
JAKARTA – Pada perdagangan Jumat (16/1/2026), bursa Asia menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan mayoritas indeks mengalami kenaikan. Bursa Asia berpotensi mencatatkan kenaikan mingguan terpanjang sejak Mei 2025. Indikator regional menunjukkan bahwa saham teknologi melonjak ke rekor tertinggi, karena investor semakin memperkuat taruhan mereka pada kecerdasan buatan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Menurut data Bloomberg, pada pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 turun sebesar 196,60 poin atau 0,36% menjadi 53.904,76. Sementara itu, Hang Seng naik 171,23 poin atau 0,64% menjadi 27.094,85. Indeks Taiex juga menguat sebesar 521,56 poin atau 1,69% menjadi 31.328,13. Kospi meningkat 49,19 poin atau 1,06% menjadi 4.848,26. ASX 200 naik 9,43 poin atau 0,11% menjadi 8.871,10. Indeks Straits Times naik 5,90 poin atau 0,12% menjadi 4.838,71, sedangkan FTSE Malaysia bertambah 3,69 poin atau 0,22% menjadi 1.718,29.
Indeks MSCI Asia Pasifik diperkirakan akan mencatat kenaikan selama empat minggu berturut-turut. Selama periode tersebut, indeks MSCI telah mengalami kenaikan lebih dari 7%.
Pergerakan saham regional terlihat beragam. Saham di Jepang mengalami penurunan, sementara saham di Korea Selatan menguat, terutama saham-saham teknologi.
Fawad Razaqzada dari Forex.com mengatakan, “Saham-saham teknologi tampaknya rentan dalam beberapa pekan terakhir, karena investor beralih dari saham berkapitalisasi besar ke sektor pasar yang lebih siklikal.” Namun, pembaruan TSMC tampaknya telah membantu menstabilkan situasi tersebut, meskipun belum sepenuhnya membalikkan tren tersebut.
Para pedagang juga mengamati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Fox News melaporkan bahwa setidaknya satu kapal induk Amerika Serikat sedang bergerak menuju wilayah tersebut. Perencana militer AS sedang mempersiapkan berbagai opsi tergantung pada tindakan pemerintah Iran dalam beberapa hari ke depan.
Selain itu, kabar lain menyebutkan bahwa AS dan Taiwan telah menyepakati kesepakatan dagang yang akan menurunkan tarif barang dari Taiwan menjadi 15%. Kesepakatan ini juga akan membuat perusahaan semikonduktor Taiwan meningkatkan pembiayaan untuk operasi di AS sebesar US$ 500 miliar.
Di Asia, pasar juga sedang memantau rilis data ekonomi Jepang dan pertemuan bank sentral pekan depan yang kemungkinan akan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga. Hal ini akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.
Komentar
Kirim Komentar