
Renungan Harian Kristen: Tuhan Memberkati Keluarga
Renungan Harian Kristen kali ini mengambil tema "Tuhan Memberkasi Keluarga" yang merujuk pada Kitab Amsal 3:27-35. Renungan ini berdasarkan Alkitab dan ajaran iman Kristen, dengan sumber utama adalah Alkitab - LAI Terjemahan Baru Edisi 2 (TB2).
Keluarga merupakan salah satu bentuk ciptaan terindah dari Tuhan. Dalam kehidupan manusia, keluarga menjadi pondasi utama bagi pertumbuhan, pengasuhan, dan penguatan iman. Namun, tidak semua keluarga berjalan mulus. Ada keluarga yang mengalami konflik, perceraian, ketidaksetiaan, bahkan kekerasan. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga tidak sempurna, tetapi Tuhan tetap memberikan harapan dan jalan untuk pemulihan.
Kehidupan Keluarga yang Dinamis
Keluarga memiliki dinamika yang berubah-ubah, baik dalam suasana suka maupun duka. Tidak ada sukacita yang sebesar sukacita dalam keluarga, tetapi juga tidak ada penderitaan yang lebih dalam daripada penderitaan di dalam keluarga. Ini menjadi bagian dari desain Allah, di mana relasi dalam keluarga selalu diwarnai oleh perubahan, baik secara emosional maupun spiritual.
Namun, dalam situasi sulit, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan mampu memberikan pemulihan. Nabi Yesaya mengingatkan kita untuk mengoreksi kesalahan diri sendiri, bukan hanya menuntut berkat dari Tuhan. Ia mengajarkan kita untuk menyerukan fakta dan meminta tolong, serta menjauhi sikap menunjuk-nunjuk atau memfitnah sesama. Sebaliknya, Tuhan menghendaki kita untuk memberi makan orang lapar dan membantu orang yang tertindas.
Bagian Kita dalam Menerima Berkat Tuhan
Pemulihan dalam keluarga tidak hanya bergantung pada tindakan Tuhan, tetapi juga pada upaya kita sendiri. Ayat 9-10 dalam Kitab Amsal mengingatkan kita bahwa berkat Tuhan sudah tersedia, tetapi sering kali terhalang oleh kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus sadar akan bagian kita dalam mewujudkan kebaikan, kasih, dan pengampunan dalam keluarga.
Dengan melaksanakan kehendak Tuhan, kita bisa menggeser penghalang yang mencegah kita menerima berkat-Nya. Misalnya, dengan melakukan hal-hal seperti saling menghargai, bersabar, mengampuni, dan melindungi sesama anggota keluarga, kita dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan penuh kasih.
Pembelajaran dari Pengalaman Buruk
Pengalaman buruk dalam keluarga sering kali berulang di masa depan. Namun, ini bisa menjadi pelajaran penting untuk membangun keluarga yang lebih baik. Dengan belajar dari masa lalu, kita bisa memastikan bahwa keluarga masa depan kita tidak mengalami kesamaan masalah yang sama.
Nabi Yesaya menyebutkan bahwa kita harus membangun dari reruntuhan masa lalu, sehingga setiap anggota keluarga dapat kembali tinggal dalam rumah yang penuh kasih dan damai. Inilah harapan yang diberikan Tuhan kepada kita semua.
Kesimpulan
Berkat Tuhan tersedia bagi setiap keluarga, tetapi kita sendirilah yang sering menghalanginya. Dengan kesadaran, usaha, dan komitmen untuk menjalani ajaran iman Kristen, kita dapat menciptakan keluarga yang sehat, penuh kasih, dan dipenuhi berkat Tuhan.
Komentar
Kirim Komentar