
Pikiran Rakyat Bengkulu
Saham dari perusahaan tekstil PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) menjadi sorotan para investor dalam seminggu terakhir. Saham ini berhasil masuk dalam daftar tiga besar Top Gainer mingguan (20-24 Oktober 2025).
Harga saham SSTM ditutup dengan kenaikan signifikan sebesar +58,87% pada level Rp 448 per lembar, naik dari harga Rp 282 pada penutupan pekan sebelumnya. Berbeda dengan saham RISE (rights issue) atau BULL (private placement), lonjakan harga SSTM tidak disebabkan oleh pengumuman aksi korporasi baru dalam seminggu terakhir. Maka muncul pertanyaan, apa yang menjadi pemicu kenaikan tersebut?
Jawabannya terletak pada struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi dan minimnya jumlah saham yang beredar di pasar (free float).
Saham yang Tipis Dikuasai Dua Pihak
Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 30 September 2025 yang dirilis di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), terungkap bahwa kepemilikan saham SSTM sangat terkonsentrasi. Lebih dari 81% saham hanya dipegang oleh dua pihak utama:
- PT. Sunsonindo Menggenggam 480.000.000 lembar (40,9938%)
- Sundjono Suriadi (Komisaris) Menggenggam 477.877.681 lembar (40,8125%)
Jika dijumlahkan, kedua pemegang saham ini menguasai total 81,80% dari seluruh saham SSTM.
Akibatnya, jumlah saham yang benar-benar beredar di kalangan investor publik (masyarakat) sangat kecil. Laporan tersebut mencatat bahwa jumlah saham free float SSTM hanya sebesar 89.395.916 lembar saham, atau setara 7,63% dari total saham tercatat.
Saham dengan free float yang "tipis" atau kecil seperti ini cenderung memiliki likuiditas rendah. Hal ini membuat harga sahamnya sangat sensitif dan mudah bergerak liar. Bahkan transaksi dalam volume yang tidak terlalu besar saja sudah cukup untuk memicu volatilitas harga yang ekstrem, menjelaskan mengapa SSTM bisa melonjak hingga +58,87% dalam sepekan.
Faktor Konsentrasi Saham dan Likuiditas
Konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi pasar. Di satu sisi, hal ini bisa memperkuat kontrol pemegang saham besar terhadap kebijakan perusahaan. Namun, di sisi lain, minimnya saham yang beredar di pasar membuat harga saham rentan terhadap spekulasi dan fluktuasi yang cepat.
Investor perlu memahami risiko yang terkait dengan saham yang memiliki free float rendah. Meski kenaikan harga bisa terjadi secara drastis, fluktuasi tersebut juga bisa berpotensi menimbulkan kerugian jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Penting untuk Mengetahui Risiko Investasi
Artikel ini disajikan hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli atau menjual saham atau aset investasi apa pun.
Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Investasi saham memiliki risiko kerugian. Pembaca disarankan untuk melakukan riset lebih lanjut (Do Your Own Research/DYOR) dan mengambil keputusan investasi secara bijak.
Komentar
Kirim Komentar