5 Fakta Menarik Burung Raja Udang Perak, Langka dan Terbatas!

5 Fakta Menarik Burung Raja Udang Perak, Langka dan Terbatas!

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai 5 Fakta Menarik Burung Raja Udang Perak, Langka dan Terbatas!, berikut adalah fakta yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Penjelasan tentang Raja Udang Perak

Burung raja udang, atau dikenal juga dengan nama cekakak atau kingfisher (famili Alcedinidae), merupakan kelompok burung yang memiliki tubuh kecil namun memiliki kepala dan paruh yang relatif besar. Total terdapat sekitar 118 spesies berbeda dari burung raja udang yang tersebar di seluruh dunia. Dalam artikel ini, kita akan membahas salah satu spesies yang memiliki persebaran relatif terbatas, yaitu raja udang perak (Ceyx argentatus).

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Penampilan raja udang perak mirip dengan kerabatnya, tetapi memiliki warna bulu yang lebih khas, yakni biru tua dan pucat dengan sedikit warna putih pada area leher dan perut. Paruh dan kaki mereka cenderung berwarna jingga, yang membuat dua bagian tersebut menonjol dibandingkan bagian tubuh lainnya.

Dari segi ukuran, raja udang perak memiliki panjang tubuh sekitar 14 cm, rentang sayap 18–23 cm, dan bobot antara 11–15 gram. Berikut beberapa fakta menarik tentang burung mungil ini:

Peta Persebaran dan Habitat Alami


Raja udang perak termasuk spesies burung yang memiliki persebaran terbatas. Mereka adalah burung endemik satu negara saja, yaitu Filipina. Burung ini hanya dapat ditemukan di pulau Dinagat, Siargao, Mindanao, dan Basilan. Total luas area persebaran mereka diperkirakan sekitar 180 ribu km persegi. Mereka tidak bermigrasi, sehingga selalu tinggal di tempat yang sama sepanjang tahun. Habitat alami mereka berupa sumber air alami di sekitar hutan tropis atau padang rumput, seperti sungai, kolam, atau danau di dataran rendah. Ketinggian rata-rata yang dipilih oleh raja udang perak berkisar antara 0–1.000 meter di atas permukaan laut.

Makanan Favorit dan Cara Memperolehnya


Seperti kerabatnya, raja udang perak merupakan burung predator yang mengonsumsi berbagai spesies serangga air, ikan kecil, dan krustasea. Cara berburu mereka unik karena mengombinasikan kemampuan terbang menukik dan menyelam ke dalam air secara bersamaan. Saat berburu, mereka terlebih dahulu terbang di atas permukaan air untuk mencari mangsa. Setelah menemukan target, mereka akan terbang menukik ke bawah dan langsung menyambar mangsa dengan paruh besar mereka. Jika menemukan sumber makanan yang mudah ditangkap, mereka juga akan mengais-ngais di sekitar perairan dangkal. Raja udang perak adalah hewan diurnal, sehingga aktivitas berburu dilakukan saat Matahari masih terbit.

Sarang yang Unik dan Kebiasaan Teritorial


Berbeda dengan kebanyakan spesies burung yang membangun sarang dari tanaman dan diletakkan di atas tanaman, raja udang perak memiliki pendekatan khusus. Mereka mencari tanah di sekitar pinggiran sungai atau sumber air sebagai rumah mereka. Induk burung ini akan menggali tanah yang lembek hingga menjadi terowongan yang berfungsi sebagai sarang. Ukuran lubang sarang cukup dalam, sekitar 100–120 cm dengan diameter 3,8–4,5 cm. Selain itu, raja udang perak juga dikenal sebagai burung soliter yang sangat teritorial. Mereka tidak segan menyerang individu lain yang masuk ke wilayah mereka untuk mencegah perebutan makanan. Namun, perilaku agresif ini akan berkurang saat musim kawin tiba, di mana pasangan raja udang perak bekerja sama dalam konstruksi sarang dan merawat anak-anak.

Sistem Reproduksi


Musim kawin bagi raja udang perak berlangsung antara bulan Juli–September. Proses pembentukan pasangan melibatkan suara vokal dan tarian yang dilakukan jantan untuk menarik perhatian betina. Burung ini bersifat monogami dalam satu musim kawin, artinya pasangan yang terbentuk akan tetap bersama sepanjang masa kawin. Betina raja udang perak dapat menghasilkan 3–4 butir telur dalam satu musim kawin. Telur-telur tersebut diletakkan di sarang berbentuk lubang dan menjalani masa inkubasi selama 18–22 hari. Baik induk jantan maupun betina sama-sama menjaga telur dan merawat anak setelah menetas. Anak raja udang perak sudah bisa hidup mandiri setelah berusia 3 minggu. Di alam liar, mereka bisa bertahan hidup antara usia 6–8 tahun.

Status Konservasi


Berdasarkan catatan IUCN Red List, raja udang perak masuk dalam kategori "hampir terancam punah" (Near Threatened). Populasi mereka menurun setiap tahunnya, dan diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.500–7.000 individu dewasa di alam liar. Selain persebaran yang terbatas, deforestasi di sekitar area persebaran mereka menjadi masalah utama. Pembukaan lahan besar-besaran demi penebangan atau penambangan liar terus berlangsung, yang tidak hanya mengurangi lahan hijau, tetapi juga menyebabkan pencemaran. Beberapa upaya konservasi telah dilakukan, seperti menjadikan area persebaran di Filipina sebagai daerah yang dilindungi dan melakukan pembersihan polusi agar ekosistem alam tetap terjaga. Semoga upaya-upaya ini dapat memberikan hasil positif agar raja udang perak dan ekosistem lainnya tetap lestari.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai 5 Fakta Menarik Burung Raja Udang Perak, Langka dan Terbatas!. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar