Bioliner Berbasis Pati Singkong Jadi Solusi Pengelolaan Sampah TPA

Bioliner Berbasis Pati Singkong Jadi Solusi Pengelolaan Sampah TPA

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Bioliner Berbasis Pati Singkong Jadi Solusi Pengelolaan Sampah TPA yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Teknologi Bioliner Berbasis Pati Singkong sebagai Solusi Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Teknologi bioliner berbasis pati singkong menawarkan alternatif modern dalam pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Dengan metode lahan urug terkendali (controlled landfill), teknologi ini menjadi solusi inovatif untuk mengurangi polusi bau dan menekan biaya operasional. Selain itu, penggunaannya bisa membantu mengurangi ketergantungan pada tanah urugan yang sering kali mahal dan memerlukan alat berat.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap adopsi teknologi ramah lingkungan yang mampu mengatasi beban biaya dan polusi bau di TPA. Ia menjelaskan bahwa selama ini, sampah di TPA sering ditumpuk dengan menggunakan tanah urugan, yang sangat mahal karena membutuhkan alat berat. Oleh karena itu, diperlukan solusi lain yang lebih murah, efisien, dan ramah lingkungan agar tidak memberatkan anggaran daerah.

Menurut Diaz, pengelolaan sampah dengan metode controlled landfill sering kali terkendala tinggi biaya operasional akibat penggunaan tanah urugan. Teknologi bioliner dari Greenhope menjadi inovasi penutup sampah dengan pori-pori halus berukuran 8 mikron. Perbedaan utama antara bioliner dan tanah adalah kemampuannya untuk mencegah bau menyengat serta kontaminasi mikroplastik tanpa memerlukan alat berat dalam pemasangannya.

Penggunaan material berbahan dasar pati singkong ini dinilai jauh lebih efektif karena tidak menghabiskan volume TPA. Hal ini membuat kapasitas lahan TPA tidak cepat penuh. Keberadaan teknologi ini sangat penting mengingat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 melarang praktik pembuangan terbuka (open dumping) dan mewajibkan transisi ke metode controlled landfill atau sanitary landfill.

Regulasi pendukung untuk metode alternatif dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan telah tersedia melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 03/PRT/M/2013 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Pentingnya Pengujian oleh Pihak Ketiga

CEO Greenhope, Tommy Tjiptadjaja, berharap pemerintah memberikan dukungan agar inovasi lokal ini dapat disosialisasikan lebih luas kepada pemerintah daerah. Ia meminta dukungan Kementerian Lingkungan Hidup untuk membuka ruang bagi alternatif seperti bioliner, sehingga inovasi lokal dalam pengelolaan sampah dapat berjalan lebih maksimal.

Greenhope optimistis bahwa hilangnya eksklusivitas penggunaan tanah sebagai penutup TPA akan mempercepat transisi daerah menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih layak. Namun, Wamen Diaz menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam menerapkan teknologi baru sebelum dilempar ke publik secara masif. Menurutnya, penguatan basis ilmiah melalui pengujian yang kredibel dan transparan adalah mutlak.

“Pemerintah tentunya mendukung setiap inovasi karya anak bangsa, tapi kita tetap harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Untuk itu, KLH/BPLH akan memfasilitasi pengujian oleh pihak ketiga,” ujar Diaz. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap klaim teknologi yang digunakan benar-benar aman bagi lingkungan dalam jangka panjang.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar