Kecemasan Digital: Teknologi yang Menyentuh Jiwa

Kecemasan Digital: Teknologi yang Menyentuh Jiwa

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Kecemasan Digital: Teknologi yang Menyentuh Jiwa yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.


Kecemasan di Era Digital: Saat Teknologi Menyentuh Jiwa Kita
Refleksi dari Seksi Ansietas PDSKJI di Kongres Nasional XI Makassar 2025

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dunia berubah dengan cepat. Kini, hampir setiap aspek kehidupan kita tersentuh oleh teknologi. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, layar ponsel menjadi "teman" yang paling setia. Namun di balik segala kemudahan dan konektivitas, ada sisi lain yang mulai menampakkan diri — kecemasan yang meningkat di tengah kehidupan serba daring ini. Isu ini menjadi sorotan hangat dalam sesi Seksi Ansietas PDSKJI pada Kongres Nasional XI Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang berlangsung tadi sore di Makassar, Jumat 7 November 2025.

Teknologi: Harapan Baru, Tapi Bukan Pengganti Sentuhan Manusia

Dalam presentasi "Dampak Teknologi terhadap Pengelolaan Gangguan Kecemasan", saya menyoroti bagaimana telepsikiatri, internet-based CBT (iCBT), dan aplikasi kesehatan mental kini sudah menjadi bagian dari praktik psikiatri modern. Banyak penelitian menunjukkan efektivitas terapi daring yang sebanding dengan tatap muka — terutama untuk pasien di daerah terpencil atau mereka yang enggan datang karena stigma. Namun saya juga menegaskan, teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti empati. Hubungan terapeutik yang manusiawi tetap menjadi inti dari proses penyembuhan. Kita perlu bijak menjaga privasi data, menghindari euforia teknologi, dan memastikan adaptasi dengan budaya lokal, di mana banyak pasien masih mengekspresikan kecemasan lewat gejala fisik seperti jantung berdebar atau sesak napas.

Media Sosial dan Kecemasan Sosial: Cermin yang Memperbesar Kekhawatiran

Prof Dr.dr. Mustafa M. Amin, SpKJ(K) ketua seksi Ansietas PDSKJI dari Departemen Psikiatri FK Universitas Sumatera Utara menyoroti dimensi lain dari dunia digital dalam presentasinya "Media Sosial dan Gangguan Ansietas Sosial: Pendekatan Presisi di Era Digital." Menurutnya, media sosial bisa menjadi ruang ekspresi sekaligus sumber tekanan baru: fear of missing out (FoMO), upward social comparison, hingga kecemasan setelah mengunggah sesuatu (post anxiety). Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa komentar negatif di media sosial dapat mengaktifkan amigdala, bagian otak yang berhubungan dengan rasa takut, sementara korteks prefrontal — yang berperan mengatur emosi — malah menjadi kurang aktif. Fenomena ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa "takut" dengan dunia sosial, baik daring maupun luring. Namun di sisi lain, dr. Mustafa juga memperkenalkan arah baru pengobatan: farmakogenetik dan terapi berbasis Virtual Reality (VRET) yang memungkinkan pasien menghadapi ketakutan sosial dalam lingkungan virtual yang aman dan terukur. Pendekatan ini menjadi simbol dari psikiatri masa depan yang lebih presisi dan personal.

Remaja, Media Sosial, dan Identitas yang Mudah Terguncang

Dr.dr.Veranita Pandia,SpKJ(K) psikiater anak dan remaja dari Departemen Psikiatri FK UNPAD-RSHS Bandung menyoroti bahwa lebih dari sepertiga remaja pengguna media sosial mengalami gejala kecemasan, terutama perempuan. Remaja cenderung mengaitkan harga dirinya dengan jumlah likes, komentar, atau respon dari orang lain. Ketika validasi digital menjadi pusat nilai diri, kecemasan sosial pun tumbuh. Solusi yang ditawarkan dr. Veranita bukan sekadar "membatasi waktu layar". Ia menekankan pentingnya detoks digital, mindfulness, edukasi orang tua, dan CBT berbasis teknologi — termasuk graphic medicine yang menggabungkan ilustrasi dan narasi untuk membantu remaja memahami emosinya. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa terapi CBT digital lebih efektif (83%) dibanding sekadar mengurangi waktu media sosial.

Menemukan Tenang di Tengah Bisingnya Dunia Daring

Ketiga pembicara dari Seksi Ansietas sepakat: kita tidak bisa menolak kemajuan digital, tapi bisa menggunakannya dengan kesadaran. Teknologi dapat menjadi sahabat bagi kesehatan jiwa — bila dikelola dengan nilai kemanusiaan dan kehati-hatian etis. Sebagai psikiater, saya sering mengatakan bahwa kecemasan bukan musuh, melainkan sinyal jiwa yang butuh jeda. Ketika kita terlalu sibuk menggulir layar tanpa arah, mungkin yang sebenarnya kita cari bukan notifikasi baru, tapi ketenangan yang belum kita temukan. Mari gunakan teknologi dengan bijak. Berhenti sejenak dari layar, tarik napas, dan sadari bahwa di balik semua algoritma, ada satu hal yang tetap abadi: jiwa manusia yang butuh didengar.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar