Rajungan Cirebon Diserbu Amerika, KKP Ingatkan Nelayan Soal Legalitas dan Konservasi

Rajungan Cirebon Diserbu Amerika, KKP Ingatkan Nelayan Soal Legalitas dan Konservasi

Rajungan Cirebon Diserbu Amerika, KKP Ingatkan Nelayan Soal Legalitas dan Konservasi

Rajungan Cirebon Menarik Perhatian Pasar Amerika Serikat

Rajungan asal Cirebon kembali menarik perhatian pasar Amerika Serikat dari perairan utara Jawa. Namun di balik tingginya permintaan ekspor tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengingatkan para nelayan untuk tetap memperhatikan aspek legalitas dan keberlanjutan dalam penangkapan ikan.

Advertisement

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menyampaikan bahwa nelayan di Cirebon perlu beradaptasi dengan standar internasional agar hasil tangkapan mereka dapat diterima di pasar global. Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat kini menerapkan aturan ketat terhadap produk laut yang mereka impor.

Alat tangkap harus ramah lingkungan, kapal nelayan wajib terdata, dan setiap spesifikasinya harus jelas. Negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat sudah mensyaratkan alat tangkap yang ramah lingkungan, kapal harus terdata, hingga spesifikasinya jelas, ujar Latif saat diwawancarai usai menghadiri Tasyakuran Hari Ulang Tahun KKP ke-26 di TPI Kejawanan Cirebon, Minggu (26/10/2025).

Latif menegaskan bahwa KKP saat ini sedang gencar memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada nelayan di berbagai daerah, termasuk Cirebon, agar mereka mampu bertransformasi menuju praktik penangkapan berstandar global. Sekarang kapal-kapal itu sudah ada tanda-tanda kapalnya, ada rincian gross tonnage (GT), ada spesifikasinya, jelas dia.

Total produksi hasil tangkapan ikan nasional pada 2024 mencapai sekitar 7 juta ton, sementara pada Oktober 2025 ini angkanya sudah menyentuh 5 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebagian besar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Amerika itu paling besar rajungan yang bisa diterima dari Indonesia. Nilai ekspornya tinggi, sayang kalau ikan kita banyak tapi hanya dikonsumsi domestik, katanya.

Meski begitu, ia mengakui bahwa sektor perikanan tangkap Indonesia masih berada dalam masa transisi dari sistem konvensional ke sistem modern. KKP terus melakukan pembenahan agar nelayan bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku di pasar global. Kita pelan-pelan mentransformasi saudara-saudara kita nelayan supaya mereka bisa mengikuti aturan ini, ujarnya.

Selain itu, Latif juga menyoroti pentingnya konservasi sumber daya laut, seperti pemeliharaan mangrove dan pengendalian penangkapan ikan, demi menjaga keberlanjutan ekosistem laut di masa depan. Konservasi kita perbaiki, mangrove kita baguskan. Ke depan program penangkapan ikan ini akan semakin dikendalikan, yang ditinggikan adalah budidaya, ucap Latif.

Bagi Latif, keberhasilan ekspor rajungan Cirebon ke Amerika bukan semata soal ekonomi, tetapi juga ujian bagi nelayan lokal untuk naik kelas menjadi pelaku perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga berdaya saing di level dunia.

Langkah-Langkah yang Dilakukan oleh KKP

Berikut beberapa langkah yang dilakukan oleh KKP dalam mendukung nelayan dan meningkatkan kualitas hasil tangkapan:

  • Pelatihan dan Sertifikasi: KKP memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada nelayan agar mereka mampu beradaptasi dengan standar internasional.
  • Pemantauan Kapal Nelayan: Setiap kapal nelayan harus terdata dan memiliki spesifikasi yang jelas.
  • Penggunaan Alat Tangkap Ramah Lingkungan: KKP mendorong penggunaan alat tangkap yang tidak merusak lingkungan laut.
  • Konservasi Sumber Daya Laut: KKP fokus pada konservasi mangrove dan pengendalian penangkapan ikan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
  • Peningkatan Budidaya Perikanan: KKP menekankan pentingnya budidaya perikanan sebagai alternatif dari penangkapan tradisional.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar