Fintech Berkembang Saat KUR Menurun, Solusi Pembiayaan UMKM

Fintech Berkembang Saat KUR Menurun, Solusi Pembiayaan UMKM

Industri teknologi kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Fintech Berkembang Saat KUR Menurun, Solusi Pembiayaan UMKM yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Peran Fintech Lending dalam Perekonomian Indonesia

Industri fintech lending atau pinjaman daring (pindar) semakin menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Hal ini terutama terlihat di tengah tren perlambatan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Komite Pengarah Indonesia Fintech Society (IFSoc), Hendri Saparini, menyatakan bahwa kinerja fintech lending legal justru mencatat pertumbuhan signifikan ketika pertumbuhan KUR, khususnya di sektor produksi, mulai melandai.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Hendri, outstanding pindar meningkat dari Rp60 triliun pada 2023 menjadi Rp77 triliun pada 2024, atau tumbuh 28 persen secara tahunan. Hingga September 2025, outstanding pindar kembali naik 13 persen menjadi Rp87 triliun.

“Pada 2024, outstanding pindar tercatat sebesar Rp77 triliun, dan pada September 2025 melonjak menjadi Rp87 triliun. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan KUR yang saat ini cenderung melandai, terutama KUR untuk sektor produksi,” ujar Hendri dalam diskusi, Jumat (19/12/2025).

Masih Banyak Penduduk Dewasa Tidak Memiliki Rekening Bank

Capaian tersebut menegaskan peran fintech lending sebagai alternatif pembiayaan yang semakin penting bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama bagi kelompok yang belum terlayani optimal oleh perbankan.

Hendri menambahkan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam inklusi keuangan. Sekitar 48 persen penduduk dewasa belum memiliki rekening bank, sementara sekitar 40 persen lainnya masih masuk kategori underbanked atau unbanked.

“Kondisi ini menunjukkan perlunya inovasi layanan keuangan agar seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses pembiayaan, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun kegiatan usaha,” tegasnya.

Literasi Keuangan Rendah, IFSoc Minta Kebijakan Seimbang

Menurut Hendri, kebijakan keuangan juga perlu lebih berpihak pada sektor produksi agar pertumbuhan ekonomi berjalan lebih seimbang.

“Konsumsi memang penting, tetapi dukungan pembiayaan ke sektor produksi juga krusial,” katanya.

Dari sisi literasi keuangan, Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya. Tingkat literasi keuangan di Thailand telah mencapai sekitar 71 persen dan Malaysia 88 persen. Sementara itu, Filipina juga berada di atas Indonesia. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi dan rendahnya tekanan inflasi di negara-negara tersebut.

“Fokus kita seharusnya bukan membesarkan masalah, melainkan mencari solusi. Secara makro, fintech terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan membantu mengurangi kemiskinan,” ujar Hendri.

Penyaluran Pembiayaan Fintech Lending Masih Dominan di Jawa

Sementara itu, dari sisi sebaran wilayah, penyaluran fintech lending masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Adapun rinciannya sebagai berikut:

  • Jawa sebesar 71,5 persen
  • Sumatera sebesar 13,9 persen
  • Sulawesi sebesar 5,4 persen
  • Kalimantan sebesar 4,5 persen
  • Bali dan Nusa Tenggara sebesar 3,7 persen
  • Maluku dan Papua sebesar 1 persen

Distribusi tersebut menunjukkan peluang ekspansi fintech lending ke luar Jawa masih terbuka lebar, seiring dengan upaya peningkatan inklusi dan literasi keuangan di daerah.

Inisiatif Baru untuk Meningkatkan Kepercayaan dalam Industri Fintech

Selain itu, beberapa inisiatif baru telah dilakukan oleh sejumlah perusahaan fintech untuk meningkatkan kepercayaan dan menghindari praktik fraud. Salah satunya adalah Aftech yang meresmikan Kode Etik untuk menjaga standar industri.

Selain itu, acara BFN 2025 menjadi momen penting bagi industri fintech untuk menegaskan pertumbuhan mereka yang didasarkan pada kepercayaan, bukan popularitas.

Di sisi lain, banyak fintech juga melakukan upaya untuk melawan scam dengan cara-cara yang efektif dalam menjaga keuangan digital masyarakat.

Dengan terus berkembangnya industri fintech lending, diharapkan akan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar