Saat Masalah Datang, Kuatkan Hati

Saat Masalah Datang, Kuatkan Hati

Advertisement

Masalah yang Selalu Menghampiri

Emosi sudah mulai sulit dikendalikan, raga gemetaran, pikiran berlarian tak karuan. Tersisa hanya ruang kendali hati, maka gerakan ia pada kekuatan: mengingat Tuhan lalu kuatkan kembali seperti semula, menepilah sejenak!

Tulisan kali ini datang dari sebuah perenungan akan akar masalah yang selalu menimpa diri pribadi juga refleksi secara umum apa yang dialami oleh banyak diantara kita. Selamat menikmati goresan sederhana ini.

Perdebatan yang Menjadi Pelajaran

Sore itu perdebatan panjang menghampiri saya dan nyonya sebagai suami istri. Masalahnya hanya dikomunikasi. Ini masalah paling klise tapi bisa merusak segalanya: karir, pernikahan, hubungan keluarga dan banyak lagi.

Perdebatan diantara kami akhirnya selesai, karena bicaranya hati dengan hati bukan mengedepankan ego. Saling meminta maaf lalu berlapang dada menerima semua dan tak lupa mengambilnya sebagai pelajaran penting untuk kami berdua.

Kata kuncinya sekali lagi, komunikasi. Sepakatlah kami berdua untuk bertekad memperbaiki pola dan cara kami menyampaikan pesan dari hati satu sama lain.

Solusi dalam Makanan

Kejadian di atas menemukan solusi di meja makan warung favorit kami: bebek goreng terenak di Jombang dan nyonya dengan menu pecel lele bersama sambelnya membuat lidah ketagihan hehe. Ya, pola ini sering kami terapkan setelah diskusi bahkan berdebat selalu diselesaikan dengan kuliner lezat.

Intinya semua kita pasti berhadapan dengan masalahnya masing-masing. Untuk berdamai dengan keadaan dan sesama adalah pilihan hati. Kami memilih hal tersebut tanpa dendam apatah lagi menjadikannya tumpukan masalah baru.

Damai dalam Kehidupan

"Tenang, traktir makan istrimu nak, bawah dia jalan-jalan". Ujar bunda (ibu saya) dalam dering telpon sore itu. Sejak dari kecil hingga kami dewasa dua orang bersaudara saya dan adik satu-satunya semata wayang itu, selalu ditanamkan ngalah demi menuju damainya hati.

Abi (ayah saya) selalu diam mendengarkan jika ada masalah. Beliau memilih diam bukan berarti tidak acuh tak peduli, tapi mengajarkan kami untuk selalu damai sejak dari hati, pikiran hingga tindakan.

Secara ideologis kami diajarkan kebiasaan oleh kepala keluarga langsung. Tak heran jika dalam proses pendewasaan dalam menghadapi masalah kami berusaha belajar terus menerus.

Namun perlu kita semua juga bahwa secara alami alam bawah sadar manusia membutuhkan arti sebuah damai dan ketenangan, hemat saya ini sangat diperlukan oleh manusia modern bahkan dengan segala permasalahan mental saat ini.

Penelitian Ilmiah tentang Ketenangan Hati

Penelitian ilmiah paling mutakhir, "Frontiers in Psychology, International Journal of Environmental Research and Public Health" menjelaskan: bahwa praktik dan sikap yang menumbuhkan ketenangan hati berkontribusi nyata menurunkan stres, kecemasan hingga depresi. Menariknya riset ini bahkan menyimpulkan: dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Menepilah: Tenangkan Hati

Belum juga terurai masalahnya? Pada artikel sebelumnya saya menulis, "The Art of Clearing the Heart: Sebuah Seni Menjernihkan Hati", mencoba mengingatkan kita semua bahwa kemewahan dalam hidup ini adalah ketenangan itu sendiri.

Pada akhir tulisan di atas saya bahkan menggoreskan kata, "hati bersih lagi tenang adalah tanda bahwa Tuhan bersemayam di dalamnya". Untuk itu menepilah sejenak rasakan Ilham kedamaian merasuki jiwa kita.

Pengalaman Pribadi Setelah Perdebatan

Kembali, setelah perdebatan panjang sore itu. Saya melihat detik itu kehilangan alam damainya. Ternyata perasaan tersebut menyiksa batin hingga raga kita terpukul berdarah-darah dari luka hati.

Kami pun memilih menepi sejenak walau hanya sesederhana menikmati makanan enak. Kemudian saya tutup dengan kepulan asap malam sedikit berjarak dengan nyonya. Tentu, untuk mencari alam damai yang seketika sempat kabur dari hati ini.

Semoga goresan sederhana ini memberi manfaat. Terutama bagi penulisnya sendiri. Salam.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar