
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Potensi Ekonomi Digital Indonesia yang Besar
Indonesia dinilai memiliki ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara dan berpotensi menjadi kekuatan ekonomi digital global. Namun, percepatan transformasi digital diperlukan agar negara ini dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia menunjukkan adopsi yang agresif terhadap teknologi AI dan 5G. Meski demikian, GSMA menekankan bahwa perlu ada peningkatan dalam proses digitalisasi agar Indonesia mampu memenuhi ekspektasi tersebut.
Peran Spektrum 5G dalam Transformasi Digital
Salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah lambatnya penyediaan spektrum 5G. Hal ini menghambat investasi oleh operator seluler dan memperlambat pengembangan infrastruktur digital. Spektrum 5G yang tidak cukup tersedia menyebabkan ketidakpastian bagi sektor digital karena ketergantungan pada kebijakan pemerintah.
Menurut Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, kondisi ini harus segera diperbaiki agar Indonesia bisa lebih cepat dalam proses transformasi digital. Ia menyampaikan pesan tersebut dalam pertemuan dengan media di acara Digital Nation Summit Jakarta 2025.
Kesiapan Masyarakat Digital Indonesia
Meskipun masih ada tantangan, masyarakat Indonesia telah sangat melek digital. Hal ini terlihat dari tingginya adopsi layanan digital dalam dua dekade terakhir, mulai dari penggunaan BlackBerry Messenger hingga chatbot seperti ChatGPT. Pertumbuhan belanja online dan kehadiran solusi AI lokal seperti Sahabat AI juga menunjukkan bahwa ekosistem digital Indonesia sudah siap untuk berkembang lebih jauh jika didukung oleh ketersediaan spektrum 5G yang memadai.
Penerapan Teknologi di Perusahaan Indonesia
GSMA menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia berada di atas rata-rata dalam hal penerapan AI dan transformasi digital. Populasi besar yang mencapai 280 juta jiwa menjadi potensi besar bagi penguatan ekonomi digital. Survei GSMA Intelligence menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia akan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatan mereka untuk transformasi digital antara 2025 hingga 2030, melebihi rata-rata ASEAN (10,4 persen) maupun global (9,8 persen).
Dua pertiga responden menempatkan AI dalam tiga besar area pengeluaran mereka, sementara lebih dari setengahnya menganggap IoT berbasis 5G sebagai faktor penting bagi pertumbuhan di masa depan. Ini menegaskan ambisi Indonesia untuk memanfaatkan teknologi generasi berikutnya demi meningkatkan daya saing dan keamanan.
Dampak Transformasi Digital pada Ekonomi Indonesia
Transformasi digital memiliki peran penting dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang ditetapkan oleh pemerintah. GSMA menilai bahwa negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina memberikan contoh nyata. Ekonomi Malaysia tumbuh sekitar 8 persen, sedangkan Filipina tumbuh 7,5 persen. Di kedua negara tersebut, pertumbuhan ekonomi digitalnya 4-5 kali lebih cepat dibanding ekonomi tradisional.
Berkaca dari contoh tersebut, GSMA menyarankan Indonesia untuk lebih giat dalam menggalakkan digitalisasi. "Untuk mencapai target 8 persen, pemerintah Indonesia perlu menggerakkan digitalisasi," tegas Gorman.
Komentar
Kirim Komentar