Pengalaman Kuliner yang Menggabungkan Sejarah dan Rasa Nusantara
Di balik kehidupan kota Bogor yang ramai, terdapat satu tempat kuliner yang menawarkan pengalaman makan yang unik. Bumi Samboja, sebuah restoran yang berada di dalam bangunan rumah tua bergaya kolonial Belanda dengan usia lebih dari 107 tahun. Bangunan ini dulunya adalah rumah keluarga yang telah ditinggali selama sekitar 70 tahun, hingga akhirnya diubah menjadi restoran pada Juli 2024.
Owner Bumi Samboja, Astari (27) menjelaskan bahwa rumah bersejarah ini sudah ditinggali oleh keluarganya selama tujuh dekade. Ide membuka restoran muncul dari keinginan untuk menghidupkan kembali rumah yang sempat kosong selama tiga tahun. Alih-alih menjual, Astari memilih mengubahnya menjadi restoran dengan konsep rumah nenek agar pengunjung merasakan suasana hangat seperti di rumah sendiri.
Berbekal pengalaman kuliah S2 di Inggris dan hobi memasak, Astari terinspirasi untuk membuka usaha kuliner setelah kembali ke Indonesia. Ia ingin membantu sang ibu sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Tidak hanya bangunannya yang unik, menu di Bumi Samboja juga menawarkan perpaduan cita rasa Nusantara dengan inovasi modern. Salah satu menu andalan adalah Bubur Iintas Negara, yang memadukan konsep bubur Tionghoa dengan sentuhan Jepang melalui tambahan katsuobushi khas takoyaki. Ada pula Rawon khas Banyuwangi yang merupakan resep turun-temurun dari nenek Astari sejak tahun 1970. Sementara itu, Nasi Sei Sapi, olahan daging asap khas Nusa Tenggara Timur, menjadi favorit pelanggan karena rasanya yang khas.
Menu penutup yang paling populer adalah Ubi Crme Brulee, dessert yang dibuat dari ubi Cilembu dan diolah ala Prancis. Banyak yang bilang Ubi Crme Brulee kami paling enak dibanding yang lain, bahkan ada pengunjung dari Bandung dan Jakarta yang datang khusus untuk mencobanya, ucap Astari.
Untuk minuman, Bumi Samboja menawarkan deretan menu estetik seperti Strawberry Matcha Latte, Summer Campus Latte, dan Bersenjelian. Bersenjelian adalah minuman bunga telang yang berpadu dengan jeruk dan leci, menarik perhatian karena warna dan rasanya yang lembut.
Harga menu di Bumi Samboja tergolong ramah di kantong. Minuman seperti Strawberry Matcha Latte dibanderol hanya Rp.38.000, sementara hidangan utama seperti bubur dan rawon dibanderol dengan harga terjangkau bagi wisatawan maupun warga lokal.
Dalam menjaga otentisitas rasa, Astari tetap mempertahankan resep tradisional dan mempercayakan proses memasak pada juru masak berpengalaman yang telah bekerja bersama keluarganya selama puluhan tahun. Hal ini menjadi salah satu rahasia kelezatan setiap hidangan yang tersaji di Bumi Samboja.
Menurut Astari, tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis ini justru datang dari aspek promosi. Lokasi yang berada di dalam kompleks membuat restoran ini sempat kurang dikenal di awal pembukaan. Awalnya sepi, tapi setelah promosi digital dan sempat diliput beberapa media, kini pengunjung mulai ramai, bahkan banyak yang datang dari luar kota, ucap Astari.
Salah satu pengunjung, Helma, warga Kota Bogor, mengaku jatuh cinta pada suasana dan konsep restoran ini.

Tempat ini benar-benar unik dibanding resto lain, karena dibuat dari rumah nenek langsung. Interiornya klasik banget dan bikin nyaman. Makanannya juga beda, ada menu yang dibuat dari bunga dan ternyata bisa dimakan, ucap Helma.
Helma juga menambahkan bahwa Bumi Samboja menawarkan pengalaman makan yang sulit ditemukan di tempat lain. Karena, rasa makanannya memadukan tradisional dan modern.
Meski baru berdiri, Bumi Samboja telah mencuri perhatian banyak pecinta kuliner dan bahkan sudah beberapa kali diliput media lokal. Astari berharap tempat ini bisa menjadi destinasi kuliner wajib di Bogor yang dikenal luas oleh masyarakat.
Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi makan di rumah tua dengan sentuhan rasa khas Indonesia, jangan lewatkan Bumi Samboja. Lokasi ini berada di Jalan Semboja No.10, Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. Patokannya komplek Semboja.
Dengan konsep rumah tua bergaya Belanda, menu otentik Nusantara, dan suasana hangat nan klasik, Bumi Samboja menjadi bukti bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa tetapi juga perjalanan, kenangan, dan cinta terhadap budaya Indonesia.
Komentar
Kirim Komentar