
Harga Gula Petani di Cirebon Mulai Membaik, Namun Masih Ada Tantangan
Harga gula petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan menjelang akhir tahun 2025. Berdasarkan hasil lelang terbaru, harga gula petani diterima kini berada di atas Harga Pokok Produksi (HPP). Harga ini mencapai Rp 14.705 per kilogram, dengan selisih sebesar Rp 205 dari HPP yang ditetapkan sebesar Rp 14.500 per kilogram.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Meski demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya memberi keuntungan bagi para petani tebu. Pasalnya, harga tetes—salah satu produk turunan dari proses pengolahan tebu—masih stagnan dan belum mengalami perbaikan. Hal ini menjadi isu penting yang masih harus diselesaikan oleh pihak terkait.
Selain itu, musim tanam tebu di wilayah Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan daerah lainnya, sudah dimulai pada akhir tahun 2025. Meskipun musim hujan telah memungkinkan penanaman, ada beberapa kendala teknis yang dihadapi oleh petani.
Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Barat, Ali Mazazi, dalam wawancaranya dengan aiotrade pada Selasa, 11 November 2025, dinamika program bongkar ratun serta pengembangan lahan terus berjalan. Namun, curah hujan yang tinggi menyebabkan beberapa areal tanam sulit diakses oleh traktor. Selain itu, distribusi benih tebu juga belum jelas kapan akan tiba.
Tantangan Musim Tanam dan Keterlambatan Benih
Kendala teknis yang muncul selama musim tanam tebu memengaruhi produktivitas para petani. Beberapa areal tanam yang seharusnya dapat digunakan untuk penanaman tebu kini sulit diakses karena kondisi tanah yang basah dan licin. Hal ini membuat para petani kesulitan dalam melakukan aktivitas pertanian secara efektif.
Selain itu, keterlambatan pengiriman benih tebu juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan musim tanam. Tanpa benih yang tepat waktu, para petani tidak bisa melakukan penanaman sesuai rencana. Dengan adanya kendala ini, potensi hasil panen tebu pada musim ini menjadi tidak pasti.
Langkah Pemerintah dalam Hilirisasi Pertanian
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian melalui investasi hilirisasi. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk memperkuat daya saing komoditas dalam negeri serta membuka lapangan kerja baru.
Rapat Finalisasi Program Hilirisasi Perkebunan dan Industri yang dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roeslani, dilakukan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada Jumat, 7 November 2025. Dalam rapat tersebut, fokus utama adalah bagaimana mempercepat investasi pada sektor perkebunan, termasuk tebu, kakao, mete, dan komoditas lainnya.
Mentan Amran menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan adanya proses hilirisasi, nilai tambah dari komoditas pertanian bisa lebih besar, sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi para petani dan masyarakat sekitar.
Dengan peningkatan harga gula petani dan upaya pemerintah dalam hilirisasi, harapan besar diarahkan kepada masa depan sektor pertanian di Jawa Barat. Namun, tantangan seperti harga tetes yang masih stagnan dan masalah teknis dalam musim tanam tetap menjadi perhatian serius yang perlu segera diatasi.
Komentar
Kirim Komentar