Rosneft Dihukum AS, Nasib Kilang Tuban di RI Terancam?

Rosneft Dihukum AS, Nasib Kilang Tuban di RI Terancam?

Advertisement

Proyek Kilang Tuban Tetap Berjalan Meskipun Ada Sanksi terhadap Rosneft

Proyek Kilang Tuban di Indonesia, yang salah satu pemegang sahamnya adalah perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft, tetap berjalan meskipun Rosneft baru saja mendapatkan sanksi dari pihak AS. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa proyek ini tidak terganggu oleh situasi tersebut.

Kilang Tuban akan dikerjakan bersama oleh mitra asal Rusia, yaitu Rosneft dan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Pemerintah masih melakukan evaluasi ulang mengenai rencana investasi pada megaproyek Grass Root Refinery (GRR) di Jawa Timur. Hal ini dilakukan untuk memastikan kelayakan dan keberlanjutan proyek tersebut.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah bersama Pertamina akan fokus mengeksekusi proyek Kilang Tuban karena merupakan salah satu kebutuhan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional. Ia menjelaskan bahwa kerja sama antara Pertamina dan Rosneft masih berlangsung dan sedang dalam pembahasan.

Menyangkut kilang yang selama ini kerja sama antara Pertamina dan Rosneft, sekarang masih dalam proses, bahwa plan A dan plan B semuanya akan dalam pembahasan, ujar Bahlil saat berada di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Bahlil juga menilai bahwa sanksi yang diberikan AS kepada Rosneft tidak akan berdampak signifikan terhadap proyek Kilang Tuban. Namun, ia mengakui bahwa saat ini Pertamina dan Rosneft masih dalam proses pertimbangan lebih lanjut.

Adapun, FID (Final Investment Decision) untuk proyek ini ditargetkan rampung pada kuartal IV tahun 2025. Tenang aja, banyak jalan menuju surga. Jangan terlalu khawatir berlebihan ya. Kita sudah siasati, ujar Bahlil.

Evaluasi Investasi yang Masih Berlangsung

Menurut Bahlil, Kilang Tuban belum bisa segera berjalan karena pemerintah masih melakukan evaluasi terhadap keekonomian proyek tersebut. Ia menjelaskan bahwa setelah dihitung kembali, antara investasi dan nilai ekonominya masih terjadi review kembali.

Nah, sekarang kenapa belum jalan? Setelah dihitung kembali antara investasi dan nilai ekonominya masih terjadi review kembali lah, kata Bahlil beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan bahwa perhitungan tersebut sangat penting. Sebab, nilai investasi dari proyek Kilang Tuban cukup besar. Terlebih, belakangan nilai investasi proyek tersebut meningkat secara signifikan.

Tercatat, nilai investasi proyek tersebut kini mencapai angka US$23 miliar atau setara Rp377,38 triliun (asumsi kurs Rp16.408 per US$). Angka ini lebih tinggi dibandingkan rencana awal yang senilai US$13,5 miliar atau Rp205,05 triliun.

Sampai dengan sekarang kita lagi melakukan evaluasi terhadap investasinya. Memang investasinya cukup gede di awal itu, ucap Bahlil.

Tantangan dan Strategi Pemerintah

Meski ada tantangan, pemerintah tetap optimis bahwa proyek Kilang Tuban akan dapat diselesaikan sesuai rencana. Dengan nilai investasi yang sangat besar, proyek ini menjadi salah satu prioritas utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Pemerintah juga telah mempersiapkan berbagai strategi untuk menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul. Salah satunya adalah dengan melakukan evaluasi berkala terhadap proyek dan memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan demikian, proyek Kilang Tuban tetap menjadi bagian dari rencana strategis pemerintah dalam mengembangkan sektor energi di Indonesia.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar