil hati menghadapi perubahan zaman. Dengan semangat itu, Asti Surya membuktikan bahwa usia bukanlah batasan dalam berkarya. Justru di tengah gempuran generasi muda, kolaborasi lintas usia menjadi kekuatan baru yang membuat dunia fesyen semakin hidup dan berwarna.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Kisah Asti Surya Menghadapi Diskriminasi Usia di Dunia Mode, Terbuka pada Perubahan. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar