Trump Mengapresiasi Peran Qatar dalam Perdamaian Gaza

Trump Mengapresiasi Peran Qatar dalam Perdamaian Gaza

Presiden AS Mengapresiasi Peran Qatar dalam Gencatan Senjata Gaza

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan apresiasi kepada Qatar atas perannya menengahi gencatan senjata di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan saat ia bertemu dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, serta Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani di pesawat Air Force One saat singgah untuk mengisi bahan bakar dalam perjalanan menuju KTT di Malaysia.

Advertisement

Kami telah melakukan banyak hal bersama, terutama dalam tahun lalu, kata Trump, memuji kontribusi Qatar dalam upaya perdamaian di Timur Tengah.

Qatar Memperkuat Mediasi dan Hubungan dengan AS

Emir Qatar melalui unggahan di platform X menyebut pertemuannya dengan Trump sebagai kesempatan untuk membahas rencana perdamaian, memperkuat gencatan senjata di Gaza, serta menjajaki kerja sama lebih dalam dengan AS. Ia menilai hubungan Qatar dan Washington terus berkembang melalui jalur diplomasi yang konstruktif.

Jurnalis Al Jazeera, Dorsa Jabbari, melaporkan dari Doha bahwa pemerintahan Trump menganggap peran Qatar sangat penting dalam keberhasilan kesepakatan gencatan senjata. Trump bahkan menilai kesepakatan itu tidak akan tercapai tanpa bantuan Qatar, memperkuat posisi Doha sebagai mediator utama dalam proses damai Gaza.

Pejabat AS dan Trump Hadapi Kendala Pelaksanaan Gencatan Senjata

Sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, melakukan kunjungan ke Israel pekan lalu untuk memastikan kepatuhan Israel terhadap gencatan senjata serta membahas tahap kedua rencana Gaza yang dipimpin AS. Namun, para pengamat menilai sejumlah aspek kesepakatan masih belum jelas, terutama mengenai tuntutan agar Hamas menyerahkan senjata dan rencana pengerahan pasukan keamanan internasional ke Gaza.

Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan gencatan senjata akan tetap bertahan.

Hamas tidak akan sulit untuk ditangani. Itu akan sangat cepat. Tapi saya harap itu berlaku untuk Hamas juga, karena mereka memberi kami janji mereka tentang sesuatu, ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa pasukan dari Qatar dan negara lain kemungkinan akan ikut serta dalam pasukan stabilisasi internasional yang melibatkan 59 negara, dengan pemimpin pasukan masih dalam tahap pemilihan.

Dorsa Jabbari dari Al Jazeera menyampaikan bahwa Israel dan AS terus mendesak Hamas untuk mengembalikan jenazah warga Israel yang ditawan sejak serangan 7 Oktober 2023. Hamas mengaku membutuhkan waktu lebih lama karena kondisi wilayah yang rusak berat akibat serangan udara Israel, sementara otoritas Israel menyebut belum ada jenazah yang dikembalikan dalam empat hari terakhir.

Israel Langgar Gencatan Senjata dan Hambat Bantuan Kemanusiaan

Meski gencatan senjata diberlakukan, Israel melancarkan serangan di kamp pengungsi Nuseirat, menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya. Israel mengklaim serangan itu ditujukan kepada anggota Jihad Islam Palestina (PIJ). Laporan Hani Mahmoud dari Al Jazeera di Kota Gaza mencatat 88 pelanggaran gencatan senjata dalam dua pekan terakhir, termasuk serangan terhadap keluarga pengungsi yang berusaha kembali ke rumah mereka di dekat garis kuning Israel, batas imajiner yang membatasi akses warga Palestina ke lahan pertanian.

Selain itu, pembatasan Israel terhadap bantuan kemanusiaan kian memperburuk situasi di Gaza. Pejabat AS, termasuk Rubio, menyampaikan bahwa kesepakatan masih berjalan, meskipun menunggu resolusi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengesahkan pembentukan pasukan multinasional. Banyak negara menunggu izin tersebut agar dapat secara resmi bergabung dalam misi kemanusiaan.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar