
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Hizbullah Menegaskan Tidak Akan Menyerahkan Senjata
Gerakan Hizbullah Lebanon menunjukkan sikap tegas terhadap ancaman dari Israel. Mereka menyatakan bahwa senjata yang dimiliki akan digunakan untuk melindungi wilayah dan rakyat Lebanon. Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, pada Selasa (11/11). Ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerahkan senjata yang memberi kemampuan untuk membela diri.
“Kami tidak akan menyerahkan senjata yang memberi kami kemampuan untuk membela diri. Kami yang diserang, dan kami akan bertahan. Apa pun lebih baik daripada menyerah, dan kami yakin akan menang,” ujar Qassem.
Menurutnya, serangan Israel tidak bisa terus berlanjut dan harus segera dihentikan. Upaya intimidasi atau ancaman tidak akan mengubah sikap Hizbullah. “Mereka ingin memusnahkan kami. Kami menghadapi ancaman eksistensial, jadi kami berhak untuk melawan,” tambahnya.
Kebijakan Pemerintah Lebanon yang Mengkhawatirkan
Sehari sebelum pernyataan Qassem, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa angkatan bersenjata Lebanon harus mampu menjaga kedaulatan negara dan menegakkan otoritas pemerintah secara mandiri. Pernyataan ini mengindikasikan keinginan pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah.
Pemerintah Lebanon berulang kali menuduh Israel terus melanggar kedaulatan negaranya meski telah ada kesepakatan gencatan senjata sejak November 2024. Militer Israel disebut masih menempati lima titik strategis di Lebanon selatan, termasuk bagian utara desa Ghajar — wilayah yang menurut Beirut masih berada di bawah pendudukan dan melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Kritik terhadap Kebijakan Monopoli Senjata
Hizbullah juga mengkritik keputusan pemerintah Lebanon untuk menerapkan monopoli negara atas kepemilikan senjata. Menurut kelompok tersebut, kebijakan ini dinilai melemahkan kemampuan pertahanan nasional.
Selain itu, pada 6 November, Hizbullah mengirim surat terbuka kepada pimpinan Afghanistan, menyerukan agar bergabung menghentikan agresi Israel daripada bernegosiasi. Menurut kelompok itu, negosiasi dapat merugikan Beirut.
Sikap Tegas dan Keberanian Hizbullah
Dalam pernyataannya, Qassem menekankan bahwa Hizbullah siap menghadapi ancaman apa pun. Ia menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerah terhadap tekanan dari pihak luar. “Kami yang diserang, dan kami akan bertahan,” katanya.
Sikap ini menunjukkan bahwa Hizbullah memiliki komitmen kuat untuk melindungi rakyat dan wilayah Lebanon. Mereka percaya bahwa dengan senjata yang dimiliki, mereka mampu menghadapi ancaman dari Israel.
Tantangan dan Perspektif Masa Depan
Meskipun Hizbullah menunjukkan sikap tegas, situasi politik dan militer di kawasan tetap menjadi tantangan besar. Pemerintah Lebanon terus mencoba untuk mengambil alih kendali atas senjata, sementara Hizbullah tetap berpegang pada prinsip pembelaan diri.
Tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga dengan stabilitas politik di Lebanon. Dengan kondisi yang kompleks, diperlukan solusi yang adil dan berkelanjutan untuk menyelesaikan konflik antara Hizbullah dan Israel.
Kesimpulan
Pernyataan Hizbullah menunjukkan keteguhan mereka dalam menghadapi ancaman dari Israel. Mereka menegaskan bahwa senjata akan digunakan untuk melindungi rakyat dan wilayah Lebanon. Di sisi lain, pemerintah Lebanon terus berupaya untuk mengendalikan senjata, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan pertahanan nasional.
Dengan situasi yang terus berubah, penting bagi semua pihak untuk mencari solusi yang dapat menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Komentar
Kirim Komentar