
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Mengenal Konsep AI Bubble
AI Bubble merujuk pada situasi di mana ekspektasi terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) meningkat secara signifikan, disertai aliran dana besar-besaran. Namun, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan dan besarnya investasi tidak seimbang dengan manfaat nyata yang dihasilkan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi di mana pertumbuhan teknologi berlangsung sangat cepat dan membentuk "gelembung" ekonomi. Jika ekspektasi tersebut tidak diiringi hasil nyata atau monetisasi yang jelas, gelembung tersebut berisiko "pecah" dan memicu reaksi negatif di industri AI.
Peran Telkomsel dalam Menghadapi AI Bubble
Menurut Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, fenomena AI Bubble memang berpotensi terjadi dan belakangan menjadi isu global. Namun, ia menilai kondisi tersebut sebagai bagian yang wajar dari siklus perkembangan teknologi. “AI itu seperti teknologi besar sebelumnya. Ada internet bubble, startup bubble, bahkan 3G bubble. Jadi kalau sekarang muncul potensi AI Bubble, itu sesuatu yang biasa dalam perkembangan teknologi,” ujarnya di sela peluncuran AI Innovation Hub di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025).
Nugroho menjelaskan bahwa AI Bubble biasanya muncul ketika investasi tidak seimbang dengan potensi monetisasi. Karena itu, Telkomsel memilih pendekatan yang hati-hati dan terukur, alih-alih agresif mengejar tren atau terjebak fenomena fear of missing out (FOMO). “Yang penting itu menjaga keseimbangan antara investasi dan monetisasi. Kalau tidak seimbang, maka risiko bubble sangat besar. Artinya, yang menjadi penentu bukan AI-nya, tetapi bagaimana perusahaan mengelola investasi dan adopsi AI secara rasional,” imbuh pria yang akrab disapa Nugie ini.
Pendekatan Cermat dalam Investasi AI
Dalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas. Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.
“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie. Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).
Pentingnya Adopsi AI yang Matang
Walaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan. “Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.
Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia. Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya. Pengalaman "pahit" pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.
Komentar
Kirim Komentar